BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Memasuki
abab
ke 21 ini, pendidikan memiliki peran yang amat penting dalam
mengubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu pendidikan mendapatkan perhatian yang serius dan selalu didiskusikan
pada berbagai kesempatan oleh para pakar pendidikan agar proses maupun hasil
lembaga pendidikan mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan yang dihadapi. Evaluasi terhadap proses maupun hasil pendidikan ini dengan
mempertimbangkan berbagai aspek
dan dimensi kehidupan sosial masyarakat agar memberikan kontribusi yang berarti bagi keberlangsungan hidup manusia sebagai subyek dan obyek pendidikan
itu sendiri. Hasil dari berbagai kajian dan evaluasi tersebut memberikan suatu implikasi
berupa peluang untuk mendesain kembali sistem dan pola pendidikan
namun tanpa mengubah hakikat pendidikan.
Undang-undang
Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20
Tahun 2003 (2003 : 4), memberikan penjelasan bahwa pendidikan merupakan usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian, kecerdasan, keterampilan bagi
dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Lebih lanjut, Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 (2003 : 5 - 6), menjelaskan bahwa fungsi pendidikan nasional
adalah mengembangkan kepribadian dan membentuk watak serta peradapan bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya kompetensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut,
maka proses pembelajaran
didesain sedemikian
rupa agar dapat berjalan secara
efektif dan efisien demi terjaminnya sumber daya manusia yang berkualitas.
Implikasi
dari defenisi dan tujuan pendidikan ini bahwa pendidikan sebagai salah satu
kebutuhan penting manusia untuk memperoleh pengetahuan, pembentukan pribadi dan
keterampilan agar mampu berinteraksi dengan lingkungan dalam pemenuhan
kebutuhan dan mengekspresikan diri.
Sekolah dasar sebagai salah satu lembaga pendidikan formal yang mengemban
tugas membina perilaku dan sikap serta penanaman nilai-nilai hidup agar manusia
mengalami perubahan menjadi dewasa sehingga dapat berinteraksi dalam suatu
masyarakat serta mampu beradaptasi dengan tuntutan dunia yang kompleks. Lebih
dari itu, Tapung (2012 : 75) memberikan pemikiran tentang pentingnya pendidikan
bagi individu dalam kelompok masyarakat bahwa melalui pendidikan, manusia dapat
hidup bersama membentuk suatu komunitas dan memperkuat hubungan sosial. Sekolah
dasar juga berkewajiban mengambil bagian dalam pencapaian tujuan pendidikan untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa yang diakomodir dalam tujuan pendidikan nasional,
sebagaimana yang telah dituangkan dalam Standar Isi (2006 : 12) bahwa “Tujuan
pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian,
akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan
lebih lanjut.” Dengan demikian proses pendidikan di sekolah dasar dalam rangka memberikan
bekal bagi peserta didik baik pengetahuan, sikap maupun keterampilan dasar
untuk mempersiapkan diri mengikuti pendidikan pada jenjang selanjutnya.
Senada dengan pemikiran ini, Tapung (2012
: 65) memberikan penegasan betapa pentingnya sebuah
proses pendidikan bagi out put
pendidikan bahwa tujuan jangka panjang pendidikan adalah untuk menghidupkan,
melestarikan dan memperbaiki tatanan kehidupan yang ada dengan cara mengajar
setiap siswa bagaimana cara menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari
secara efektif. Pemikiran ini memberikan implikasi bahwa seorang pendidik mengemban tugas berat untuk mampu semaksimal
mungkin membekali peserta didik bukan hanya pengetahuan untuk menguasasi materi yang akan diujikan pada saat evaluasi tetapi juga
memberikan pendidikan hidup berupa keterampilan, penanaman nilai dan karakter agar memperoleh perubahan positif
yang dapat diaplikasikan dalam hidup kesehariannya di masyarakat.
Pembelajaran IPS di sekolah dasar bertujuan agar peserta
didik memiliki pengetahuan, kemampuan dan keterampilan serta nilai-nilai hidup
yang sesuai dengan tuntutan masyarakat. Pada masa yang akan datang peserta
didik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global yang
selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata pelajaran IPS
dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan menganalisis terhadap kondisi sosial masyarakat yang dinamis.
Pembelajaran IPS di sekolah dasar menekankan pada aspek keterampilan dasar menemukan
peristiwa sejarah kehidupan manusia dan gelaja alam yang dihadapi serta
memecahkan masalah-masalah sosial baik yang sedang dihadapi
maupun masalah kehidupan
masa lalu dan masa yang akan datang.
Mengingat pentingnya tujuan dan esensi pendidikan Ilmu Pengetahuan
Sosial; Hasan dan Kosasih, (Solihatin, et
al., 2005 : 1) menegaskan bahwa pelaksanaan proses pembelajaran IPS harus mampu
mempersiapkan, membina dan membentuk kemampuan peserta didik untuk menguasai
pengetahuan, pembentukan sikap dan nilai serta kecakapan dasar yang diperlukan
bagi kehidupan di masyarakat. Demi tercapainya tujuan IPS tersebut harus
didukung oleh iklim pembelajaran yang kondusif yang mestinya dikembangkan oleh
guru untuk memberikan pengaruh positif terhadap keberhasilan dan kegairahan
belajar siswa. Kualitas pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan
ketepatan guru dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran untuk
dikembangkan menjadi metode yang bervariasi.
Namun tuntutan ideal pembelajaran IPS ini masih belum optimal
dikembangkan pada beberapa satuan pendidikan. Tapung (2012 : 76), memberikan
pandangan tentang persoalan pendidikan Indonesia bahwa kemunduran pendidikan di
Indonesia akhir-akhir ini selain disebabkan masalah teknis pengelolaan oleh stake holder pendidikan dan kurangnya fasilitas, juga paling penting
adalah masalah model dan metode pembelajaran yang isinya kurang edukatif,
kurang membebaskan dan membentuk kesadaran peserta didik. Senada dengan pendapat
ini, Nurhadi (Makhrus, et al., 2008 : 2) mengemukakan bahwa sejauh ini
pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai
perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Selain itu pelaksanaan kegiatan
pembelajaran di sekolah dasar didominasi pada penekanan aspek pengetahuan serta
kurangnya desain pembelajaran yang mengacu pada keterlibatan aktif peserta
didik itu sendiri. Pembelajaran yang demikian tentunya kurang efektif,
munculnya rasa jenuh dan membosankan bagi peserta didik. Iklim pembelajaran
inilah yang disoroti dalam hasil penelitian yang dilakukan Suwarna (Solihatin,
et al. 2005 : 2), bahwa pembelajaran IPS tidak meransang peserta didik.
Sejalan
dengan pendapat ini, didukung oleh hasil pengamatan dan pengalaman penulis selama menjadi guru di
sekolah dasar bahwa pembelajaran IPS masih belum optimal melibatkan peserta
didik, peran guru masih dominan sehingga peserta didik bersikap pasif.
Selain itu hasil wawancara langsung penulis dengan guru mata pelajaran IPS di SDK Tentang II
pada bulan Maret 2013, mengungkapkan
bahwa, “Selama ini pelaksanaan pembelajaran IPS belum secara memadai dan belum
mencapai hasil yang maksimal sesuai tuntutan kurikulum maupun kompetensi yang
hendak dicapai siswa. Hal ini terlihat dari nilai ketuntasan mata pelajaran IPS
pada ujian semester I kelas IV tahun pelajaran 2012/2013
yang secara klasikal
hanya mencapai 56,41 %, yaitu 22 dari 39 siswa kelas IV mencapai KKM 65 yang
telah ditetapkan oleh SDK Tentang II. Sementara target ketuntasan secara
klasikal yang ingin dicapai mata pelajaran IPS SDK Tentang II adalah minimal
mencapai 70 %. Ini berarti bahwa minimal 27 dari 39 siswa kelas IV mencapai nilai KKM 65.”
Menurut
guru mata pelajaran IPS beberapa kemungkinan faktor yang menyebabkan belum
tercapainya ketuntasan klasikal tersebut, antara lain:
1)
Kurang
tersedianya sarana dan prasarana yang memadai termasuk media dan alat peraga
yang menarik perhatian siswa untuk belajar.
2)
Banyaknya konsep-konsep materi hafalan yang harus dipelajari siswa.
3)
Faktor
guru yang mengajar rangkap mata pelajaran berbeda maupun merangkap kelas berbeda sehingga
berpengaruh pada kesiapan guru dalam mendesain metode pembelajaran yang
bervariasi.
Selain faktor di
atas, berdasarkan berbagai sumber dan pengamatan melalui pengalaman penulis
sendiri selama menjadi guru di sekolah dasar dan
pengalaman yang sama dialami penulis
selama melaksanakan kegiatan Program Pemantapan Lapangan (PPL) pada bulan
November 2012 di SDK Tentang II desa Tentang kecamatan Ndoso kabupaten
Manggarai Barat tahun pelajaran 2012/2013,
ditemukan beberapa hal yang menyebabkan rendahnya minat
dan motivasi siswa terhadap pembelajaran IPS di sekolah dasar, yaitu:
1)
Desain
pembelajaran yang dimonopoli oleh peran guru inilah sebagai model pembelajaran
konvensional yang diwarnai kegiatan pembelajaran berpusat pada guru (teacher centre) sedangkan siswa bersifat
pasif (mendengar penjelasan guru) dengan pola interaksi satu arah (dari guru ke
siswa).
2)
Siswa
kurang dilatih untuk berdiskusi dalam kelompok kecil untuk menemukan pengalaman
belajar, menyumbangkan ide dan saling bertanya sehingga kurang membangkitkan
semangat dan minat siswa.
3)
Evaluasi
pada proses belajar mengajar hanya menyentuh aspek kognitif, dengan tes sebagai
alat evaluasi sesuai dengan materi yang telah diberikan.
Realita
yang ditemukan di atas memberikan gambaran tentang situasi pembelajaran Ilmu Pengetahuan
Sosial bahwa keterlibatan siswa belum secara aktif dalam mengikuti pembelajaran; keterampilan dasar yang dituntut dalam pembelajaran IPS
pun masih memprihatinkan. Hal inilah diduga akan mempengaruhi hasil belajar IPS
yang belum mencapai standar ketuntasan secara klasikal yang ingin dicapai.
Pembelajaran
kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat membuat siswa
lebih tertarik menemukan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi pada materi
pembelajaran secara berkelompok. Model pembelajaran ini telah berhasil mengubah prestasi belajar
dan kinerja siswa serta cocok pada materi-materi yang membutuhkan keterlibatan
peserta didik secara aktif. Hal ini dikemukakan oleh Payong (2009 : 16) bahwa pembelajaran
kooperatif dari berbagai kajian telah memperlihatkan efektivitasnya dalam
meningkatkan pemahaman yang lebih baik untuk siswa yang berasal dari berbagai
kultur yang berbeda.
Selanjutnya,
Slavin (Solihatin, et al., 2005 : 4), menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif
merupakan suatu model pembelajaran yang dalam pelaksanaannya siswa belajar dan
bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif dengan anggotanya
terdiri dari 4 sampai 6 orang, dan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen.
Dengan demikian model pembelajaran ini efektif jika dalam kelas yang terdiri
dari peserta didik dengan kemampuan rendah, sedang, dan tinggi. Siswa yang
memiliki kemampuan tinggi dapat membantu teman yang memiliki kemampuan rendah
dan sedang. Peserta didik dapat saling berdiskusi menemukan materi dan
memecahkan masalah yang ingin dipecahkan secara bersama.
Ada enam tipe pembelajaran kooperatif yaitu: tipe STAD (Student
Teams Achievement Division), Jigsaw, Investigasi Kelompok (Group Investigation), Make a Macth (membuat pasangan), TGT (Teams Games Tournamens) dan Struktural
(Rusman, 2010 : 213). Keenam model ini merupakan variasi dari pembelajaran
kooperatif tanpa mengubah prinsip dasar dari pembelajaran kooperatif. Menurut
Isjoni (2007 : 50), pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement
Division (STAD) dan Jigsaw yang
paling banyak dikembangkan oleh para guru. Pembelajaran kooperatif tipe STAD
ini dikembangkan oleh Slavin (Isjoni, 2007 : 50 - 51) sebagai salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada
adanya aktivitas dan interaksi antar siswa untuk saling memotivasi dan membantu dalam
menguasai materi pembelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.
Rusman (2010 : 215 - 215), secara rinci menjelaskan enam
langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD, yaitu: penyampaian tujuan dan
motivasi, pembagian kelompok, presentasi dari guru, kegiatan belajar dalam tim
(kerja tim), kuis (evaluasi), dan penghargaan tim. Berdasarkan langkah-langkah
kegiatan pembelajaran ini, maka guru berperan dalam merumuskan tujuan pembelajaran yang meliputi tujuan
akademik dan tujuan keterampilan bekerja sama, menentukan jumlah anggota dalam
kelompok belajar, menentukan tempat duduk siswa, merancang bahan untuk
meningkatkan saling ketergantungan positif. Jadi, hakikat pembelajaran
kooperatif tipe STAD adalah kerjasama antar siswa secara tim dalam kelompok
yang heterogen sehingga tujuan pembelajaran dan kompetensi pun tercapai melalui
kerja sama tim.
Bertolak dari
tuntutan ideal pembelajaran IPS di sekolah dasar yang dihadapkan pada
realita yang terjadi, maka penulis tergugah untuk mencari solusi dengan
menawarkan sebuah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk
meningkatkan hasil belajar peserta didik. Oleh karena itu penulis mengangkat judul, “UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
IPS SISWA KELAS IV SDK TENTANG II DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT
DIVISION (STAD) PADA MATERI PERKEMBANGAN TEKNOLOGI.”
1.2 Identifikasi
Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, beberapa masalah
yang menyebabkan pembelajaran IPS belum maksimal sesuai tuntutan ideal yang
diharapkan oleh kurikulum. Masalah-masalah tersebut diduga oleh beberapa faktor
yaitu:
1)
Kegiatan
belajar mengajar masih didominasi guru sebagai sumber utama pengetahuan.
2)
Kegiatan
pembelajaran atau penyajian materi dominan menggunakan metode ceramah.
3)
Suasana
pembelajaran kurang kondusif menyebabkan siswa kurang terlibat secara aktif
dalam kegiatan pembelajaran.
4)
Model
dan metode pembelajaran yang kurang relevan.
5)
Rendahnya
hasil belajar siswa dalam pembelajaran
IPS.
1.3 Fokus
Masalah
Dari masalah-masalah yang telah dirumuskan dalam
identifikasi masalah, pada tulisan ini
fokus masalah yang ingin dikaji, yaitu “Rendahnya hasil belajar siswa kelas IV di SDK Tentang
II pada pembelajaran IPS.”
1.4 Perumusan Masalah
Masalah yang ingin
dikaji dalam tulisan ini, yaitu: “apakah penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa
kelas IV SDK Tentang II tahun pelajaran 2012/2013 pada
materi perkembangan teknologi?”
1.5 Tujuan
Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan
model pembelajaran kooperatif
tipe Student Teams
Achievement Division (STAD) pada materi perkembangan
teknologi di SDK Tentang II tahun
pelajaran 2012/2013.
1.6 Manfaat
Penulisan
Tulisan ini sekiranya dapat memberikan manfaat bagi
pihak-pihak terkait, yaitu:
1.
Bagi
Sekolah
Hasil tulisan ini kiranya dapat memberikan motivasi bagi sekolah
untuk bergiat lebih aktif dalam proses pembelajaran
dengan merencanakan strategi-strategi dalam memperbaiki
dan mengevaluasi kinerja sekolah khusunya berkaitan dengan kegiatan
pembelajaran. Selain itu, sekolah juga menyediakan sarana dan prasarana yang
mendukung keterlibatan aktif siswa dan tentunya tanggung jawab sekolah untuk
menciptakan citra positif melalui keberhasilan yang diraih.
2.
Siswa
Pemahaman siswa tentang materi pembelajaran IPS kiranya
dapat berubah dari anggapan IPS sebagai ilmu hafalan menjadi ilmu pengetahuan yang melatih cara berpikir dalam memecahkan masalah
serta memberikan bekal untuk hidup bermasyakat. Siswa dapat terlibat aktif
dalam proses pembelajaran dan mencapai hasil belajar yang sesuai dengan Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran IPS
yang telah ditentukan oleh SDK Tentang II tahun pelajaran 2012/2013. Lebih dari
itu, peserta didik tidak lagi beranggapan bahwa materi IPS sebagai kumpulan fakta yang harus dihafal melainkan pengembangan
keterampilan untuk menemukan dan memecahkan masalah yang dihadapai sehari-hari.
3.
Guru
Mendorong para guru agar memiliki kreativitas dalam menerapkan
berbagai model pembelajaran yang bervariasi dalam pelaksanaan pembelajaran di
sekolah dasar. Kiranya pembelajaran yang selalu didominasi oleh guru dapat
diubah menjadi pembelajaran yang didominasi oleh siswa serta keterampilan guru dalam membimbing kelompok kecil juga akan
bertambah. Selain itu, hasil tulisan ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan
bagi para guru untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD baik
pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) maupun pada mata pelajaran
lain yang relevan.
1.7 Defenisi Operasional
1) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan ilmu yang
mempelajari dan mengkaji sejumlah fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan
dengan isu sosial sebagai paduan dari disiplin ilmu sejarah, geografi, ekonomi,
sosiologi dan antropologi.
2) Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil
dari latihan dan pengalaman serta interaksi
individu dengan lingkungan.
3) Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh siswa
setelah melalui proses pembelajaran.
4) Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah model
pembelajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaboratif untuk mencapai
tujuan bersama secara tim.
5) Model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan model
pembelajaran berkelompok yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 5 orang yang bersifat heterogen, bekerja secara tim untuk
mencapai tujuan yang sama.
6)
Teknologi
adalah segala peralatan dan cara-cara atau sistem
yang diciptakan manusia untuk mempermudah hidupnya.
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ilmu Pengetahuan Sosial
2.1.1 Pengertian IPS
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata
pelajaran yang diberikan sejak tingkat sekolah dasar sampai pada perguruan
tinggi. Standar Isi (2006 : 128) menjelaskan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial
(IPS) mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang
berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang sekolah dasar mata pelajaran IPS
memuat materi sejarah, geografi, sosiologi dan ekonomi. Melalui mata pelajaran
IPS, peserta didik diarahkan untuk menjadi warga negara Indonesia yang
demokratis dan bertangung jawab.
Beberapa ahli dan pakar pendidikan mendefenisikan Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS), diantaranya:
1)
Sapriya
(2009 : 19), mengatakan bahwa IPS adalah nama mata pelajaran di tingkat sekolah
dasar dan menengah atau nama program studi di perguruan tinggi yang identik
dengan istilah “social studies” dalam
persekolahan di negara lain.
2)
Mulyono
(Taneo, et al., 2008 : 7), mengatakan
bahwa IPS adalah integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial, seperti
sosiologi, antropologi budaya, psikologi sosial, sejarah, geografi, ekonomi,
ilmu politik, dan sebagainya.
3)
Saidiharjo (Taneo, et
al., 2008 : 8), mengatakan bahwa IPS merupakan hasil kombinasi atau perpaduan dari sejumlah mata
pelajaran seperti geografi, ekonomi, sejarah, antropologi, dan politik.
Berdasarkan
definisi-definisi yang dikemukan oleh para ahli di atas, disimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan
ilmu pengetahuan yang mempelajari sejumlah fakta dan aspek-aspek sosial
kehidupan manusia
dengan kajian materi sebagai perpaduan ilmu dari mata
pelajaran geografi, ekonomi, sejarah, antropologi, sosiologi, dan
politik yang kemudian diolah berdasarkan
prinsip pendidikan dan program pengajaran pada setiap jenjang satuan lembaga
pendidikan.
2.1.2 Pembelajaran
IPS di Sekolah Dasar
2.1.2.1 Tujuan
Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
Standar Isi (2006 : 128 - 129), menjelaskan bahwa mata
pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan:
1) Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan
masyarakat dan lingkungan.
2) Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis,
rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan
sosial.
3) Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai
sosial kemanusiaan
4) Memiliki kemampuan berkomunikasi, kerjasama dan
berkompetesi dalam masyarakat yang mejemuk, di tingkat lokal, nasional dan
global.
Senada dengan tujuan yang dipaparkan dalam Standar Isi;
Fajar (2004 : 107) memberikan pemikiran bahwa tujuan pelajaran pengetahuam
sosial dan ilmu-ilmu sosial antara lain:
1)
Mengembangkan
kemampuan siswa dalam berpikir dan memahami disiplin ilmu-ilmu sosial serta
kemampuan prosesual dalam mencari informasi, mengelola informasi dan mengkomunikasikan
hasil temuan.
2)
Mengembangkan
kemampuan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan bangsa
termasuk tanggung jawab sebagai warga dunia.
3)
Pengembangan
sikap, nilai, norma, dan moral yang menjadi panutan siswa, pembentukan kebiasaan positif untuk
kehidupan pribadinya serta sikap positif terhadap diri untuk memacu
perkembangan diri sebagai pribadi, kemajuan masyarakat/bangsa, dan juga ilmu
pengetahuan.
4)
Menghendaki
agar program pengajaran mengkorelasikan bahkan mungkin harus mengintegrasikan
beberapa disiplin ilmu sosial, dalam unit program studi agar para siswa
memperoleh kesempatan untuk memecahkan konflik interpersonal maupun
antarpersonal
Jadi berdasarkan penjelasan di atas
dapat disimpulkan bahwa, dari aspek tujuan, inti pembelajaran IPS di sekolah
dasar adalah membekali peserta didik dengan sejumlah pengetahuan dan
keterampilan untuk mampu berpikir dan memecahkan persoalan tentang keseluruhan
aspek yang berkaitan keberlansungan hidup baik dalam memenuhi kebutuhan maupun
mengekspresikan diri dalam masyarakat.
2.1.2.2 Fungsi
Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) sebagai kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan
teknologi. Standar Isi (2006 : 40) menjelaskan bahwa kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan
teknologi pada sekolah dasar dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan
mengapresiasikan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan
kebiasaan berpikir dan berperilaku
ilmiah yang kritis, kreatif dan mandiri.
Dengan
demikian, pendidikan IPS di sekolah dasar harus merupakan proses penguasaan
sejumlah fakta dan konsep-konsep serta menanamkan pemahaman akan pentingnya
materi IPS dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu pendidikan IPS juga
merupakan bekal dasar dan fondasi bagi pendidikan selanjutnya serta sebagai
tahap awal untuk memberikan bekal kemampuan kepada siswa agar mampu berpikir
kritis, kreatif, logis dan berinisiatif dalam menghadapi tantangan di
masyarakat. Di sisi lain, mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan
pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial
masyarakat dalam memasuki masyarakat yang dinamis sebab pada masa yang akan
datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan
masyarakat global yang selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu,
pembelajaran IPS memberikan bekal bagi peserta didik menuju kedewasaan dan
keberhasilan hidup dalam masyarakat.
Pembelajaran
IPS di sekolah dasar menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami
sejumlah fakta, konsep dan generalisasi agar peserta didik dapat menanggapi isu
lokal, nasional, kawasan, dunia, sosial, budaya, ekonomi, lingkungan dan etika.
Selanjutnya siswa dapat menilai secara kritis perkembangan kehidupan masyarakat
dalam bidang IPS dan teknologi serta dampaknya. Lebih dari itu, untuk jangka
panjang peserta didik dapat memberi sumbangan terhadap kelangsungan
perkembangan IPS dan teknologi serta memilih karir yang tepat untuk
kehidupannya.
2.1.2.3
Ruang Lingkup Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
Standar Isi (2006 : 129) memaparkan ruang lingkup bahan
kajian IPS untuk sekolah dasar meliputi
aspek berikut :
1) Manusia, tempat dan lingkungan
2) Waktu, keberlanjutan, dan perubahan
3) Sistem sosial dan budaya
4) Perilaku ekonomi dan kesejahteraan
Berdasarkan ruang lingkup ini dapat dikatakan bahwa
pembelajaran IPS sangat kompleks dan bersifat dinamis serta mengalami perubahan
dari waktu ke waktu oleh karena ruang lingkup yang mengkaji keseluruhan aspek
sosial kehidupan manusia sebagai mahkluk sosial.
2.1.2.4 Karateristik Pembelajaran IPS di Sekolah
Dasar
Materi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) disusun secara
sistematis, komprehensif, dan terpadu (Standar Isi , 2006 : 40). Berdasarkan
pengertian, tujuan, dan ruang lingkup, maka Ilmu Pengetahuan Sosial memiliki
karateristik sebagai berikut:
1) Substansi materi mata pelajaran IPS merupakan
kumpulan/paduan dari ilmu sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi
2)
Materi
dan masalah-masalah yang dikaji dalam pembelajaran IPS selalu berkembang terus
menerus sesuai dengan perubahan kehidupan sosial masyarakat yang dihadapi.
Kedua
karateristik di atas dipertegas oleh Sapriya (2009 : 13) bahwa pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai pendidikan disiplin
ilmu dengan identitas bidang kajian eklektik yang dinamakan “an integrated system of knowledge”,”synthetic
discipline”, ”multidimensional”, dan
“kajian konseptual sistemik”
merupakan kajian (baru) yang berbeda dari kajian monodisiplin atau disiplin
ilmu “tradisional”.
Pemikiran
Saprya ini, memberikan sebuah implikasi bahwa pendidikan IPS memiliki kekhasan
dibandingkan dengan mata pelajaran lain sebagai pendidikan disiplin ilmu, yakni
kajian yang bersifat terpadu (integrated),
interdisipliner, multidimensional. Karakteristik IPS ini terlihat jelas dalam
rangkaian kegiatan pembelajaran IPS di sekolah dasar
sebagai mata pelajaran yang cakupan materinya semakin
meluas seiring dengan semakin kompleks dan rumitnya permasalahan sosial yang
memerlukan kajian secara terintegrasi dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial,
ilmu pengetahuan alam, teknologi, humaniora, lingkungan bahkan sistem
kepercayaan.
Jadi, hal penting dalam proses pembelajaran IPS yang
dirancang oleh guru di sekolah dasar yaitu guru berusaha semaksimal mungkin memadukan
berbagai kajian disiplin ilmu sosial menjadi materi IPS. Selain itu guru
dituntut untuk menyusun materi secara sistematis dengan mempertimbangkan
tingkat kemampuan siswa, serta perubahan kehidupan sosial yang dihadapi masyarakat.
2.1.2.5 Prinsip Pembelajaran
IPS di Sekolah Dasar
Pembelajaran IPS di sekolah dasar memiliki
prinsip-prinsip yang harus diperhatikan oleh guru dalam pelaksanaan
pembelajaran, agar kompetensi yang ingin dicapai terukur. Tercapainya
kompetensi oleh peserta didik merupakan indikator keberhasilan pembelajaran
IPS.
Fajar (2004 : 106)
menjelaskan bahwa standar kompetensi lintas kurikulum Ilmu Pengetahuan
Sosial adalah:
1)
Memiliki
keyakinan, menyadari serta menjalankan hak dan kewajiban, saling menghargai,
memberi rasa aman, sesuai dengan agama
yang dianutnya.
2)
Menggunakan
bahasa untuk memahami, mengembangkan dan mengkomunikasikan gagasan dan
informasi, serta untuk berinteraksi dengan orang lain.
3)
Memilih,
memadukan dan menerapkan konsep-konsep, teknik-teknik, pola, struktur dan hubungan.
4)
Memilih,
mencari
dan menerapkan teknologi dan informasi yang di perlukan dari berbagai sumber.
5)
Memahami
dan menghargai lingkungan fisik, makhluk hidup, teknologi dan menggunakan
pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai untuk mengambil keputusan yang tepat.
6)
Berpartisipasi,
berinteraksi dan berkontribusi aktif
dalam masyarakat dan budaya global, berdasarkan pemahaman konteks
budaya, geografis dan historis.
7)
Berkreasi
dan menghargai karyatistik budaya, dan intelektual serta menerapkan nilai-nilai
luhur untuk meningkatkan kematangan pribadi menuju masyarakat yang beradab.
8)
Berpikir
logis, kritis, dan lateral dengan menghitung potensi dan peluang untuk
menghadapi berbagai kemungkinan.
9)
Menunjukan
motivasi dalam belajar, percaya diri, bekerja mandiri dan bekerja sama dengan
orang lain.
Jadi, pembelajaran IPS semestinya dirancang dengan
memberikan motivasi kepada peserta didik sesuai taraf kemampuan awal yang
dimiliki, guru membimbing dan mengarahkan peserta
didik untuk bersama (secara individu
maupun kelompok) berusaha menemukan dan memecahkan masalah yang dihadapi
sehingga kompetensi akan tercapai. Lebih dari itu nilai sosial yang
dikembangkan, yaitu siswa dapat
berinteraksi dengan teman dan guru tanpa kaku tetapi luwes dan fleksibel.
2.2 Hasil
Belajar
2.2.1 Konsep
Dasar Belajar
Para
ahli dan pakar pendidikan memberikan banyak definisi tentang belajar
berdasarkan pemikiran dan hasil penelitian. Namun berbagai pemikiran yang
dikemukakan, memiliki kesamaan substansi yang walaupun penekanan-penekanan pada
aspek berbeda.
Pemikiran-pemikiran tersebut setidaknya telah memberikan jawaban tentang
pengertian, hakikat, tujuan, ciri-ciri, prinsip-prinsip dan faktor-faktor yang
mempengaruhi belajar.
Belajar
merupakan perubahan yang terjadi pada diri
individu dalam kebiasaan, pengetahuan, dan sikapnya. Barometer seseorang
mengalami proses belajar apabila terjadi perubahan dalam diri; dari tidak tahu
menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari kurang baik menjadi baik. Dengan demikian hal penting yang diperoleh
dari sebuah proses belajar adalah sebuah perubahan positif bagi individu yang
belajar. Suatu aktivitas yang mengharapkan perubahan tingkahlaku (behavioral change) pada diri individu
yang belajar merupakan hakekat belajar (Kunandar, 2008: 319). Perubahan
tingkahlaku terjadi sebagai hasil dari usaha individu yang belajar berinteraksi
dengan lingkungan, yaitu guru, teman dan sumber belajar.
Dengan
demikian seseorang belajar pada dasarnya untuk memperoleh informasi segala
sesuatu dari lingkungan, sejumlah pristiwa dan pengalaman-pengalaman yang
terjadi disekitarnya melalui interaksi dengan lingkungan pula. Peserta didik
mengetahui sesuatu melalui kegiatan belajar. Pendidik (guru) pun belajar untuk
dapat memahami peserta didiknya serta memperoleh sejumlah pengetahuan tentang
ilmu pengetahaun maupun mendalami permasalahan anak didik. Akhir dari kegiatan
belajar adalah suatu perubahan dalam diri seseorang yang ditunjukkan dengan
bertambahnya pengetahuan serta perubahan prilaku.
Beberapa ahli yang mengemukan teori tentang belajar dan
pembelajaran secara umum, diantaranya:
1) Sudjana (Rusman, 2010 : 1), belajar merupakan proses melihat, mengamati, dan
memahami sesuatu.
2) Rusman (2010 : 1), belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap
semua situasi yang ada di sekitar individu.
3) Sanjaya (2008 : 88), belajar sama dengan menghafal, ada
beberapa karakteristik yang melekat yaitu : (1) belajar berarti menambah
sejumlah pengetahuan; (2) belajar berarti mengembangkan kemampuan intelektual;
dan (3) belajar adalah hasil bukan proses.
4) Fontana (Senena, 2006 : 4), belajar adalah suatu proses
perubahan yang relatif tetap dalam perilaku individu sebagai hasil dari
pengalaman. Belajar adalah suatu perubahan dalam kemampuan yang bertahan lama
dan bukan berasal dari proses pertumbuhan.
5) Abdurrahman, (2009 : 37 - 38), belajar merupakan suatu
proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan
perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan belajar yang terprogram dan terkontrol
disebut kegiatan pembelajaran.
6) Morgan (Thobroni dan Mustofa, 2011 : 20), belajar adalah
setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai
suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
7) Pringgawidagda (Thobroni dan Mustofa, 2011 : 18),
pembelajaran adalah suatu perubahan perilaku yang relatif tetap dan merupakan
hasil praktik yang diulang-ulang. Pembelajaran memiliki makna bahwa subjek
belajar harus dibelajarkan bukan diajar. Subjek belajar yang dimaksud adalah
siswa atau disebut juga pembelajar yang menjadi pusat kegiatan belajar.
8) Rombepajung (Thobroni dan Mustofa, 2011 : 18),
pembelajaran adalah pemerolehan suatu mata pelajaran atau pemerolehan suatu
keterampilan melalui pelajaran, pengalaman atau pengajaran.
9) Thobroni dan Mustofa (2011 : 19), pembelajaran
membutuhkan sebuah proses yang disadari yang cenderung bersifat permanen dan
mengubah perilaku.
Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa
belajar adalah suatu aktivitas mental
dan fisik yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang
menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan/ intelektual, pemahaman keterampilan dan nilai-nilai yang
tidak dimiliki sebelumya. Secara singkat dapat dikatakan belajar adalah suatu
perubahan tingkah laku sebagai hasil dari latihan dan pengalaman serta
interaksi individu dengan lingkungan.
Kegiatan belajar yang diakomodir dan terstruktur dengan bimbingan guru untuk
membelajarkan peserta didik merupakan kegiatan pembelajaran. Jadi kegiatan pembelajaran bukan sekedar mentransfer
ilmu dari guru kepada siswa, melainkan suatu proses kegiatan interaksi antara
guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa.
Lebih lanjut, beberapa ahli dan pakar pendidikan
mengemukan teori dan pendapat belajar yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan Sosial, diantaranya:
1)
Edward
L. Thorndike (Sennen, 2003 : 2 - 3) mengemukakan beberapa hukum belajar yang
dikenal dengan sebutan law of effect.
Menurut Thorndike belajar akan lebih berhasil bila respon murid terhadap suatu
stimulus segera diikuti dengan rasa senang atau kepuasan. Rasa senang atau
kepuasan ini bisa timbul sebagai akibat anak mendapatkan pujian atau ajaran
langsung. Setelah anak berhasil melaksanakan tugasnya dengan tepat dan cepat,
pada diri anak muncul kepuasan diri sebagai akibat sukses yang diraihnya. Anak
memperoleh suatu kesuksesan yang pada gilirannya akan mengantarkan dirinya ke
jenjang kesuksesan berikutnya.
2)
David
Ausubel (Sennen, 2003 : 11), dengan teori belajar bermakna mengatakan bahwa
proses belajar terjadi jika siswa mampu mengasimilasikan pengetahuan yang dia
miliki dengan pengetahuan baru. Proses belajar terjadi melalui tahap-tahap
sebagai berikut:
· Memperhatikan stimulus yang diberikan
· Memahami makna stimulus
· Menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami
3) Dahar (Trianto, 2007 : 25), faktor yang paling penting
yang mempengaruhi belajar ialah apa yang telah diketahui siswa. Yakinilah ini
dan ajarlah ia demikian.
4) Rober Gagne (Ndiung, 2006 : 17 - 18), belajar merupakan
kegiatan yang kompleks, hasil belajar merupakan kapabilitas. Setelah belajar
orang memiliki pengetahuan, nilai dan sikap dan keterampilan. Timbulnya
kapabilitas dari stimulasi lingkungan dan proses kognitif dilakukan oleh pembelajar.
2.2.2 Tujuan,
Ciri –Ciri, dan Prinsip Belajar
2.2.2.1 Tujuan
Belajar
Motivasi
seorang indidu untuk belajar adalah keinginan untuk memperoleh pengetahuan, keteramplian dan
kecakapan lainnya untuk menunjang kehidupan dalam interaksi dengan
manusia lain. Hamalik (2008 : 73) menjelaskan tujuan belajar adalah:
1)
Sejumlah hasil belajar meliputi pengetahuan, keterampilan,
dan sikap-sikap yang baru yang diharapkan tercapainya oleh siswa;
2)
Suatu
deskripsi mengenai tingkahlaku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah
berlangsungnya proses belajar; dan
3) Cara yang akurat untuk menentukan hasil pembelajaran
Jadi, tujuan seseorang
belajar adalah memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap dan perubahan
tingkahlaku.
2.2.2.2 Ciri-ciri Belajar
Hal
utama belajar adalah proses untuk mengalami sebuah perubahan tingkahlaku yang
berlansung secara senggaja dan sadar. Hamalik (2008 : 49) memberikan pemikiran
bahwa bahwa belajar berbeda dengan kematangan. Melalui proses pertumbuhan, individu dapat mengalami perubahan tingkahlaku. Apabila perubahan tingkahlaku terjadi
tidak melalui latihan maka perubahan tersebut merupakan hasil dari kematangan
seorang individu bukan karena belajar. Namun tetap diakui bahwa banyak
perubahan tingkahlaku yang disebabkan oleh kematangan, tetapi juga tidak
sedikit perubahan tingkahlaku yang disebabkan oleh interaksi antara kematangan
dan belajar yang berlangsung melalui latihan.
Selain
belajar berbeda dengan kematangan, Hamalik
(2008 : 49) menambahkan bahwa belajar dibedakan dari perubahan fisik dan
mental. Perubahan tingkahlaku juga dapat terjadi disebabkan oleh terjadinya
perubahan fisik dan mental karena melakukan suatu perubahan berulangkali yang
mengakibatkan badan menjadi letih atau lelah.
Jadi belajar memiliki ciri adanya unsur kesengajaan dan
interaksi dengan lingkungan yang menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku.
Hasil belajar memberikan nilai tambahan
terhadap perubahan yang diperoleh karena kematangan dan perkembangan fisik
individu.
2.2.2.3
Prinsip-Prinsip Belajar
Kunandar (2008 : 324) menjelaskan beberapa prinsip-prinsip belajar, yaitu
sebagai berikut:
1)
Belajar
senantiasa bertujuan untuk mengembangkan prilaku siswa ke
arah hal yang
baik berdasarkan atas kebutuhan dan motivasi tertentu yang dilaksanakan melalui latihan, membentuk hubungan asosiasi, dan melalui
penguatan.
2)
Belajar
bersifat keseluruhan yang menitikberatkan pada pemahaman, dan berpikir kritis.
3)
Belajar
membutuhkan bimbingan, baik secara langsung oleh guru maupun secara tak
langsung melalui bantuan pengalaman pengganti.
4)
Belajar
dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri individu dan faktor dari luar diri
individu.
5)
Belajar
sering dihadapkan kepada masalah dan kesulitan yang perlu dipecahkan; hasil
belajar pun dapat ditransferkan ke dalam situasi lain.
6)
Belajar pada hakikatnya berkaitan potensi
manusia dan prilakunya; belajar pun memerlukan proses dan tahapan serta
pematangan diri para siswa.
7)
Belajar
melalui praktik atau pengalaman secara langsung akan lebih efektif mampu membina sikap, keterampilan, berpikir
kritis, bila di bandingkan dengan belajar hafalan saja.
8)
Bahan
belajar yang bermakna/berarti, lebih mudah dan menarik untuk dipelajari.
2.2.3 Hakikat
Hasil Belajar
2.2.3.1 Pengertian Hasil Belajar
Hasil
belajar diperoleh setelah seseorang melalui suatu proses belajar baik yang
dilakukan sendiri maupun atas bimbingan yang telah diterima dari orang lain.
Secara sederhana, hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh seseorang
(peserta didik) setelah melaksanakan kegiatan belajar. Belajar itu sendiri
merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu
bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap.
Beberapa
ahli dan pakar pendidikan yang mengemukan teori dan pendapat tentang hasil
belajar, diantaranya:
1)
Gagne
(Thobroni dan Mustofa, 2011 : 22), hasil belajar berupa informasi verbal,
keterampilan intelektual, strategi kognitif, keterampilan motorik, dan sikap.
2)
Keller
(Abdurrahman, 2009 : 39), hasil belajar adalah perbuatan yang terarah pada
penyelesaian tugas-tugas belajar.
3)
Suprijono
(Thobroni dan Mustofa, 2011 : 22), hasil belajar adalah pola-pola perbuatan,
nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan.
4)
Bloom
(Abdurrahman, 2009 : 38), mengklasifikasi kemampuan hasil belajar ke dalam tiga
kategori, yaitu:
a.
Ranah
kognitif, meliputi kemampuan menyatakan kembali konsep atau prinsip yang telah
dipelajari dan kemampuan intelektual.
b.
Ranah
afektif, berkenaan dengan sikap dan nilai yang terdiri atas aspek penerimaan,
tanggapan, penilaian, pengelolaan, dan penghayatan (karakterisasi).
c.
Ranah
psikomotorik, mencakup kemampuan yang berupa keterampilan fisik (motorik) yang
terdiri dari gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, dan kemampuan.
5) A. J. Romiszowski (Munadi, 2008 : 38),
hasil belajar merupakan keluaran
(output) dari suatu sistem pemrosesan
masukan (input). Masukan dari sistem
tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluaran adalah perbuatan
atau kinerja (performance).
Selanjutnya, Romiszowski berpendapat bahwa perbuatan merupakan petunjuk bahwa
proses belajar telah terjadi dan hasil belajar berupa: Pertama; pengetahuan
berupa pengetahaun tentang fakta, pengetahuan tentang prosedur, pengetahuan tentang konsep,
dan pengetahuan tentang prinsip. Kedua; keterampilan terdiri dari keterampilan untuk
berpikir/kognitif, bertindak/motorik, bereaksi atau bersikap, dan berinteraksi.
6) Nashar (2004 : 77), hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh siswa
setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri adalah sesuatu proses
dalam diri dan tingkahlaku yang relatif menetap. Perubahan tingkahlaku dalam
belajar sudah ditentukan terlebih dahulu, sedangkan hasil belajar ditentukan
berdasarkan kemampuan siswa.
7) Sudjana (Nashar, 2004 : 80), menjelaskan bahwa ada tiga macam hasil belajar, yaitu:
keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, sikap dan cita-cita.
8) Norman E. Gronlund (Nashar (2004 : 80), mengatakan
hasil belajar sangat berguna baik bagi siswa maupun bagi guru pengelola
pendidikan. Hasil belajar dapat disumbangkan untuk meningkatkan belajar siswa
dengan cara: (1) menjelaskan hasil belajar yang dimaksud, (2) melengkapi tujuan
pendek untuk waktu yang akan datang, (3)
memberikan umpan balik terhadap kemajuan belajar, dan (4) memberikan informasi
tentang kesulitan belajar, sehingga dapat dipergunakan untuk memilih pengalaman
belajar yang akan datang.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil dari
perubahan tingkahlaku yang diperoleh siswa sebagai tujuan dari perbuatan
belajar yang dilakukannya baik di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Hasil belajar itu dipengaruhi oleh aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan
kata lain, hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menguasai
pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran sebagai
hasil dari pengalaman individu.
Keberhasilan belajar secara kuantitatif ditunjukkan dengan nilai atau
angka yang diberikan oleh penilai (guru) berdasarkan hasil penilaian berupa tes
maunpun non tes. Pemberian nilai atas hasil belajar ini dengan mempertimbangkan
kemampuan siswa, kesulitan materi dan daya dukung keberlansungan proses
pembelajaran di suatu satuan pendidikan.
2.2.3.2
Indikator Keberhasilan Belajar
Proses
belajar memiliki indikator keberhasilan tertentu yang diukur melalui evalusi
berupa tes dan non tes. Djamarah dan Aswan (2006 : 105), menjelaskan kegiatan
pembelajaran dianggap berhasil apabila perilaku yang digariskan dalam tujuan
pengajaran atau Tujuan Intruksional Khusus (TIK) telah dicapai oleh siswa, baik secara
individual maupun kelompok. Selanjutnya, Djamarah dan Aswan (2006 : 107),
mengemukakan bahwa setiap proses belajar mengajar selalu menghasilkan hasil
belajar. Masalah yang dihadapi adalah sejauhmana tingkatan prestasi (hasil) belajar yang telah dicapai. Sehubungan
dengan hal inilah keberhasilan proses mengajar itu dibagi atas beberapa
tingkatan atau taraf. Tingkatan keberhasilan tersebut adalah sebagai berikut:
1)
Istimewa/maksimal;
apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai oleh siswa.
2)
Baik
sekali/optimal; apabila sebagai besar (76 % s.d. 99 %) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh
siswa.
3)
Baik/minimal;
apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 60
% s.d.75 % saja dikuasai oleh siswa.
4)
Kurang;
apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60
% dikuasai oleh siswa.
Selain indikator di
atas, daya serap tehadap materi pembelajaran yang diberikan oleh guru mencapai prestasi tinggi, baik secara
individual maupun kelompok. Berdasarkan tingkatan yang diperoleh setelah
melakukan tes dan non tes, dapatlah diketahui keberhasilan proses belajar
mengajar yang telah dilakukan siswa dan guru.
2.2.3.3
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar
Berbagai
faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar seseorang. Faktor tersebut
bersumber dari dalam diri invidu maupun juga dari luar
individu. Faktor dari
dalam individu/internal mencakup
keadaan fisik, kesehatan, serta faktor lain yang bersumber dari dalam diri.
Faktor dari luar individu/eksternal mencakup situasi lingkungan baik lingkungan sosial maupun
lingkungan fisik yang tidak memberikan kemungkinan untuk berlansungnya kegiatan
belajar.
Purwanto
(Thobroni, 2011 : 31) mengemukan faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan
perubahan belajar pada seorang anak, yaitu:
Pertama;
Faktor yang ada pada diri individu, meliputi kematangan dan pertumbuhan, kecerdasan
atau inteligensi dan faktor pribadi (kemaun, ketekukan, rendah hati) seseorang.
Kedua;
Faktor yang ada di luar diri individu atau faktor sosial, meliputi; faktor
keluarga (situasi rumah tangga) dan motivasi sosial yang bersumber dari teman sejawat, orang tua, guru sanak keluarga, dan
sebagainya.
Senada
dengan Purwanto, Munadi (2008 : 24) menjelaksan faktor- faktor yang
mempengaruhi proses dan hasil belajar dikelompok menjadi faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal meliputi:
1)
Faktor
fisiologis
Secara umum
kondisi fisiologis, seperti kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan lelah,
tidak dalam keadaan cacat jasmani dan sebagainya,
semuanya akan membantu proses dan hasil
belajar. Sedangkan siswa yang kekurangan gizi, memiliki kemampuan belajarnya
berada dibawah mereka yang memiliki gizi, sebab mereka yang kekurangan gizi
pada umumnya cenderung cepat lelah, cepat ngantuk dan akhirnya tidak mudah dalam menerima pelajaran.
2)
Faktor
psikologis
Setiap manusia atau
anak didik pada dasarnya memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda.
Tentunya perbedaan-perbedaan ini akan berpengaruh pada proses dan hasil belajar
siswa.
Faktor internal di atas bersumber dari dalam diri invidu
yang belajar. Sedangkan faktor eksternal yang berasal dari luar diri individu
yang belajar meliputi:
1)
Faktor
lingkungan
Kondisi lingkungan
juga berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar. Lingkungan ini dapat berupa
lingkungan fisik dan dapat pula berupa lingkungan sosial. Lingkungan fisik
misalnya keadaan suhu, kelembaban, kepengapan udara
dan sebagainya.
2)
Faktor
instrumental
Faktor-faktor
instrumental adalah faktor yang keberadaannya dan penggunaanya dirancang sesuai
dengan hasil belajar yang diharapkan. Faktor-faktor ini diharapkan dapat
berfungsi sebagai sarana untuk tercapainya tujuan-tujuan belajar yang telah
direncanakan.
2.3 Pembelajaran Kooperatif
2.3.1
Konsep Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif dilandasi oleh teori konstruktivisme, (Soejadi dalam Rusman, 2010 : 201). Teori konstruktivisme dalam belajar
menuntut siswa harus secara individu menemukan dan mentranformasikan
informasi yang kompleks, memeriksa informasi dengan aturan yang ada dan
merevisinya bila perlu. Slavin (Rusman, 2010 : 201),
mengemukakan bahwa pembelajaraan
kooperatif memungkinkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Melalui
interaksi dalam kelompok, siswa dapat saling bertukar ide/pendapat dan saling
menanggapinya. Oleh karena itu, guru dituntut untuk mampu memberikan motivasi
dan mengajak siswa untuk membuka diri dan menyampaikan pengetahuan yang
dimilikinya, menyumbangkan ide/pendapat untuk keberhasilan kelompok.
Pembelajaran kooperatif memberikan rasa gairah bagi
peserta didik untuk belajar memecahkan masalah yang dihapai dalam materi
pembelajaran secara bersama sehingga materi terkesan tidak dihafal. Tentunya
pembelajaran ini sangat efektif untuk kegiatan pembelajaran IPS yang cakupan
materi sangat luas serta selalu mengalami perubahan sesuai situasi dan kondisi
lingkungan sekitar. Pelaksanaan model
pembelajaran kooperatif ini memberikan kesempatan kepada siswa belajar bersama
dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam
kelompok yang terdiri dari 4 sampai 6 orang siswa, dengan kemampuan yang
heterogen. Kelompok heterogen terdiri dari campuran kemampuan siswa, jenis
kelamin, dan suku. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan
dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya.
Melalui kegiatan belajar dalam kelompok, peserta didik
diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik
di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang baik, siswa diberi lembar
kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan.
Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan.
2.3.2
Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Menurut Eggen dan
Kauchak (Trianto, 2007 : 42) pembelajaran kooperatif merupakan sebuah model
pembelajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaboratif untuk mencapai
tujuan bersama. Selanjutnya Ibrahim, et al (Wahyu, 2010 : 56 - 57), menegaskan
bahwa model pembelajaran kooperatif
dikembangkan untuk mencapai
setidak-tidaknya tiga tujuan
pembelajaran penting. yaitu :
1)
Hasil
belajar akademik
Dalam
pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah
maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
2)
Penerimaan
terhadap perbedaan individu
Tujuan lain
model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang
yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan
ketidakmampuannya.
3)
Pengembangan
keterampilan sosial
Tujuan penting
pembelajaran kooperatif adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja
sama dan kolaborasi agar siswa memiliki keterampilan-keterampilan sosial dalam
hidup bermasyarakat.
2.3.3
Unsur
- Unsur Pembelajaran Kooperatif
Sanjaya (2010 : 241)
mengemukakan bahwa dalam pembelajaran kooperatif, terdapat empat unsur
penting yaitu :
1)
Adanya
peserta dalam kelompok. Peserta adalah siswa-siswa yang melakukan proses
pembelajaran dalam setiap kelompok belajar.
2)
Adanya
aturan kelompok. Aturan kelompok adalah segala sesuatu yang menjadi kesepakatan
semua pihak yang terlibat.
3)
Adanya
upaya belajar setiap anggota kelompok.
4)
Adanya
tujuan yang harus dicapai. Aspek tujuan yang dimaksudkan untuk memberikan arah
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Melalui tujuan yang jelas setiap anggota
kelompok dapat memahami sasaran setiap kegiatan belajar.
2.3.4
Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
Slavin, Abrani, dan Chambers (Sanjaya, 2010 : 244 - 246),
menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif berbeda dengan model pembelajaran
yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih
menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok. Karakteristik pembelajaran
kooperatif dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.
Pembelajaran
secara tim.
Pembelajaran
kooperatif adalah pembelajaran secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai
tujuan. Hal ini dimaksudkan agar setiap anggota kelompok dapat saling
memberikan pengalaman, saling memberi dan menerima serta diharapkan dapat
berkontribusi terhadap keberhasilan kelompok.
2.
Kemauan
bekerja sama.
Keberhasilan
pembelajaran kooperatif ditentukan oleh kebehasilan secara kelompok.
3.
Keterampilan
bekerja sama.
Kemauan bekerja sama itu kemudian dipraktikkan melalui aktivitas dan kegiatan yang tergambarkan
dalam keterampilan bekerja sama.
2.3.5 Prinsip-Prinsip
Pembelajaran Kooperatif
Sanjaya (2010 : 246 - 247), mengemukan empat prinsip pembelajaran
kooperatif yaitu :
1)
Ketergantungan
positif.
Dalam
pembelajaran kelompok keberhasilan suatu penyelesaian tugas sangat bergantung
pada usaha yang dilakukan oleh setiap anggota kelompoknya.
2)
Tanggung
jawab perseorangan.
Prinsip ini
merupakan kosekuensi dari prinsip ketergantungan positif. Oleh karena
keberhasilan kelompok tergantung pada setiap anggotanya maka setiap anggota
kelompok memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugas
yang telah diberikan.
3)
Interaksi
tatap muka.
Pembelajaran
kooperatif memberi ruang dan kesempatan
yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka, saling
memberikan informasi dan saling membelajarkan.
4)
Partisipasi
dan komunikasi.
Pembelajaran
kooperatif melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dalam berkomunikasi.
Untuk dapat melakukan partisipasi dan komunikasi siswa perlu dibekali
kemampuan-kemampuan berkomunikasi.
2.3.6
Tipe Student Teams Achievement Division (STAD)
2.3.6.1
Konsep Dasar
STAD
merupakan akronim dari Student Team
Achievement Division (Pembagian Pencapaian Tim Siswa), atau dengan kata
lain, pencapaian hasil belajar siswa diperoleh melalui belajar kelompok
(Robert E. Slavin dalam Isjoni, 2008 : 26). Model ini
dikembangkan oleh Robert E. Slavin dan teman-temannya di Universitas Jhon Hopkin
(Rusman, 2010 : 213). STAD sebagai
salah satu dari enam tipe pembelajaran kooperatif, yaitu Student Teams Achievement
Division (STAD), Jigsaw, Group Investigation (investigasi kelompok), Make a
Macth (membuat pasangan), TGT (Teams Games Tournamens) dan Struktural.
Keenam model ini merupakan variasi dari pembelajaran kooperatif tanpa mengubah
prinsip dasar dari pembelajaran kooperatif. (Rusman, 2010 : 213),
Trianto,
(2007 : 52), menjelaskan pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu
tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok
kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4 sampai 5 orang siswa secara
heterogen. Dalam hal ini, jumlah anggota setiap kelompok adalah 4 atau 5 orang
tergantung pada jumlah siswa dalam satu
kelas.
Slavin (Rusman,
2010 : 213) mengemukakan bahwa tipe STAD merupakan variasi pembelajaran
kooperatif yang paling banyak diteliti. Model ini juga sangat mudah diadaptasi,
telah digunakan dalam mata pelajaran Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris dan
banyak subjek lainnya pada tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
Berdasarkan
uraian pemikiran para pakar ini, dapat dikatakan bahwa, hampir semua mata
pelajaran dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini.
Kontribusi yang diperoleh dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
STAD adalah membantu perkembangan
peserta didik untuk saling membantu dan bekerja untuk keberhasilan kelompok.
Peserta didik dapat menumbuhkan rasa saling menghargai, saling membantu serta
bekerja keras untuk keberhasilan bersama satu tim. Slavin (Rusman, 2011 : 214),
menjelaskan gagasan utama dalam STAD adalah memacu siswa agar saling mendorong
dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan guru.
Selanjutnya hal ini dipertegas
oleh Isjoni, (2010 : 26 - 27) bahwa dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD,
anak turut berpartisipasi dan bekerja sama dengan individu lain secara efektif,
menimbulkan perubahan yang konstruktif pada kelakuan seseorang dan setiap
anggota merasa aman di dalam kelas.
Berdasarkan
pemikiran-pemikiran yang dikemukan para ahli di atas, dapat
disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan model
pembelajaran berkelompok yang anggotanya terdiri dari 4 atau 5 orang yang
bersifat heterogen, bekerja secara tim untuk mencapai tujuan yang sama.
Heterogen yang dimaksud adalah karateristik individual baik kemampuan minat,
ketekunan dan kerja keras serta karateristik
lainya yang ada dalam satu kelas.
2.3.6.2
Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Model
pembelajaran Kooperatif tipe STAD memiliki karateristik yang berbeda dengan
model pembelajaran lainnya. Hal ini terlihat dari desain kelompok yang bentuk
dan cara kerja/sistem pembahasan materi pembelajaran, serta tujuan yang ingin
dicapai. Karateristik pembelajaran kooperatif tipe STAD, Rusman (2010 : 227),
yaitu:
1.
Tujuan kognitif untuk mendapatkan informasi
akademik sederhana, sedangkan tujuan sosial untuk memperoleh hubungan kerja
kelompok dan kerja sama antar siswa.
2.
Struktur
tim yang bersifat heterogen dengan anggota 4 atau 5 orang
3.
Pemilihan
topik pembelajaran biasanya dilakukan oleh guru.
4.
Siswa
melaksanakan tugas utama yaitu menggunakan lembar kegiatan dan saling membantu
untuk menuntaskan materi belajarnya.
5.
Penilaian
yang dilakukan secara tes mingguan.
6.
Pengakuan
atas tingkat keberhasilan siswa yaitu penilaian lembar pengetahuan dan lembar
publikasi lainya.
Berdasrakan karateristik yang dipaparkan, terdapat beberapa hal yang
dapat menjadikan ciri model pembelajaran
kooperatif tipe STAD, yaitu:
1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk
menuntaskan materi belajarnya.
2. Kelompok yang dibentuk beranggotakan siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
3. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya,
suku, jenis kelamin berbeda-beda.
4. Penghargaan berorientasi kelompok ketimbang individu.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kerja sama dalam kelompok
yang heterogen serta pencapaian tujuan pembelajaran secara tim merupakan ciri utama
model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Dengan demikian bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD
ini adalah proses pencapaian kompetensi dengan pembahasan materi secara
berkelompok yang heterogen baik tingkat kemampuan maupun latar belakang siswa
dengan anggota 4 atau 5 orang, kerja sama tim sebagai ciri penting serta
penghargaan atas prestasi lebih berorientasi pada keberhasilan secara
berkelompok.
2.3.6.3
Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Rusman
(2010 : 215 - 215), secara rinci menjelaskan enam langkah/fase pembelajaran
kooperatif tipe STAD, yaitu:
1. Penyampaian tujuan dan motivasi
Pada tahap ini,
guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi
siswa untuk belajar. Hal ini bertujuan agar siswa memiliki rasa pentingnya
materi serta adanya semangat mengikuti kegiatan pembelajaran. Guru juga
menginformasikan kepada siswa desain pembelajaran yang akan dijalankan untuk
mencapai kompetensi/indikator.
2. Pembagian kelompok
Guru membagi
siswa di dalam beberapa kelompok, setiap kelompok
terdiri dari 4 atau 5 siswa yang memperioritaskan
heterogenitas (keragaman) kelas dalam prestasi akademik, gender/jenis kelamin,
ras atau etnik. Jumlah anggota setiap
kelompok bervariasi sangat tergantung pada jumlah siswa dalam kelas
tersebut.
3. Presentasi dari guru
Guru
menyampaikan materi pembelajaran dengan terlebih dahulu menjelaskan materi
pengantar untuk pencapaian tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut serta pentingnya pokok
bahasan tersebut dipelajari. Guru memberi motivasi siswa agar dapat belajar
dengan aktif dan kreatif dalam kelompok yang
telah dibagi. Dalam presentasi
ini guru dibantu oleh media,
demonstrasi, pertanyaan atau masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan
sehari-hari. Dijelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan
dikuasai siswa, tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan serta cara-cara
mengerjakannya.
4. Kegiatan belajar dalam tim (kerja tim)
Siswa belajar
dalam kelompok yang telah dibentuk. Guru menyiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS) sebagai pedoman bagi kerja kelompok, sehingga semua
anggota menguasai dan masing-masing memberikan kontribusi. Selama tim bekerja,
guru melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan dan bantuan bila
diperlukan. Kerja tim ini merupakan ciri terpenting dari STAD.
5. Kuis (evaluasi)
Guru
mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis tentang materi yang
dipelajari dan juga melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja
masing-masing kelompok. Siswa diberikan kuis secara individual dan tidak dibenarkan
bekerja sama, ini dilakukan untuk menjamin agar siswa secara individu
bertanggung jawab kepada diri sendiri dan terhadap
prestasi kelompok dalam memahami
bahan ajar tersebut.
6. Penghargaan tim
Pada
tahap ini, guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil
belajar individu dan kelompok. Penghargaan prestasi tim setelah pelaksanaan
kuis, guru memeriksa hasil kerja siswa dan diberikan angka dengan rentang 0 -
100. Penghargaan ditunjukan pada
tim/kelompok bukan pribadi siswa.
Selanjutnya pemberian penghargaan atas keberhasilan
kelompok dapat dilakukan oleh guru dengan melakukan tahapan-tahapan sebagai
berikut:
1) Menghitung
skor individu
Menurut Slavin (Trianto, 2007 : 55), untuk menghitung perkembangan skor
individu dihitung sebagaimana dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut
Tabel 2.1
Perhitungan skor perkembangan individu
|
No
|
Nilai tes
|
Skor perkembagan
|
|
1.
|
Lebih dari 10
poin di bawah skor dasar
|
0 poin
|
|
2.
|
10 sampai 1 poin
di bawah skor dasar
|
10 poin
|
|
3.
|
Skor sampai 10
poin di atas skor dasar
|
20 poin
|
|
4.
|
Lebih dari 10
poin di atas skor dasar
|
30 poin
|
|
5.
|
Pekerjaan
sempurna (tanpa memerhatikan skor dasar)
|
30 poin
|
2)
Menghitung
skor kelompok
Skor kelompok dihitung dengan membuat rata-rata skor
perkembangan anggota kelompok, yaitu dengan menjumlahkan semua skor
perkembangan individu anggota kelompok kemudian
membagi sejumlah anggota kelompok tersebut. Sesuai dengan
rata-rata skor perkembangan kelompok, diperoleh skor kelompok sebagaimana dalam
tabel
2.2 berikut.
Tabel 2.2 Penghitungan
perkembangan skor kelompok
|
No
|
Rata-rata skor
|
Kualifikasi
|
|
1.
|
0 ≤ N ≤ 5
|
-
|
|
2.
|
6 ≤ N ≤ 15
|
Tim yang baik (good team)
|
|
3.
|
16 ≤ N ≤ 20
|
Tim yang baik
sekali (great team)
|
|
4.
|
21 ≤ N ≤ 30
|
Tim yang istimewa (super team)
|
3) Pemberian hadiah dan pengakuan skor kelompok.
Setelah masing-masing kelompok atau tim memperoleh
predikat, guru memberikan hadiah atau penghargaan kepada masing-masing kelompok
sesuai dengan prestasinya (kriteria tertentu yang ditetapkan guru).
Berdasarkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran di
atas, maka peran guru dalam proses pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu:
a.
Merumuskan
tujuan pembelajaran yang meliputi tujuan akademik dan tujuan keterampilan
bekerja sama.
b.
Menentukan
jumlah anggota dalam kelompok belajar. Jumlah anggota dalam tiap kelompok
adalah 4 atau 5 orang siswa secara heterogen.
c.
Menentukan
tempat duduk siswa. Tempat duduk siswa disusun agar tiap kelompok dapat saling
bertatap muka.
d.
Merancang
bahan untuk meningkatkan saling ketergantungan positif.
2.4 Penelitian yang Relevan
Slavin (Sanjaya,
2008 : 240) mengemukakan bahwa rasional penggunaan pembelajaran tipe STAD,
yaitu:
Pertama, beberapa
hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan kemampuan
hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain,
serta dapat meningkatkan harga diri. Kedua, pembelajaran kooperatif dapat
merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berpikir, memecahkan masalah, dan
mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan.
Mendukung pemikiran
di atas, penelitian yang relevan dengan penelitian ini telah dilakukan oleh Dandang dengan judul skripsi "Upaya
Meningkatkan Minat Belajar IPS Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Student Teams Achievement Divisions Bagi Siswa Kelas V SDN 02 Sumberejo
Wonosobo" (dadankpgsd.blogspot.com/2012/01/skripsi.html; diakses Senin 22 April 2013) memaparkan bahwa, minat belajar siswa selama pembelajaran dengan menggunakan
strategi pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student
Teams Achievment Divisions) mengalami peningkatan dari pra siklus ke siklus
I dan siklus I ke siklus II, hal tersebut ditunjukkan dengan kenaikan perolehan
persentase minat pada pra siklus sebesar 33,33% dengan kriteria ‘Kurang’,
siklus I sebesar 50% dengan kriteria ‘Sedang’ dan pada siklus II sebesar
83,3% dengan kriteria ‘Baik sekali/tinggi’. Selain minat, hasil
belajar siswa mengalami peningkatan dari pra siklus ke sklus I dan siklus I ke
siklus II, hal tersebut ditunjukkan dengan perolehan persentase pada pra
siklus sebesar 25% dengan kriteria ‘Kurang’, siklus I sebesar 50% dengan
kriteria ‘Sedang’, dan siklus II diperoleh 83,33% dengan kriteria ‘Baik Sekali.’
Selain itu,
penelitian oleh Sri Utami, dengan judul skripsi, “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Student Team Achievement Devision (STAD) dalam Meningkatkan Prestasi Belajar
IPS pada Siswa Kelas V SD Negeri Tunggulsari Kecamatan Laweyan Surakarta Tahun
Pelajaran 2008/2009 (http://dglib.uns.ac.id/pengguna.php?mn=showview&id=4717; diakses Rabu, 24 April 2013), memaparkan pembelajaran kooperatif dengan tipe Student Teams
Achievement Devision (STAD) terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar IPS.
Sebelum tindakan persentase pencapaian SKBM rata-rata nilai ulangan harian 42,83;
sedangkan rata-ratanya setelah tindakan siklus I dalah
70,22; dan siklus II mencapai 77,61. SKBM berdasarkan kemampuan
pemahaman mata pelajaran IPS setelah tindakan pada siklus I adalah
60,56 % meningkat menjadi
90,30 % setelah dilakukan tindakan siklus II.
Kedua
hasil penelitian di atas memberikan sumbangan berarti untuk mendukung
penelitian ini. Oleh karena itu, berdasarkan hasil penelitian terdahulu di atas
disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD cocok digunakan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa kelas
IV terhadap mata pelajaran IPS
sekolah dasar.
2.5 Kerangka Berpikir
Minat siswa dalam mengikuti pembelajaran
IPS sangat tergantung pada strategi guru dalam
mendesain dan mengelola pembelajaran. Pembelajaran IPS yang mengarahkan siswa pada tindakan nyata sangat cocok menerapkan
pembelajaran kooperatif tipe STAD karena siswa dibimbing dan dilatih untuk
menempatkan diri dalam suatu kelompok sehingga mampu menerima kelebihan dan
kekurangan dari segala perbedaan yang dimiliki teman kelompok, serta
bersama-sama berusaha menemukan dan memecahkan permasalahan yang dihadapi untuk
mencapai tujuan yang ingin dicapai bersama. Penggunaan model pembelajaran
koopertaif tipe STAD yang dijabarkan melalui metode-metode menekankan adanya
kerja sama antar anggota kelompok yang mempertimbangkan karateristik peserta
didik, materi yang akan dipelajari dan kondisi kelas.
Siswa kelas
IV SDK Tentang II memiliki karateristik baik tingkat kemampuan maupun bakat
terhadap mata pelajaran sangat relevan bila pembelajaran IPS didesain
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Dengan demikian, diduga
penggunaan model pembelajaran tipe STAD ini akan meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV di SDK Tentang II Kecamatan Ndoso Tahun Pelajaran 2012/2013 pada materi
perkembangan teknologi. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini yaitu:
ketuntasan secara klasikal untuk nilai akhir tes yaitu minimal 70 % siswa kelas IV mencapai KKM mata pelajaran IPS (65) yang
ditetapkan oleh SDK Tentang II tahun pelajaran 2012/2013. Selain
itu kinerja siswa dalam kegiatan pembelajaran berada pada kategori “Baik”.
2.6 Hipotesis
Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka dapat
dirumuskan hipotesis tindakan yaitu bahwa, “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dapat
Meningkatkan Hasil Belajar
IPS Siswa
Kelas IV SDK Tentang II Tahun Pelajaran 2012/2013 pada Materi
Perkembangan Teknologi.”
BAB
III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan
Kelas merupakan proses sistematika yang memerlukan kemampuan dan keterampilan
intelektual (Sukajati, 2008 : 12). Dalam pelaksanaan penelitian, peneliti
dituntut berpikir kritis dalam menentukan masalah, perencanaan tindakan baik
yang bersifat teoritik maupun praktis, kemudian dijabarkan dalam
tindakan-tindakan. Dari segi terminologi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah
suatu kegiatan sistematis untuk mencermati obyek atau fenomena terkait dengan
pembelajaran di kelas dengan melakukan aktivitas tertentu yang dirancang secara
sengaja oleh guru dengan tujuan tertentu, yakni untuk memperbaiki atau
meningkatkan mutu pembelajaran, (Payong, 2010 : 1).
Dari kedua pemikiran yang dikemukan di atas, disimpulkan bahwa Penelitian
Tindakan Kelas merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengatasi masalah
yang timbul dalam kawasan kelas yang ditandai adanya perlakuan atau
tindakan-tindakan tertentu yang dilatarbelakangi
karena adanya masalah yang timbul dalam suatu kawasan kelas berkaitan
efektivitas pembelajaran, prestasi, minat, motivasi dan hasil belajar yang
belum maksimal dicapai.
3.2 Desain
Penelitian
Metode yang
digunakan peneliti dalam
penelitian ini adalah observasi dan refleksi yang dikolaborasi dengan tes
tertulis. Peneliti menggunakan desain/model penelitian Kemmis dan Mc. Taggart
yang penekanannya pada untaian kegiatan yang terdiri dari empat tahap yakni perencanaan,
tindakan, pengamatan, dan refleksi (Payong,
2010 : 5). Keempat komponen yang menyerupai untaian dilihat sebagai
suatu siklus. Jadi, siklus adalah suatu putaran/tahapan kegiatan yang terdiri
dari perencanaan (Planning), tindakan (Acting
dan Observe), dan refleksi (Reflect). Alur kegiatan siklus akan digambarkan sebagai
berikut:
|
Siklus I
|
|
Reflect
|
|
Planing
|
|
Act & Observe
|
|
Revised plan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Siklus II
|
|
Siklus Selanjutnya
|
|
Planing
|
|
Act & Observe
|
|
Reflect
|
|
Revised plan
|
|
ACT & OBSERVE
|
|
REFLECT
|
|
|
(Sumber: Payong, 2010 : 5)
3.3
Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini mencakup proses dari awal sampai berakhirnya
kegiatan penelitian, yaitu:
1. Perencanaan Tindakan
Pada tahap ini peneliti
merencanakan segala hal berkaitan dengan kelancaran kegiatan penelitian, yaitu
meminta izin kepada kepala sekolah tempat penulis mengajar untuk mendapat
persetujuan; kemudian mengunjungi sekolah sebagai tempat penelitian untuk
meminta izinan dari pihak sekolah serta
berdiskusi dengan guru mata pelajaran tentang masalah yang dihadapi berkaitan
dengan pembelajaran dan hasil belajar IPS. Setelah menemukan masalah dan
menawarkan solusi kepada guru mata pelajaran, maka selanjutnya peneliti
menyiapkan instrumen penelitian untuk pelaksanaan kegiatan selama beberapa
siklus sampai menunjukkan indikator keberhasilan. Hal-hal yang disiapkan
mencakup penyusunan silabus, RPP, LKS, soal tes, format pengamatan/observasi penelitian,
persiapan alat dan bahan, dan biaya
untuk kelancaran penelitian.
2.
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan adalah realisasi dari segala hal
yang telah direncanakan sebelumnya. Inti dari pelaksanaan tindakan adalah
menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk mengatasi permasalahan
yang telah diidentifikasi. Pada tahap
pelaksanaan tindakan, peneliti melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan
tahapan
(langkah-langkah/fase) model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
3.
Pengamatan
Pengamatan dilakukan tidak
terpisah dengan pelaksanaan kegiatan; atau dengan kata lain bahwa pengamatan
berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Pada tahap ini,
peneliti akan melakukan pengamatan terhadap aktivitas siswa dalam diskusi
kelompok dalam hal ini keterlibatan siswa dalam pembelajaran kooperatif tipe
STAD yang dirancang oleh peneliti. Selain itu, aktivitas peneliti akan diamati
oleh seorang guru sebagai observer untuk mengamati keterlaksanaan RPP model
pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Adapun indikator atau kriteria
untuk menentukan perubahan pada hasil tindakan adalah sebagai berikut.
1)
Setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam
pembelajaran IPS nilai siswa kelas IV SDK Tentang II minimal 70 % secara
klasikal mencapai KKM mata pelajaran IPS (65) yang telah ditetapkan oleh
sekolah.
2)
Siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran, dengan kinerja
siswa secara individu maupun kelompok berada pada kategori ‘Baik’
4. Refleksi
Pada tahap ini, peneliti melakukan refleksi mengenai perubahan yang
terjadi setelah pelaksanaan tindakan berdasarkan perolehan nilai hasil belajar
dan kinerja siswa secara klasikal. Refleksi dilakukan oleh peneliti bersama observer setiap selesai satu siklus.
Hasil refleksi ini menjadi dasar pertimbangan untuk pelaksanaan tindakan pada
siklus berikutnya. Berbagai kelebihan dalam pelaksanaan pembelajaran siklus I
tetap dipertahankan pada pelaksanaan pembelajaran siklus selanjutnya. Sedangkan
berbagai kekeliruan dan kelemahan pada pelaksanaan pembelajaran siklus I
diperbaiki pada pelaksanaan siklus selanjutnya. Siklus berakhir apabila sudah
mencapai indikator dan kriteria keberhasilan
belajar yang sudah direncanakan oleh peneliti.
3.4
Latar
Penelitian
1. Tempat
Penelitian ini
dilaksanakan di SDK Tentang II, desa Tentang
kecamatan Ndoso kabupaten Manggarai Barat. Penelitian ini secara khusus
dilakukan pada kelas tinggi, yaitu kelas IV. Adapun alasan pemilihan SDK
Tentang II sebagai tempat dilakukannya
penelitian, yaitu memudahkan untuk pendekatan dengan pihak sekolah karena
letak SDK Tentang II tidak jauh dari
sekolah tempat peneliti mengajar sehingga tidak terkesan meninggalkan tugas
utama sebagai pengajar di sekolah tempat peneliti mengabdi.
2. Waktu
Penelitian ini
dilaksanakan pada bulan April 2013 sampai dengan Mei 2013.
3.5
Subjek
Penelitian
Subjek dalam
penelitian ini adalah siswa siswa kelas IV SDK Tentang II Tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 39
orang yang terdiri dari 18 laki-laki dan 21 perempuan. Siswa kelas IV memiliki
latar belakang sosial ekonomi dan kemampuan yang berbeda-beda; (berkemampuan
tinggi, sedang, dan rendah). Secara umum siswa kelas IV SDK Tentang II juga
memiliki kemampuan untuk bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas yang
diberikan oleh guru, khususnya tugas-tugas IPS.
3.6
Data
dan Sumber Data
Dalam penelitian
ini peneliti menggunakan data kualitatif
dan data kuantitatif. Data kualitatif
berkenaan dengan hasil observasi, pengamatan aktivitas siswa,
keterlaksanaan silabus dan RPP. Sedangkan data kuantitatif berkenaan dengan nilai-nilai yang diperoleh melalui
tes setelah pelaksanaan satu siklus.
Sumber data
dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh langsung dari siswa,
yang diperoleh melalui pengamatan kinerja siswa dan penilaian hasil tes yang
diberikan. Selain itu data sekunder dapat berupa data tentang nilai semester
dan daya serap mata pelajaran IPS semester I tahun pelajaran 2012/2013 dan
nilai tes pada materi perkembangan teknologi dari guru mata pelajaran.
3.7
Teknik
Pengumpulan Data
Dalam penelitian
ini teknik pengumpulan data yang digunakan
adalah observasi dan tes.
a. Observasi
Observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas siswa
selama kegiatan pembelajaran. Aktivitas yang diamati adalah berkenaan dengan
kinerja siswa secara individu maupun kelompok dalam menyelesaikan LKS yang disiapkan guru. Observasi ini dilakukan sebagai
upaya untuk mengetahui sejauhmana tindakan yang diberikan dapat menghasilkan
perubahan yang dikehendaki oleh peneliti. Observasi dilakukan oleh peneliti dan
seorang pengamat dengan posisi duduk berada dibelakang
meja tempat duduk siswa selama kegiatan pembelajaran berlansung. Peneliti juga
terlibat dalam melakukan observasi terhadap kinerja siswa selama proses
pembelajaran. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi. Skala
penilaian yang digunakan dengan
rentangan 1 – 4,
dengan kriteria penilaian
sebagai berikut:
1 = tidak baik
2 = kurang baik
3 = cukup baik
4 = baik
Skala penilaian
yang digunakan untuk memperoleh data pembobotan hasil kinerja siswa.
Untuk kinerja siswa secara individu, aspek yang diamati terdiri dari menjawab
pertanyan, keberanian bertanya, rajin mengerjakan soal, keseriusan dan ketuntasan
menyelesaikan LKS. Sedangkan kinerja
siswa secara berkelompok terdiri dari aspek kerja sama dalam kelompok,
keaktifan individu, saling bertanya antar kelompok, menghormati pendapat kelompok
lain dan keberanian memberikan tanggapan. Setiap aspeknya rentangan skor 1
- 4, maka skor maksimal yang akan
diperoleh kelompok yaitu 5 x 4 = 20. Dengan demikian berdasarkan perolehan
bobot dapat ditentukan katergori kinerja siswa sebagai berikut.
17 - 20 = Baik (B)
13
- 16 = Cukup Baik (CB)
9
- 12 = Kurang Baik (KB)
5
- 8 = Tidak Baik (TB)
Berdasarkan
perolehan bobot di atas, dapat ditentukan nilai siswa pada rentangan 0 – 100,
yaitu:
Sehingga
kriteria berdasarkan perolehan nilai siswa dapat ditentukan kategorinya sebagai
berikut:
85 -100 = Baik
(B)
65 – 80 =
Cukup Baik (CB)
45 – 60 =
Kurang Baik (KB)
25 – 40 =
Tidak Baik (TB)
b. Tes
Tes
yang diberikan berupa tes tertulis pada setiap akhir tindakan, dengan tujuan
untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari
setelah diberikan tindakan. Tes yang diberikan dalam bentuk tes tertulis, yaitu
pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban pada setiap nomor soal, jawaban
singkat dan uraian terbatas.
3.8
Instrumen
Penelitian
Dalam
pelaksanaan penelitian ini, instrumen yang digunakan peneliti, adalah:
1) Silabus,
2) RPP,
3) Lembar
Kerja Siswa (LKS)
4) Soal
tes pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban pada setiap nomor soal, jawaban
singkat dan uraian terbatas.
5) Lembar
observasi kinerja siswa dan lembar
observasi kinerja guru dalam proses pembelajaran melalui penilaian
keterlaksanaan RPP.
3.9 Teknik Analisis Data
Pelaksanaan
perbaikan pembelajaran dilaksanakan dengan melibatkan guru mata pelajaran IPS
kelas IV SDK Tentang II sebagai pengamat. Proses analisis data pada penelitian
ini mencakup proses menyeleksi, menyederhanakan, memfokuskan, mengabstraksikan,
dan mengorganisasikan data secara sistematis dan rasional untuk menyajikan
bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai jawaban dari tujuan penelitian.
Teknik analisis
data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan
sajian visual, karena data yang akan dikumpulkan berupa angka. Data hasil
observasi dan tes dipilih sebagai data yang lebih relevan untuk teknik analisis
data sesuai dengan kebutuhan penelitian.
1. Analisis
observasi
Peneliti melakukan
analisis hasil menggunakan lembar pengamatan yang sesuai, yaitu lembar
pengamatan untuk memperoleh data hasil kinerja siswa, yaitu:
a) Nilai
hasil observasi kinerja individu dihitung dengan menggunakan rumus :
Keterangan : NKI = Nilai Kinerja Individu
b) Nilai
hasil observasi kinerja kelompok dihitung dengan menggunakan rumus:
Keterangan : NKK = Nilai Kinerja Kelompok
Selain observasi terhadap kinerja siswa, kinerja guru
diobservasi melalui penilaian
keterlaksanaan RPP, yaitu:
Keterangan : KR = Keterlaksanaan
RPP
2.
Analisis tes
Hasil tes yang
diberikan kepada siswa dianalisis oleh peneliti untuk mengetahui hasil belajar
siswa sebelum dan setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Hasil tes dianalisis dengan menggunakan tingkat ketuntasan individual dan
klasikal yang mengacu pada ketentuan yang ditetapkan dengan indikator
kerberhasilannya, yaitu apabila minimal ketuntasan secara klasikal 70
% mencapai nilai KKM mata
pelajaran IPS (65) sesuai yang
ditentukan oleh SDK Tentang II tahun Pelajaran 2012/2013.
Selain itu rata-rata kinerja siswa baik secara individu maupun kelompok berada
pada kategori “Baik”
Pada
penelitian ini, peneliti menggunakan ketuntasaan secara klasikal untuk materi perkembangan
teknologi yaitu ketuntatasan secara klasikal 70
% mencapai KKM 65. Ketuntasan 70
% ini juga berdasarkan hasil diskusi peneliti dengan guru mata pelajaran IPS SDK Tentang II dengan
mempertimbangkan tuntutan persentase ketuntasan klasikal untuk mata pelajaran IPS SDK Tentang II tahun pelajaran 2012/2013.
Perhitungan hasil belajar dilakukan dengan menghitung ketuntasan hasil belajar siswa, yaitu:
|
Nilai = Jumlah Bobot x Skor
|
|
|
Keterangan : Tk: Tuntas klasikal
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Penelitian
4.1.1 Data Pratindakan
Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti berdiskusi dengan guru pengasuh
mata pelajaran IPS kelas IV SDK Tentang II untuk memperoleh data tentang
kemampuan awal siswa sebelum diberikan tindakan. Dalam diskusi tersebut, peneliti memperoleh data
rendahnya hasil belajar IPS kelas IV SDK
Tentang II berdasarkan nilai hasil ujian semester I. Dari nilai hasil ujian
semester I diperoleh nilai rata-rata
adalah 67,54 dan ketuntatasan secara klasikal yaitu 56,41 %. Persentase ini diperoleh berdasarkan jumlah siswa yang ‘tuntas’ dan
‘tidak tuntas’. Siswa dikatakan ‘tuntas’ apabila nilai mencapai KKM 65. Jumlah
siswa yang tuntas yaitu 22 orang sedangkan yang belum tuntas 17 orang. Data ini
merupakan nilai ujian siswa kelas IV semester I tahun pelajaran 2012/2013 yang
dijadikan sebagai data pratindakan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil
ujian ini maka peneliti bersama guru bidang studi menyimpulkan bahwa siswa kelas IV
belum mencapai target ketuntasan yang dituntut oleh kurikulum IPS SDK
Tentang II tahun pelajaran 2012/2013. Hal ini disebabkan berbagai faktor antara
lain kurangnya keterlibatan aktif peserta didik dalam mengikuti pembelajaran, penggunaan
model dan metode pembelajaran yang kurang relevan yang digambarkan dengan kecenderungan
guru menggunakan mendesain pembelajaran yang didominasi oleh penyampaian materi
dalam sajian baku sehingga siswa cenderung menghafal konsep-konsep tanpa
terlibat aktif dalam menemukan maupun memecahkan masalah yang disoroti dalam
pembelajaran IPS. Dengan kata lain, guru kurang mendesain model dan metode
pembelajaran yang bervaiasi untuk membangkitkan motivasi dan semangat belajar
peserta didik sehingga kegiatan pembelajaran kurang efektif yang pada akhirnya berdampak
pada pencapaian hasil belajar.
Kenyataan dan situasi pembelajaran di atas turut mempengaruhi pencapaian
hasil belajar IPS kelas IV SDK Tentang
II. Analisis data hasil ujian semester I
dapat dilihat pada lampiran 19.
Berdasarkan data pratindakan
(nilai ujian
semester I) pada
lampiran 9; dari 39 siswa kelas IV SDK Tentang II
diperoleh informasi sebagai
berikut:
Ø Dari jumlah siswa 39 orang, terdapat 22 siswa yang memperoleh nilai mencapai KKM 65, sedangkan 17 siswa nilai yang diperoleh belum mencapai KKM 65. Dengan
demikian jumlah siswa yang tuntas adalah 22
orang dan yang tidak tuntas adalah 17 orang.
Ø Persentase siswa yang tuntas, yaitu
x 100 % = 56,41 %, sedangkan yang
tidak tuntas yaitu
x 100 % = 43,59 %.
Ø Ketuntasan secara klasikal yaitu 56,41
%; belum mencapai standar yang
telah ditetapkan yaitu 70 %.
Ø Nilai rata-rata yang diperoleh siswa yaitu 67,54.
4.1.2 Pelaksanaan
Siklus I
a. Perencanaan
Mengacu pada hasil wawancara pratindakan, diperoleh gagasan umum bahwa
hasil belajar IPS siswa kelas IV masih rendah. Dari hal tersebut, muncul
kepedulian akan pentingnya peningkatkan hasil belajar IPS kelas IV SDK Tentang II. Oleh sebab itu salah satu cara
yang ditempuh untuk mengatasi masalah tersebut adalah menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD. Selanjutnya peneliti mempersiapkan silabus dan perangkat
pembelajaran yang terdiri dari RPP dengan model pembelajaran kooperatif tipe
STAD, LKS, lembar observasi siswa secara individual maupun kelompok, lembar
keterlaksanaan RPP dan soal tes akhir. Disamping itu peneliti meminta guru mata
pelajaran IPS kelas IV untuk bertindak sebagai observer selama proses
pembelajaran berlangsung.
b.
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan pembelajaran siklus I dilaksanakan berdasarkan rencana
pembelajaran yang telah dibuat. Dalam pelaksanaan tindakan, guru mata pelajaran
IPS berperan sebagai observer sedangkan peneliti melaksanakan proses
pembelajaran dengan mengacu pada rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah
disiapkan dengan indikator pada materi perkembangan teknologi produksi dan
transportasi. Peneliti sebagai guru model melaksanakan penelitian berdasarkan
langkah-langkah penelitian guna memperoleh data dari hasil penelitian.
Siswa
kelas IV selain berperan sebagai siswa yang menerima pelajaran sekaligus
sebagai subjek penelitian. Sebagai siswa, melaksanakan kewajiban untuk
mengikuti seluruh rangkaian proses pembelajaran yang telah direncanakan guru.
Sedangkan sebagai subjek penelitian, siswa secara mandiri maupun kelompok
mengikuti tahapan yang telah direncanakan tanpa tekanan dari peneliti. Proses
pembelajaran dilaksanakan dalam waktu 2 x 35 menit. Materi ajar yang diberikan
pada pertemuan ini adalah perkembangan
teknologi produksi dan transportasi yang dialokasikan dalam dua pertemuan.
Setiap pertemuan, sebelum
mulai proses pembelajaran peneliti mengecek kehadiran siswa. Pada pertemuan pertama
dan kedua siklus I semua siswa hadir mengikuti kegiatan pembelajaran. Setelah
mengecek kehadiran siswa, guru meminta salah seorang siswa untuk memimpin doa
sebelum pembelajaran. Kemudian, guru melanjutkan proses pembelajaran dengan
menyampaikan topik atau judul materi yang akan dipelajari dan menuliskannya di
papan tulis. Proses pembelajaran selanjutnya dilaksanakan dengan mengikuti
fase-fase pada pembelajaran kooperatif tipe STAD. Kegiatan siswa dalam kelompok
meliputi diskusi, mempresentasi hasil diskusi
dan kuis (saling memberi pertanyaan). Pelaksanaan kegiatan tersebut
diarahkan guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran.
c. Observasi
Pada saat berlangsungnya proses pembelajaran dilakukan observasi. Pada
tahap ini guru mata pelajaran IPS bertindak sebagai observer dengan posisi duduk berada di belakang tempat
duduk siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Observer juga melakukan
observasi terhadap kinerja siswa dengan menggunakan format observasi terhadap
kinerja siswa secara individu maupun kelompok. Kinerja siswa baik secara
individu maupun kelompok dikatakan ‘berhasil’ apabila rata-rata nilai
kinerja individu maupun kelompok mencapai nilai minimal 85 atau berada pada
kategori ‘Baik’. Selain itu, pengamat dengan menggunakan format yang
telah disediakan melakukan observasi terhadap kinerja peneliti (guru model)
yaitu keterlaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan rencana pelaksanaan
pembelajaran. Hasil kinerja siswa secara individu maupun kelompok dan kinerja
guru pada siklus I dapat dilihat pada tabel 4.2, tabel 4.3 dan tabel 4.4.
1. Kinerja Siswa Secara Individu
Pengamatan aktivitas siswa secara
individu dilakukan untuk memperoleh informasi keterlibatan siswa dalam kegiatan
pembelajaran dan menyelesaikan LKS tentang materi pembelajaran yang dibahas. Hasil
kinerja siswa secara individu dapat dilihat pada lampiran 13. Berdasarkan data tersebut
diperoleh informasi bahwa dari 39 siswa yang dibagi dalam 8 kelompok, terdapat 10 siswa yang memperoleh nilai pada kategori ‘Kurang Baik’, 23 siswa memperoleh nilai pada kategori ‘Cukup Baik’
dan 6 siswa berada pada kategori ‘
Baik”. Total bobot yang diperoleh siswa adalah 540 sehingga rata-rata bobot yang diperoleh siswa yaitu
= 13,85 dan total Nilai Kinerja Individu (NKI) siswa adalah 2695 sehingga rata-rata nilai yang diperoleh siswa dalah
= 69,10. Bobot 13,85 dan nilai 69,10 ini berada pada kategori ‘Cukup Baik’. Jadi berdasarkan hasil analisis di atas, rata-rata
kinerja siswa secara mandiri dalam kelompok berada pada kategori ‘Cukup Baik’. Hasil ini belum
mencapai standar yang ditargetkan, yaitu secara klasikal kinerja siswa berada
pada kategori ‘Baik’.
2. Kinerja Siswa Secara Kelompok
Pengamatan aktivitas siswa secara
kelompok dilakukan untuk memperoleh informasi kinerja siswa secara tim dalam
aspek kerja sama untuk pencapaian prestasi, keaktifan, saling menghargai antar
kelompok dan keberanian memberikan tanggapan dalam menyelesaikan LKS. Hasil
kinerja siswa siswa secara kelompok dapat dilihat pada lampiran 16. Berdasarkan data tersebut
diperoleh informasi, yaitu dari 8 kelompok terdapat 2 kelompok yang memperoleh nilai pada
kategori ‘Kurang Baik’; 5 kelompok yang mendapat nilai pada
kategori ‘Cukup Baik’, dan
1 kelompok yang mendapat nilai pada kategori ‘Baik’. Kelompok yang mendapat bobot tertinggi adalah
kelompok Merpati yaitu 17 dengan nilai 85. Berdasarkan kriteria
keberhasilan kinerja siswa
maka dari jumlah 8 kelompok tersebut terdapat 6 kelompok yang belum berhasil dan 1 kelompok yang berhasil. Kelompok yang belum berhasil ini disebabkan karena anggota
kurang aktif dalam berdiskusi serta kurang teliti
dalam menyelesaikan LKS. Namun secara umum siswa terlibat aktif dalam
diskusi kelompok, saling bekerja sama dalam mengerjakan LKS dan anggota
kelompok menyumbangkan ide atau pendapat untuk keberhasilan kelompok masing-masing.
Rata-rata perolehan skor setiap kelompok adalah
x = 14,13 dan nilai
rata-rata kinerja kelompok adalah
= 70,00. Bobot 14,13 dan nilai 70 berada pada kategori ‘Cukup Baik’.
Berdasarkan kriteria ini,
maka secara umum kinerja siswa secara berkelompok berada pada kategori ‘Cukup Baik’. Hasil ini belum
mencapai standar yang ditargetkan, yaitu secara klasikal kinerja siswa berada
pada kategori ‘Baik’.
3. Kinerja Guru
Pengamat melakukan
observasi terhadap kinerja guru pada saat proses pembelajaran dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sesuasi
dengan langkah-langkah yang
telah direncanakan dalam RPP.
Hasil kinerja guru dapat dilihat pada lampiran 18. Berdasarkan data tersebut
diperoleh informasi bahwa terdapat 32 aspek penilaian dengan rentangan skor 1 - 4 sehingga skor maskimal yaitu 32 x 4 = 128. Skor yang
diperoleh guru dalam pelaksanaan pembelajaran adalah 114. Dari perolehan skor ini dapat diperoleh persentase
yaitu
x 100 % = 89,06 %. Berdasarkan perolehan skor dan persentase ini maka secara umum guru
telah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sesuai dengan
langkah-langkah pembelajaran yang telah direncanakan dalam RPP.
Diakhir
pertemuan siklus I, siswa diberikan tes akhir untuk memperoleh hasil belajar
siswa sehingga peneliti memperoleh data tentang tingkat pemahaman dan
penguasaan konsep terkait dengan materi yang diberikan. Hasil tes akhir dapat dilihat pada lampiran 20. Berdasarkan data yang tersebut diperoleh informasi, sebagai berikut:
Ø
Dari
jumlah siswa 39 orang yang mengikuti tes, terdapat 25 siswa yang memperoleh nilai mencapai KKM 65, sedangkan 14 siswa nilai yang diperoleh belum mencapai KKM 65. Dengan
demikian jumlah siswa yang tuntas adalah 25 orang dan yang tidak tuntas adalah 14 orang.
Ø
Persentase
siswa yang tuntas, yaitu
x 100 % = 64,10 % sedangkan yang
tidak tuntas yaitu
x 100 % = 39,40 %.
Ø
Ketuntasan
secara klasikal yaitu 64,10 %; belum mencapai standar yang telah ditetapkan yaitu 70
%.
Ø
Nilai
rata-rata yang diperoleh siswa yaitu 70,00.
Berdasarkan
hasil nilai tes siklus I dibandingkan dengan data awal (nilai ujian semester I),
diperoleh skor perkembangan individu dan kelompok siswa seperti yang disajikan
dalam lampiran 21 dan lampiran 22, yaitu:
Ø Dari
jumlah 39 siswa terdapat 2 siswa yang mendapat 0 poin, 15 siswa yang mendapat
10 poin, 16 siswa yang mendapat 20 poin dan 6 siswa mendapat 30 poin.
Ø Dari
jumlah 8 kelompok tidak ada kelompok yang mendapat 0 poin, terdapat 5 kelompok
yang mendapat 10 poin, 2 kelompok yang mendapat 20 poin dan 1 kelompok mendapat
30 poin.
Ø Kelompok
yang mendapat kualifikasi tim hebat (super team) yaitu kelompok Tekukur.
d. Refleksi
Pada tahap refleksi, peneliti dan guru mata pelajaran IPS mendiskusikan
dan merefleksikan tingkat ketercapaian hasil belajar IPS, baik kinerja siswa
selama pembelajaran maupun hasil tes setelah diberikan tindakan sehingga
diperoleh data tingkat keberhasilan penelitian. Dari hasil refleksi ini
peneliti menemukan kekurangan bahwa persentase ketuntasan belajar klasikal
hanya 64,10 % sementara standar yang ditetapkan adalah 70 %. Selain itu data
hasil observasi menunjukan bahwa kinerja siswa masih berada dalam kategori “Cukup
Baik”. Kenyataan ini mendorong peneliti untuk melakukan pembenahan dalam
proses pembelajaran khususnya untuk memberi perhatian yang intensif terhadap
kinerja setiap kelompok. Dengan demikian cukup alasan bagi peneliti untuk
melanjutkan tindakan pada siklus II.
4.1.3 Pelaksanaan
Siklus II
a.
Perencanaan
Mengacu pada nilai hasil tes dan refleksi pada akhir siklus
I, bahwa ditemukan beberapa kelemahan dalam proses pembelajaran, maka dibuat
perencanaan siklus II. Materi pada siklus II, yaitu perkembangan teknologi
komunikasi dan pemanfaatan teknologi dalam kehidupan sehari-hari yang dialokasikan dalam dua
pertemuan sehingga perlu dibuat dua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan
desain model pembelajaran kooperatif tipe STAD, Lembar Kerja Siswa (LKS),
lembar observasi siswa secara individu maupun kelompok, lembar keterlaksanaan
RPP dan soal tes akhir. Disamping itu peneliti tetap meminta guru mata
pelajaran IPS kelas IV untuk bertindak sebagai observer selama proses
pembelajaran berlangsung.
b. Pelaksanaan
Selama pelaksanaan kegiatan pada siklus II semua siswa kelas IV hadir
mengikuti pembelajaran. Selama berlansungnya kegiatan pembelajaran, guru mata
pelajaran berperan sebagai observer sedangkan peneliti melaksanakan proses
pembelajaran dengan mengacu pada rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah
disiapkan dengan indikator pada materi perkembangan teknologi komunikasi .dan
pemanfaatan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Peneliti melaksanakan
penelitian berdasarkan langkah-langkah penelitian guna memperoleh data dari
hasil penelitian.
Setiap pertemuan, sebelum memulai proses pembelajaran, peneliti mengecek
kehadiran siswa, kemudian meminta salah seorang siswa untuk memimpin doa
sebelum pembelajaran. Selanjutnya guru/peneliti melaksanakan proses
pembelajaran dengan menyampaikan topik atau judul materi yang akan dipelajari
dan menuliskannya di papan tulis. Proses pembelajaran selanjutnya dilaksanakan
dengan mengikuti fase-fase pada pembelajaran kooperatif tipe STAD. Kegiatan siswa
dalam kelompok meliputi diskusi, menyelesaikan LKS, dan kuis (saling memberi
pertanyaan). Pelaksanaan kegiatan tersebut diarahkan guru sebagai fasilitator
dalam proses pembelajaran.
c. Observasi
Pada saat berlangsungnya proses pembelajaran dilakukan observasi. Pada
tahap ini guru mata pelajaran bertindak sebagai observer dengan posisi duduk berada dibelakang tempat
duduk siswa dan sewaktu-waktu berjalan dari kelompok ke kelompok untuk
melakukan observasi kinerja siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Pengamat
menggunakan format observasi terhadap kinerja siswa secara individu maupun
kelompok dan kinerja guru yaitu pelaksanaan pembelajaran disesuaikan dengan
rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat. Kinerja siswa sebagai
subjek penelitian dan kinerja peneliti (guru model) disajikan dalam tabel hasil
kinerja siswa secara individu dan kelompok serta kinerja guru/peneliti dalam
kegiatan pembelajaran melalui keterlaksanaan RPP.
1. Kinerja Siswa Secara Individu
Pengamatan aktivitas siswa secara
individu dilakukan untuk memperoleh informasi keterlibatan siswa dalam kegiatan
pembelajaran dan menyelesaikan LKS tentang materi pembelajaran yang dibahas. Hasil
kinerja siswa secara individu disajikan dalam lampiran 28. Berdasarkan data tersebut
diperoleh informasi bahwa dari 39 siswa yang dibagi dalam 8
kelompok, terdapat 10 siswa yang mendapat bobot dan nilai pada kategori ‘Cukup Baik’ dan 29 siswa mendapat bobot dan nilai kategori ‘Baik’. Total bobot yang diperoleh siswa secara klasikal adalah 671 sehingga rata-rata bobot yang diperoleh siswa yaitu
= 17,21; dan total nilai siswa secara klasikal adalah 3355
sehingga rata-rata
Nilai
Kinerja Individu (NKI) yang diperoleh siswa dalah
= 86,03. Bobot 17,21 dan nilai 86,03 ini berada pada kategori ‘Baik’. Jadi berdasarkan hasil analisis di atas, rata-rata
kinerja siswa secara mandiri dalam kelompok berada pada kategori ‘Baik’. Berdasarkan hasil
kinerja siswa ini, kriteria keberhasilan pembelajaran secara klasikal sudah
mencapai target yaitu kinerja siswa berada pada kategori ‘Baik’
2. Kinerja Siswa Secara Kelompok
Pengamatan aktivitas siswa secara
kelompok dilakukan untuk memperoleh informasi kinerja siswa secara tim dalam
aspek kerja sama untuk pencapaian prestasi, keaktifan, saling menghargai antar
kelompok dan keberanian memberikan tanggapan dalam menyelesaikan LKS. Hasil kinerja siswa siswa secara kelompok disajikan pada
lampiran 29. Berdasarkan data tersebut
diperoleh informasi, yaitu dari 8
kelompok terdapat 1 kelompok yang memperoleh nilai
pada kategori ‘Cukup Baik’; dan
7 kelompok yang mendapat nilai pada
kategori ’Baik’. Kelompok
yang mendapat skor tertinggi adalah
kelompok Rafflesia yaitu 19 dengan nilai 95. Keberhasilan kelompok meraih
prestasi karena keaktifan anggota kelompok dalam diskusi, teliti dalam mengerjakan LKS, menyumbangkan pikiran dan bekerja sama untuk keberhasilan kelompok, serta memiliki ambisi untuk menjadi kelompok terbaik.
Rata-rata perolehan skor setiap kelompok adalah
= 17,25 dan nilai
rata-ratanya adalah
= 86,25. Bobot 17,25 dan nilai 86,25 berada pada kategori ‘Baik’. Berdasarkan kriteria
keberhasilan kinerja siswa,
maka kinerja siswa secara berkelompok pada siklus II
ini telah memenuhi standar berhasilan pembelajaran yang efektif.
3. Kinerja
Guru
Pengamat melakukan observasi terhadap
kinerja guru pada saat proses pembelajaran disesuaikan
dengan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang telah direncanakan
dalam RPP. Hasil kinerja guru disajikan pada
lampiran 31. Berdasarkan data tersebut diperoleh informasi bahwa terdapat 32 aspek penilaian dengan rentangan skor 1 - 4 sehingga skor maskimal yaitu 32 x 4 = 128. Skor yang
diperoleh guru dalam pelaksanaan pembelajaran yaitu 126,
sehingga persentase keterlaksanaan RPP adalah
x 100 % = 98,44 %. Berdasarkan perolehan skor dan persentase ini maka penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD telah maksimal dalam pelaksanaannya oleh guru sesuai dengan
langkah-langkah pembelajaran yang telah direncanakan dalam RPP sehingga hasil belajar dan kinerja siswa kelas IV SDK Tentang II dalam pembelajaran IPS meningkat secara signifikan.
Diakhir
pertemuan siklus II, siswa diberikan tes akhir untuk memperoleh informasi
tentang tingkat pemahaman dan penguasaan konsep terkait dengan materi yang
diberikan. Hasil tes akhir siklus II disajikan pada
lampiran 33. Berdasarkan data tersebut diperoleh informasi, sebagai berikut:
Ø
Dari
jumlah siswa 39 orang yang mengikuti tes, terdapat 36 siswa yang memperoleh nilai mencapai KKM 65, sedangkan 3 siswa nilai yang diperoleh belum mencapai KKM 65. Dengan
demikian jumlah siswa yang tuntas adalah 36 orang dan yang tidak tuntas adalah 3 orang.
Ø
Persentase
siswa yang tuntas, yaitu
x 100 % = 92,31 %, sedangkan yang tidak tuntas yaitu
x 100 % = 7,69 %.
Ø
Ketuntasan
secara klasikal yaitu 92,31 %; sudah mencapai standar yang telah ditetapkan yaitu 70
%.
Ø
Nilai
rata-rata yang diperoleh siswa yaitu 78,59.
Berdasarkan
hasil nilai tes siklus II dibandingkan dengan data awal (nilai tes siklus I),
diperoleh skor perkembangan individu dan kelompok siswa seperti yang disajikan
dalam lampiran 36 dan lampiran 37, yaitu:
Ø Dari
jumlah 39 siswa tidak ada siswa yang mendapat 0 poin, terdapat 2 siswa yang
mendapat 10 poin, 26 siswa yang mendapat 20 poin dan 11 siswa mendapat 30 poin.
Ø Dari
jumlah 8 kelompok terdapat tidak ada kelompok yang mendapat 0 poin, terdapat 1 kelompok yang mendapat 10 poin, 4 kelompok
yang mendapat 20 poin dan 3 kelompok mendapat 30 poin.
Ø Kelompok
yang mendapat kualifikasi tim hebat (super team) yaitu kelompok Merpati,
Cendrawasih dan Kakatua.
a. Refleksi
Pada tahap refleksi, peneliti dan guru mata pelajaran IPS mendiskusikan
dan merefleksikan tingkat ketercapaian hasil belajar IPS, baik yang terkait
dengan proses maupun hasil dalam rangka menentukan tingkat keberhasilan
penelitian. Dari hasil refleksi ini peneliti menemukan hasil dengan persentase
ketuntasan belajar siswa pada siklus II adalah 92,31%. Persentase ini dan sudah
mencapai standar minimal yang diharapkan bahkan telah melebihi 70 %. Sedangkan
kinerja siswa pada siklus II padaberada kategori ‘Baik’. Kedua hal ini
mengindikasikan bahwa pelaksanaan proses pembelajaran sudah berjalan dengan
baik. Dengan demikian yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah
memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada. Berdasarkan data-data di
atas maka peneliti memutuskan untuk tidak melanjutkan penelitian pada siklus
berikutnya.
4.2 Pembahasan
Data
awal menunjukkan bahwa secara klasikal hasil belajara IPS siswa kelas IV SDK
Tentang II belum maksimal mencapai target yang diharapkan. Hal ini diketahui
berdasarkan hasil wawancara guru mata pelajaran IPS SDK Tentang II tentang
kegiatan pembelajaran IPS, mengungkapkan bahwa, “Selama ini pelaksanaan
pembelajaran IPS belum secara memadai dan belum mencapai hasil yang maksimal
sesuai tuntutan kurikulum maupun kompetensi yang hendak dicapai siswa. Hal ini
terlihat dari nilai ketuntasan pada ujian semester I mata pelajaran IPS yang
secra klasikal hanya mencapai 56,41
%, yaitu 22 dari 39 siswa kelas IV mencapai KKM 65 yang telah ditetapkan oleh SDK
Tentang II. Sementara target
yang ingin dicapai oleh mata pelajaran IPS SDK Tentang II adalah ketuntatasan secara klasikal minimal mencapai 70
%. Ini berarti bahwa minimal 28 dari 39 siswa kelas IV mencapai nilai KKM 65. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar IPS siswa kelas IV
SDK tentang II masih rendah (data
terlampir).”
Bertolak dari
teori-teori tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang
menekankan pada aspek kerja sama secara tim untuk mencapai prestasi belajar;
sangatlah efektif apabila diterapkan
pada pembelajaran IPS. Oleh karena itu peneliti berpikir bahwa salah satu
alternatif untuk memecahkan masalah rendahnya hasil belajar IPS siswa kelas IV
SDK Tentang II dengan menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai pembelajaran berkelompok yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 5 orang yang bersifat heterogen.
bekerja secara tim untuk mencapai tujuan yang sama. Dalam pembelajaran siswa diarahkan untuk melakukan kegiatan
pembelajaran secara tim untuk mencapai prestasi belajar. Pemikiran ini didukung
oleh penelitian terdahulu tentang efektifnya penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD dalam pembelajaran IPS.
Model kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal
ini diketahui berdasarkan hasil tes dan observasi aktivitas siswa baik secara
individu maupun kelompok dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran
IPS dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD, secara klasikal hasil belajar
IPS siswa sudah meningkat, hal ini ditunjukkan dengan tes hasil belajar pada
siklus I ketuntasan secara klasikal yaitu 64,10 %, setelah diberikan
tindakan pada siklus II ketuntasan
secara klasikal meningkat yaitu 92,31 %. Hasil observasi aktivitas individu maupun kelompok
pada siklus I berada pada katogori ‘Cukup Baik’ (data hasil observasi
terlampir); setelah diberikan tindakan pada siklus II terjadi peningkatan,
yakni berada pada kategori ‘Baik’ (data hasil observasi terlampir).
Hasil observasi nilai kinerja guru dalam dalam pelaksanaan pembelajaran pada
siklus I yaitu 89,06 sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 98,44. Dari hasil data pratindakan dan tes siklus I telah
terjadi peningkatan nilai rata-rata dan persentase ketuntasan belajar klasikal.
Pada hasil data pratindakan nilai rata-rata siswa adalah 67,54 dan persentase ketuntasan belajar klasikal adalah 56,41
% (data nilai siswa terlampir). Setelah diberikan tindakan pada siklus I, nilai
rata-rata hasil tes dan persentase ketuntasan belajar klasikal terjadi
peningkatan yakni nilai rata-rata menjadi 71,23 dan ketuntasan belajar klasikal
menjadi 64,10 %. Selanjutnya nilai
rata-rata hasil tes dan ketuntatasan belajar klasikal pada siklus II terjadi
peningkatan dengan nilai rata-rata adalah 78,59 dan persentase ketuntasan
belajar klasikal yaitu 92,31 %. Selanjutnya, skor perkembangan belajar siswa
secara individu maupun kelompok mengalami peningkatan pada siklus I dan siklus
II (data pada lampiran 21, lampiran 22,
lampiran 36 dan lampiran 37).
Hasil belajar
IPS kelas IV pada pratindakan, siklus I dan siklus II disajikan dalam tabel 4.1; sedangkan data
nilai kinerja siswa secara individu dan kelompok serta kinerja peneliti melalui keterlaksanaan
RPP disajikan dalam tabel 4.2.
Tabel 4.1 Hasil Belajar IPS Siswa Kelas
IV Pratindakan, Siklus I, dan Siklus II.
|
Tindakan
|
Nilai
Rata-rata
|
Siswa Tuntas
|
Siswa Belum Tuntas
|
Persentase Ketuntasan Klasikal
|
Keterangan
|
|
Pratindakan
|
67,54
|
22
|
17
|
56,41 %
|
Belum Tuntas
|
|
Siklus I
|
70,00
|
25
|
14
|
64,10 %
|
Belum Tuntas
|
|
Siklus II
|
78,59
|
36
|
3
|
92,31%
|
Tuntas
|
Tabel 4.2 Nilai Kinerja
Siswa dan Kinerja
Guru dalam Pembelajaran
|
JENIS DATA
|
SIKLUS I
|
SIKLUS II
|
|
Nilai Kinerja Individu
|
69,10
|
86,03
|
|
Nilai Kinerja Kelompok
|
70,00
|
86,25
|
|
Nilai Kinerja Guru
|
89,06
|
98,44
|
Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada
pratindakan, siklus I dan siklus II disajikan dalam diagram berikut:
|
NR-ST II
|
|
NR-ST II
|
|
NR-ST II
|
|
TINDAKAN
|
|
100
95
90
85
80
75
70
65
60
55
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
|
|
67,54
|
|
70,00
|
|
|
|
NILAI
|
|
78,59
|
|
Keterangan:
: Nilai Rata-rata Pratindakan
: Nilai Rata-rata Setelah Tindakan Siklus I
: Nilai Rata-rata Setelah Tindakan Siklus II
|
Persentase ketuntasan klasikal
pratindakan, siklus I dan siklus II disajikan dalam diagram berikut:
|
100
95
90
85
80
75
70
65
60
55
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
|
|
56,41
%
|
|
64,10
%
|
|
PRESENTASE
|
|
HASIL
BELAJAR
|
|
92,31 %
|
Diagram 4.2
Ketuntasan Klasikal Pratindakan, Siklus
I dan
Siklus II
|
Keterangan:
: Persentase
Ketuntasan Belajar
Klasikal Praindakan
:
Persentase Ketuntasan Belajar Klasikal setelah Tindakan Siklus I
:
Persentase Ketuntasan Belajar Klasikal setelah Tindakan Siklus II
|
Nilai kinerja siswa dan kinerja guru pada
tabel di atas dapat disajikan
dalam diagram 4.3 di bawah ini.
|
100
95
90
85
80
75
70
65
60
55
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
|
|
69,10
|
|
70,00
|
|
NILAI
|
|
KINERJA
SISWA
|
|
NILAI
|
|
86,03
|
|
86,25
|
Diagram 4.3
Nilai Kinerja Individu dan Kelompok pada Siklus I dan II
|
Keterangan:
: Nilai Kinerja Individu Siklus I
: Nilai Kinerja Kelompok
Siklus I
:
Nilai Kinerja Individu Siklus II
: Nilai Kinerja Kelompok
Siklus II
|
Nilai kinerja guru dalam pembelajaran
pada siklus I dan II dapat disajikan dalam diagram 4.4. berikut.
|
NILAI
|
|
SIKLUS I
|
|
SIKLUS II
|
|
89,63
|
|
98,44
|
|
TINDAKAN
|
|
100
95
90
85
80
75
70
65
60
55
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
|
Digram 4.4
Nilai Kinerja Guru pada Siklus I dan II
|
Keterangan:
: Nilai Kinerja Guru
pada Siklus I
: Nilai Kinerja Guru
pada Siklus II
|
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil
penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan pada bagian terdahulu maka
penulis menyimpulkan beberapa hal berkaitan dengan hasil belajar dan kinerja
siswa kelas IV SDK Tentang II pada pembelajaran IPS dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe
STAD, yaitu:
1. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD
memberikan dampak positif terhadap hasil belajar IPS siswa kelas IV SDK Tentang II. Dampak positif ini yaitu
peningkatan hasil belajar secara
signifikan yang secara rinci terlihat
pada indikator perkembangan
pemahaman siswa dalam menerima materi pembelajaran melalui perolehan nilai
setelah diberikan tindakan pada setiap siklus. Peningkatan
hasil belajar ini secara jelas dapat
dilihat dari meningkatnya persentase hasil belajar dari siklus I ke siklus II. Pada
siklus I nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 70,00 sedangkan pada siklus II yaitu 78,59. Apabila dilihat dari persentase, pada siklus I persentase
hasil belajar siswa adalah 64,10 %, dan pada
silkus II adalah 92,31 %. Jadi,
peningkatan nilai rata-rata hasil belajar IPS kelas IV SDK Tentang II dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe
STAD yaitu 8,59 dengan peningkatan persentase belajar sebesar 28,21 %.
2.
Penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan kinerja siswa kelas IV SDK Tentang
II dalam pembelajaran IPS. Peningkatan kinerja siswa ini, dapat dilihat dari
perolehan skor dan persentase kinerja siswa dalam berdiskusi kelompok baik
secara individu maupun berkelompok pada setiap siklus. Pada siklus I
rata-rata bobot kinerja siswa secara individu dalam kelompok adalah 13,85 dengan nilai rata-rata 69,10 dengan
kategori ‘Cukup Baik’.
Pada siklus II rata-rata perolehan bobot siswa secara individu dalam kelompok
adalah 17,21 dengan nilai rata-rata 86,03
dengan kategori ‘Baik’.
Selain peningkatan kinerja siswa secara individu dalam kelompok, kinerja siswa secara kelompok/tim
dalam berdiskusi juga mengalami peningkatan dar
i siklus I ke siklus II. Pada siklus I rata-rata
perolehan bobot setiap kelompok adalah 14,13 dengan nilai rata-rata setiap kelompok yaitu 70,00
dengan kategori ‘Cukup Baik’;
sedangkan pada siklkus II perolehan rata-rata bobot setiap kelompok adalah 17,25 dengan nilai rata-rata 86,25 dengan kategori ‘Baik’. Dengan
demikian peningkatan kinerja siswa dari siklus I ke siklus II, yaitu dari
kategori ‘Cukup Baik’ menjadi kategori ‘Baik’. Skor perkembangan
belajar juga mengalami peningkatan pada siklus I dan siklus I.
3. Perkembangan hasil belajar dan kinerja siswa
meningkat seiring dengan
perkembangan peningkatan kinerja guru dalam mendesain model pembelajaran
kooperatif tipe STAD pada siklus I dan Siklus II. Pada siklus I persentase
keterlaksanaan RPP adalah 90,63 % dan pada siklus II adalah 98,44 %. Jadi, peningkatan persentase kinerja guru adalah 7,81 %.
5.2
Saran
Kiranya dengan
diselesaikannya tulisan ini, memberikan secuil harapan bagi:
1.
Guru di SDK Tentang II
agar memilih model
pembelajaran yang sesuai dengan karateristik mata pelajaran; lebih dari itu
ditawarkan untuk mencoba mendesain
model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar siswa baik pada
mata pelajaran IPS maupun mata
pelajaran lain yang relevan.
2. Para calon guru yang sedang mempersiapkan diri di
lembaga pendidikan tinggi untuk membekali diri dengan
desain model pembelajaran kooperatif
tipe STAD sebagai salah satu model pembelajaran yang efektif dalam
meningkatkan hasil belajar.
3. Para
guru SD untuk melakukan penelitian dengan menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD pada mata pelajaraan lainnya.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abdurrahman, M., 2009. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
BSNP., 2007., Standar
Isi 2006. Jakarta: Diktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan
Menengah.
Dandang., 2012. "Upaya Meningkatkan Minat
Belajar IPS Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement
Divisions Bagi Siswa Kelas V SDN 02 Sumberejo Wonosobo" (dadankpgsd.blogspot.com/2012/01/skripsi.html;
diakses Senin 22 April 2013)
Djamarah, S.B. dan Aswan, Zaiwan., 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:
Rineka Cipta
Fajar, A.,
2004. Portofolio Dalam
Pembelajaran IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya Officet.
Hamalik, O., 2008. Kurikulun dan Pembelajaran. Jakarta:
Sinar Grafika
Isjoni., 2007., Cooperative
Learning; Efektifitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta.
Kunandar., 2008. Guru
Profesional (implementasi kurikulun tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan sukses
dalam sertifikasi guru). Jakarta: Raja Gravindo Persada.
Munadi, Y., 2008. Media Pembelajaran (Sebuah Pendekatan Baru).
Jakarta: Gaung Persada Press.
Nashar., 2004. Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal dalam
Kegiatan Pembelajaran. Jakarta. Delia Peres.
Makhrus, M, et al., 2008. Metode Pembelajaran IPA; Panduan untuk Guru dan Orang Tua. Jakarta:
Azka Press.
Ndiung, S., 2006. Teori-teori
Belajar (tidak untuk dipublikasikan). Ruteng: STKIP St. Paulus.
Payong, M. R., 2009,
(1), Efek Terselubung Bias Kultural
Terhadap Kemampuan Siswa di Sekolah, “Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
MISSIO”, Vol. 1, No. 1, Hal. 7-17
____________________., 2010, Penelitian Tindakan Kelas (tidak untuk
dipublikasikan). Ruteng: STKIP St. Paulus
Rusman., 2011. Model-model
Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT Raja Grafindi
Persada.
____________., 2008. Pembelajaran
dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Prenada Media
Group.
____________., 2010. Strategi
Berorentasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Senena, E., 2006. Mengatasi
Kesulitan Belajar Anak SD Kelas Tinggi dalam Pembelajaran Sains (tidak untuk
dipublikasikan). Ruteng: STKIP St. Paulus.
Sennen, E., 2003. Teori
Belajar dan Pembelajaran (tidak untuk dipublikasikan). Ruteng: STKIP St.
Paulus.
Solihatin, E
dan Raharjo., 2005. Cooperative Learning;
Analisis Model Pembelajaran IPS. Jakarta: Bumi Aksara.
Sapriya., 2009. Pendidikan
IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya
Officet.
Sukajati., 2008. Penelitian
Tindaklan kelas di SD. Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan
Pendidik dan Tenaga Pendidikan Matematika.
Suranti dan Eko Setiawan Saptiarso., 2008. Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SD dan MI kelas IV. Jakarta: Pusat
Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Taneo, dkk., 2008. Pengembangan Pembelajaran IPS di SD.
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
Tapung, M. M., 2012. Dialektika Filsafat dan Pendidikan;
Penguatan Filosofis atas Konsep dan Praksis Pendidikan. Jakarta : Parrhesia
Institute.
Thachir, A. M., 2011. lmu
Pengetahaun Sosial untuk SD/MI Kelas IV. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.
Trianto., 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, Konsep, Landasan Teoritis-Paraktis dan
Implementasinya. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Thobroni dan Arif Mustofa., 2011. Belajar & Pembelajaran; Pengembangan Wacana dan Praktik
Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional. Jogyakarta:
Ar-Ruzz Media.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Utami, S., 2009.,“Penerapan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Student Team Achievement Devision (STAD) dalam Meningkatkan
Prestasi Belajar IPS pada Siswa Kelas V SD Negeri Tunggulsari Kecamatan Laweyan
Surakarta Tahun Pelajaran 2008/2009 (http://dglib.uns.ac.id/pengguna.php?mn=showview&id=4717; diakses Rabu, 24 April 2013)
Wahyu, Y., 2010. Pembelajaran
Sains (tidak untuk dipublikasikan). Ruteng: STKIP St. Paulus.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar