Powered By Blogger

Jumat, 02 Oktober 2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Memasuki abab ke 21 ini, pendidikan memiliki peran yang amat penting dalam mengubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu pendidikan mendapatkan perhatian yang serius dan selalu didiskusikan pada berbagai kesempatan oleh para pakar pendidikan agar proses maupun hasil lembaga pendidikan mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan yang dihadapi. Evaluasi terhadap proses maupun hasil pendidikan ini dengan mempertimbangkan berbagai aspek dan dimensi kehidupan sosial masyarakat agar memberikan kontribusi yang berarti bagi keberlangsungan hidup manusia sebagai subyek dan obyek pendidikan itu sendiri. Hasil dari berbagai kajian dan evaluasi tersebut memberikan suatu implikasi berupa peluang untuk mendesain kembali sistem dan pola pendidikan namun tanpa mengubah hakikat pendidikan.
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional  Nomor 20 Tahun 2003 (2003 : 4), memberikan penjelasan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian, kecerdasan, keterampilan bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Lebih lanjut, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 (2003 : 5 - 6),  menjelaskan bahwa fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kepribadian dan membentuk watak serta peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya kompetensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi  warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, maka  proses pembelajaran didesain sedemikian rupa agar dapat berjalan secara efektif dan efisien demi terjaminnya sumber daya manusia yang berkualitas.
Implikasi dari defenisi dan tujuan pendidikan ini bahwa pendidikan sebagai salah satu kebutuhan penting manusia untuk memperoleh pengetahuan, pembentukan pribadi dan keterampilan agar mampu berinteraksi dengan lingkungan dalam pemenuhan kebutuhan dan mengekspresikan diri.
Sekolah dasar sebagai salah satu lembaga pendidikan formal yang mengemban tugas membina perilaku dan sikap serta penanaman nilai-nilai hidup agar manusia mengalami perubahan menjadi dewasa sehingga dapat berinteraksi dalam suatu masyarakat serta mampu beradaptasi dengan tuntutan dunia yang kompleks. Lebih dari itu, Tapung (2012 : 75) memberikan pemikiran tentang pentingnya pendidikan bagi individu dalam kelompok masyarakat bahwa melalui pendidikan, manusia dapat hidup bersama membentuk suatu komunitas dan memperkuat hubungan sosial. Sekolah dasar juga berkewajiban mengambil bagian dalam pencapaian tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang diakomodir dalam tujuan pendidikan nasional, sebagaimana yang telah dituangkan dalam Standar Isi (2006 : 12) bahwa “Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.” Dengan demikian proses pendidikan di sekolah dasar dalam rangka memberikan bekal bagi peserta didik baik pengetahuan, sikap maupun keterampilan dasar untuk mempersiapkan diri mengikuti pendidikan pada jenjang selanjutnya.
Senada dengan pemikiran ini, Tapung (2012 : 65) memberikan penegasan betapa pentingnya sebuah proses pendidikan bagi out put pendidikan bahwa tujuan jangka panjang pendidikan adalah untuk menghidupkan, melestarikan dan memperbaiki tatanan kehidupan yang ada dengan cara mengajar setiap siswa bagaimana cara menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari secara efektif. Pemikiran ini memberikan implikasi bahwa seorang pendidik  mengemban tugas berat untuk mampu semaksimal mungkin membekali peserta didik bukan hanya pengetahuan untuk menguasasi materi yang akan diujikan pada saat evaluasi tetapi juga memberikan pendidikan hidup berupa keterampilan, penanaman nilai dan karakter agar memperoleh perubahan positif yang dapat diaplikasikan dalam hidup kesehariannya di masyarakat.
Pembelajaran IPS di sekolah dasar bertujuan agar peserta didik memiliki pengetahuan, kemampuan dan keterampilan serta nilai-nilai hidup yang sesuai dengan tuntutan masyarakat. Pada masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global yang selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan menganalisis terhadap kondisi sosial masyarakat yang dinamis. Pembelajaran IPS di sekolah dasar menekankan pada aspek keterampilan dasar menemukan peristiwa sejarah kehidupan manusia dan gelaja alam yang dihadapi serta memecahkan masalah-masalah sosial baik yang sedang dihadapi maupun masalah kehidupan masa lalu dan masa yang akan datang.
Mengingat pentingnya tujuan dan esensi pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial; Hasan dan Kosasih, (Solihatin, et al., 2005 : 1) menegaskan bahwa pelaksanaan proses pembelajaran IPS harus mampu mempersiapkan, membina dan membentuk kemampuan peserta didik untuk menguasai pengetahuan, pembentukan sikap dan nilai serta kecakapan dasar yang diperlukan bagi kehidupan di masyarakat. Demi tercapainya tujuan IPS tersebut harus didukung oleh iklim pembelajaran yang kondusif yang mestinya dikembangkan oleh guru untuk memberikan pengaruh positif terhadap keberhasilan dan kegairahan belajar siswa. Kualitas pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan ketepatan guru dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran untuk dikembangkan menjadi metode yang bervariasi.
Namun tuntutan ideal pembelajaran IPS ini masih belum optimal dikembangkan pada beberapa satuan pendidikan. Tapung (2012 : 76), memberikan pandangan tentang persoalan pendidikan Indonesia bahwa kemunduran pendidikan di Indonesia akhir-akhir ini selain disebabkan masalah teknis pengelolaan oleh stake holder pendidikan  dan kurangnya fasilitas, juga paling penting adalah masalah model dan metode pembelajaran yang isinya kurang edukatif, kurang membebaskan dan membentuk kesadaran peserta didik. Senada dengan pendapat ini, Nurhadi (Makhrus, et al., 2008 : 2) mengemukakan bahwa sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Selain itu pelaksanaan kegiatan pembelajaran di sekolah dasar didominasi pada penekanan aspek pengetahuan serta kurangnya desain pembelajaran yang mengacu pada keterlibatan aktif peserta didik itu sendiri. Pembelajaran yang demikian tentunya kurang efektif, munculnya rasa jenuh dan membosankan bagi peserta didik. Iklim pembelajaran inilah yang disoroti dalam hasil penelitian yang dilakukan Suwarna (Solihatin, et al. 2005 : 2), bahwa pembelajaran IPS tidak meransang peserta didik.
Sejalan dengan pendapat ini, didukung oleh hasil pengamatan  dan pengalaman penulis selama menjadi guru di sekolah dasar bahwa pembelajaran IPS masih belum optimal melibatkan peserta didik, peran guru masih dominan sehingga peserta didik bersikap pasif.
Selain itu hasil wawancara langsung penulis dengan guru mata pelajaran IPS di SDK Tentang II pada bulan Maret 2013, mengungkapkan bahwa, “Selama ini pelaksanaan pembelajaran IPS belum secara memadai dan belum mencapai hasil yang maksimal sesuai tuntutan kurikulum maupun kompetensi yang hendak dicapai siswa. Hal ini terlihat dari nilai ketuntasan mata pelajaran IPS pada ujian semester I kelas IV tahun pelajaran 2012/2013 yang secara klasikal  hanya mencapai 56,41 %, yaitu 22 dari 39 siswa kelas IV mencapai KKM 65 yang telah ditetapkan oleh SDK Tentang II. Sementara target ketuntasan secara klasikal yang ingin dicapai mata pelajaran IPS SDK Tentang II adalah minimal mencapai 70 %. Ini berarti bahwa minimal 27 dari 39 siswa kelas IV mencapai nilai KKM 65.”
Menurut guru mata pelajaran IPS beberapa kemungkinan faktor yang menyebabkan belum tercapainya ketuntasan klasikal tersebut, antara lain:
1)   Kurang tersedianya sarana dan prasarana yang memadai termasuk media dan alat peraga yang menarik perhatian siswa untuk belajar.
2)   Banyaknya konsep-konsep materi hafalan yang harus dipelajari siswa.
3)   Faktor guru yang mengajar rangkap mata pelajaran berbeda  maupun merangkap kelas berbeda sehingga berpengaruh pada kesiapan guru dalam mendesain metode pembelajaran yang bervariasi.
Selain faktor di atas, berdasarkan berbagai sumber dan pengamatan melalui pengalaman penulis sendiri selama menjadi guru di sekolah dasar dan pengalaman yang sama dialami penulis selama melaksanakan kegiatan Program Pemantapan Lapangan (PPL) pada bulan November 2012 di SDK Tentang II desa Tentang kecamatan Ndoso kabupaten Manggarai Barat tahun pelajaran 2012/2013, ditemukan beberapa hal yang menyebabkan rendahnya minat dan motivasi siswa terhadap pembelajaran IPS di sekolah dasar, yaitu:
1)   Desain pembelajaran yang dimonopoli oleh peran guru inilah sebagai model pembelajaran konvensional yang diwarnai kegiatan pembelajaran berpusat pada guru (teacher centre) sedangkan siswa bersifat pasif (mendengar penjelasan guru) dengan pola interaksi satu arah (dari guru ke siswa).
2)   Siswa kurang dilatih untuk berdiskusi dalam kelompok kecil untuk menemukan pengalaman belajar, menyumbangkan ide dan saling bertanya sehingga kurang membangkitkan semangat dan minat siswa.  
3)   Evaluasi pada proses belajar mengajar hanya menyentuh aspek kognitif, dengan tes sebagai alat evaluasi sesuai dengan materi yang telah diberikan.
Realita yang ditemukan di atas memberikan gambaran tentang situasi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial bahwa keterlibatan siswa belum secara aktif dalam mengikuti pembelajaran; keterampilan dasar yang dituntut dalam pembelajaran IPS pun masih memprihatinkan. Hal inilah diduga akan mempengaruhi hasil belajar IPS yang belum mencapai standar ketuntasan secara klasikal yang ingin dicapai.
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat membuat siswa lebih tertarik menemukan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi pada materi pembelajaran secara berkelompok. Model pembelajaran ini telah berhasil mengubah prestasi belajar dan kinerja siswa serta cocok pada materi-materi yang membutuhkan keterlibatan peserta didik secara aktif. Hal ini dikemukakan oleh Payong (2009 : 16) bahwa pembelajaran kooperatif dari berbagai kajian telah memperlihatkan efektivitasnya dalam meningkatkan pemahaman yang lebih baik untuk siswa yang berasal dari berbagai kultur yang berbeda.
Selanjutnya, Slavin (Solihatin, et al., 2005 : 4), menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang dalam pelaksanaannya siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif dengan anggotanya terdiri dari 4 sampai 6 orang, dan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Dengan demikian model pembelajaran ini efektif jika dalam kelas yang terdiri dari peserta didik dengan kemampuan rendah, sedang, dan tinggi. Siswa yang memiliki kemampuan tinggi dapat membantu teman yang memiliki kemampuan rendah dan sedang. Peserta didik dapat saling berdiskusi menemukan materi dan memecahkan masalah yang ingin dipecahkan secara bersama.
Ada enam tipe pembelajaran kooperatif yaitu: tipe STAD (Student Teams Achievement Division), Jigsaw, Investigasi Kelompok (Group Investigation), Make a Macth (membuat pasangan), TGT (Teams Games Tournamens) dan Struktural (Rusman, 2010 : 213). Keenam model ini merupakan variasi dari pembelajaran kooperatif tanpa mengubah prinsip dasar dari pembelajaran kooperatif. Menurut Isjoni (2007 : 50), pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) dan Jigsaw yang paling banyak dikembangkan oleh para guru. Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini dikembangkan oleh Slavin (Isjoni, 2007 : 50 - 51) sebagai  salah satu  tipe kooperatif yang menekankan pada adanya  aktivitas dan interaksi antar siswa  untuk saling memotivasi dan membantu dalam menguasai materi pembelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Rusman (2010 : 215 - 215), secara rinci menjelaskan enam langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD, yaitu: penyampaian tujuan dan motivasi, pembagian kelompok, presentasi dari guru, kegiatan belajar dalam tim (kerja tim), kuis (evaluasi), dan penghargaan tim. Berdasarkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran ini, maka guru berperan dalam merumuskan tujuan pembelajaran yang meliputi tujuan akademik dan tujuan keterampilan bekerja sama, menentukan jumlah anggota dalam kelompok belajar, menentukan tempat duduk siswa, merancang bahan untuk meningkatkan saling ketergantungan positif. Jadi, hakikat pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah kerjasama antar siswa secara tim dalam kelompok yang heterogen sehingga tujuan pembelajaran dan kompetensi pun tercapai melalui kerja sama tim.
Bertolak dari  tuntutan ideal pembelajaran IPS di sekolah dasar yang dihadapkan pada realita yang terjadi, maka penulis tergugah untuk mencari solusi dengan menawarkan sebuah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Oleh karena itu penulis  mengangkat judul, “UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR  IPS SISWA KELAS IV SDK TENTANG II DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) PADA MATERI PERKEMBANGAN TEKNOLOGI.”

1.2  Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, beberapa masalah yang menyebabkan pembelajaran IPS belum maksimal sesuai tuntutan ideal yang diharapkan oleh kurikulum. Masalah-masalah tersebut diduga oleh beberapa faktor yaitu:
1)      Kegiatan belajar mengajar masih didominasi guru sebagai sumber utama pengetahuan.
2)      Kegiatan pembelajaran atau penyajian materi dominan menggunakan metode ceramah.
3)      Suasana pembelajaran kurang kondusif menyebabkan siswa kurang terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran.
4)      Model dan metode pembelajaran yang kurang relevan.
5)      Rendahnya hasil belajar siswa dalam pembelajaran  IPS.

1.3  Fokus Masalah
Dari masalah-masalah yang telah dirumuskan dalam identifikasi masalah, pada tulisan  ini fokus masalah yang ingin dikaji, yaitu “Rendahnya hasil belajar siswa kelas IV di SDK Tentang II pada pembelajaran IPS.”

1.4   Perumusan Masalah
Masalah yang ingin  dikaji dalam tulisan ini, yaitu: “apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDK Tentang II tahun pelajaran 2012/2013 pada materi perkembangan teknologi?”



1.5  Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) pada materi perkembangan teknologi di SDK Tentang II tahun pelajaran 2012/2013.

1.6  Manfaat Penulisan
Tulisan ini sekiranya dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak terkait, yaitu:
1.      Bagi Sekolah
Hasil tulisan ini kiranya dapat memberikan motivasi bagi sekolah untuk bergiat lebih aktif dalam proses pembelajaran dengan merencanakan strategi-strategi dalam memperbaiki dan mengevaluasi kinerja sekolah khusunya berkaitan dengan kegiatan pembelajaran. Selain itu, sekolah juga menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung keterlibatan aktif siswa dan tentunya tanggung jawab sekolah untuk menciptakan citra positif melalui keberhasilan yang diraih. 
2.      Siswa
Pemahaman siswa tentang materi pembelajaran IPS kiranya dapat berubah dari anggapan IPS sebagai ilmu hafalan menjadi ilmu pengetahuan yang melatih cara berpikir dalam memecahkan masalah serta memberikan bekal untuk hidup bermasyakat. Siswa dapat terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan mencapai hasil belajar yang sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran  IPS yang telah ditentukan oleh SDK Tentang II tahun pelajaran 2012/2013. Lebih dari itu, peserta didik tidak lagi beranggapan bahwa materi IPS sebagai  kumpulan fakta yang harus dihafal melainkan pengembangan keterampilan untuk menemukan dan memecahkan masalah yang dihadapai sehari-hari.
3.      Guru
Mendorong para guru agar memiliki kreativitas dalam menerapkan berbagai model pembelajaran yang bervariasi dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah dasar. Kiranya pembelajaran yang selalu didominasi oleh guru dapat diubah menjadi pembelajaran yang didominasi oleh siswa serta keterampilan guru dalam membimbing kelompok kecil juga akan bertambah. Selain itu, hasil tulisan ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi para guru untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD baik pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) maupun pada mata pelajaran lain yang relevan.

1.7  Defenisi Operasional
1)      Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan ilmu yang mempelajari dan mengkaji sejumlah fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial sebagai paduan dari disiplin ilmu sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi dan antropologi.
2)      Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari latihan dan pengalaman serta interaksi  individu dengan lingkungan. 
3)      Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui proses pembelajaran.
4)      Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah model pembelajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaboratif untuk mencapai tujuan bersama secara tim.
5)      Model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan model pembelajaran berkelompok yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 5 orang yang bersifat heterogen, bekerja secara tim untuk mencapai tujuan yang sama.
6)      Teknologi adalah segala peralatan dan cara-cara atau sistem yang diciptakan manusia untuk mempermudah hidupnya.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Ilmu Pengetahuan Sosial
2.1.1 Pengertian IPS
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan sejak tingkat sekolah dasar sampai pada perguruan tinggi. Standar Isi (2006 : 128) menjelaskan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang sekolah dasar mata pelajaran IPS memuat materi sejarah, geografi, sosiologi dan ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk menjadi warga negara Indonesia yang demokratis dan bertangung jawab.
Beberapa ahli dan pakar pendidikan mendefenisikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), diantaranya:
1)         Sapriya (2009 : 19), mengatakan bahwa IPS adalah nama mata pelajaran di tingkat sekolah dasar dan menengah atau nama program studi di perguruan tinggi yang identik dengan istilah “social studies” dalam persekolahan di negara lain.
2)         Mulyono (Taneo, et al.,  2008 : 7), mengatakan bahwa IPS adalah integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, antropologi budaya, psikologi sosial, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik, dan sebagainya.
3)         Saidiharjo (Taneo, et al., 2008 : 8), mengatakan bahwa IPS merupakan hasil  kombinasi atau perpaduan dari sejumlah mata pelajaran seperti geografi, ekonomi, sejarah, antropologi, dan politik.
Berdasarkan definisi-definisi yang dikemukan oleh para ahli di atas,  disimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari sejumlah fakta dan aspek-aspek sosial kehidupan manusia dengan kajian materi sebagai perpaduan ilmu dari mata pelajaran geografi, ekonomi, sejarah, antropologi, sosiologi, dan politik  yang kemudian diolah berdasarkan prinsip pendidikan dan program pengajaran pada setiap jenjang satuan lembaga pendidikan.

2.1.2  Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
2.1.2.1  Tujuan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
Standar Isi (2006 : 128 - 129), menjelaskan bahwa mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan:
1)      Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan.
2)      Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.
3)      Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial kemanusiaan
4)      Memiliki kemampuan berkomunikasi, kerjasama dan berkompetesi dalam masyarakat yang mejemuk, di tingkat lokal, nasional dan global.
Senada dengan tujuan yang dipaparkan dalam Standar Isi; Fajar (2004 : 107) memberikan pemikiran bahwa tujuan pelajaran pengetahuam sosial dan ilmu-ilmu sosial antara lain:
1)      Mengembangkan kemampuan siswa dalam berpikir dan memahami disiplin ilmu­-ilmu sosial serta kemampuan  prosesual dalam mencari  informasi, mengelola informasi dan mengkomunikasikan hasil temuan.
2)      Mengembangkan kemampuan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan bangsa termasuk tanggung jawab sebagai warga dunia.
3)      Pengembangan sikap, nilai, norma, dan moral yang menjadi panutan siswa, pembentukan kebiasaan positif untuk kehidupan pribadinya serta sikap positif terhadap diri untuk memacu perkembangan diri sebagai pribadi, kemajuan masyarakat/bangsa, dan juga ilmu pengetahuan.
4)      Menghendaki agar program pengajaran mengkorelasikan bahkan mungkin harus mengintegrasikan beberapa disiplin ilmu sosial, dalam unit program studi agar para siswa memperoleh kesempatan untuk memecahkan konflik interpersonal maupun antarpersonal
Jadi berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, dari aspek tujuan, inti pembelajaran IPS di sekolah dasar adalah membekali peserta didik dengan sejumlah pengetahuan dan keterampilan untuk mampu berpikir dan memecahkan persoalan tentang keseluruhan aspek yang berkaitan keberlansungan hidup baik dalam memenuhi kebutuhan maupun mengekspresikan diri dalam masyarakat.

2.1.2.2  Fungsi Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebagai kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Standar Isi (2006 : 40) menjelaskan bahwa  kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada sekolah dasar dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasikan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan kebiasaan  berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif dan mandiri.
Dengan demikian, pendidikan IPS di sekolah dasar harus merupakan proses penguasaan sejumlah fakta dan konsep-konsep serta menanamkan pemahaman akan pentingnya materi IPS dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu pendidikan IPS juga merupakan bekal dasar dan fondasi bagi pendidikan selanjutnya serta sebagai tahap awal untuk memberikan bekal kemampuan kepada siswa agar mampu berpikir kritis, kreatif, logis dan berinisiatif dalam menghadapi tantangan di masyarakat. Di sisi lain, mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki masyarakat yang dinamis sebab pada masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global yang selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu, pembelajaran IPS memberikan bekal bagi peserta didik menuju kedewasaan dan keberhasilan hidup dalam masyarakat.
Pembelajaran IPS di sekolah dasar menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami sejumlah fakta, konsep dan generalisasi agar peserta didik dapat menanggapi isu lokal, nasional, kawasan, dunia, sosial, budaya, ekonomi, lingkungan dan etika. Selanjutnya siswa dapat menilai secara kritis perkembangan kehidupan masyarakat dalam bidang IPS dan teknologi serta dampaknya. Lebih dari itu, untuk jangka panjang peserta didik dapat memberi sumbangan terhadap kelangsungan perkembangan IPS dan teknologi serta memilih karir yang tepat untuk kehidupannya.

2.1.2.3     Ruang Lingkup Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
Standar Isi (2006 : 129) memaparkan ruang lingkup bahan kajian IPS untuk sekolah dasar  meliputi aspek berikut :
1)      Manusia, tempat dan lingkungan
2)      Waktu, keberlanjutan, dan perubahan
3)      Sistem sosial dan budaya
4)      Perilaku ekonomi dan kesejahteraan
Berdasarkan ruang lingkup ini dapat dikatakan bahwa pembelajaran IPS sangat kompleks dan bersifat dinamis serta mengalami perubahan dari waktu ke waktu oleh karena ruang lingkup yang mengkaji keseluruhan aspek sosial kehidupan manusia sebagai mahkluk sosial.


2.1.2.4  Karateristik Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
Materi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu (Standar Isi , 2006 : 40). Berdasarkan pengertian, tujuan, dan ruang lingkup, maka Ilmu Pengetahuan Sosial memiliki karateristik sebagai berikut:
1)   Substansi materi mata pelajaran IPS merupakan kumpulan/paduan dari ilmu sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi
2)   Materi dan masalah-masalah yang dikaji dalam pembelajaran IPS selalu berkembang terus menerus sesuai dengan perubahan kehidupan sosial masyarakat yang dihadapi.
Kedua karateristik di atas dipertegas oleh Sapriya (2009 : 13) bahwa pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai pendidikan disiplin ilmu dengan identitas bidang kajian eklektik yang dinamakan “an integrated system of knowledge”,”synthetic discipline”, ”multidimensional”, dan  “kajian konseptual sistemik” merupakan kajian (baru) yang berbeda dari kajian monodisiplin atau disiplin ilmu “tradisional”.
Pemikiran Saprya ini, memberikan sebuah implikasi bahwa pendidikan IPS memiliki kekhasan dibandingkan dengan mata pelajaran lain sebagai pendidikan disiplin ilmu, yakni kajian yang bersifat terpadu (integrated), interdisipliner, multidimensional. Karakteristik IPS ini terlihat jelas dalam rangkaian kegiatan pembelajaran IPS di sekolah dasar sebagai mata pelajaran yang cakupan materinya semakin meluas seiring dengan semakin kompleks dan rumitnya permasalahan sosial yang memerlukan kajian secara terintegrasi dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial, ilmu pengetahuan alam, teknologi, humaniora, lingkungan bahkan sistem kepercayaan.
Jadi, hal penting dalam proses pembelajaran IPS yang dirancang oleh guru di sekolah dasar yaitu guru berusaha semaksimal mungkin memadukan berbagai kajian disiplin ilmu sosial menjadi materi IPS. Selain itu guru dituntut untuk menyusun materi secara sistematis dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan siswa, serta perubahan kehidupan sosial yang dihadapi masyarakat.

2.1.2.5  Prinsip Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
Pembelajaran IPS di sekolah dasar memiliki prinsip-prinsip yang harus diperhatikan oleh guru dalam pelaksanaan pembelajaran, agar kompetensi yang ingin dicapai terukur. Tercapainya kompetensi oleh peserta didik merupakan indikator keberhasilan pembelajaran IPS.
Fajar  (2004 : 106)  menjelaskan bahwa standar kompetensi lintas kurikulum Ilmu Pengetahuan Sosial adalah:
1)      Memiliki keyakinan, menyadari serta menjalankan hak dan kewajiban, saling menghargai, memberi  rasa aman, sesuai dengan agama yang dianutnya.
2)      Menggunakan bahasa untuk memahami, mengembangkan dan mengkomunikasikan gagasan dan informasi, serta untuk berinteraksi dengan orang lain.
3)      Memilih, memadukan dan menerapkan konsep-konsep, teknik-teknik, pola, struktur dan hubungan.
4)      Memilih, mencari dan menerapkan teknologi dan informasi yang di perlukan dari berbagai sumber.
5)      Memahami dan menghargai lingkungan fisik, makhluk hidup, teknologi dan menggunakan pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai untuk mengambil keputusan yang tepat.
6)      Berpartisipasi, berinteraksi dan berkontribusi aktif  dalam masyarakat dan budaya global, berdasarkan pemahaman konteks budaya, geografis dan historis.
7)      Berkreasi dan menghargai karyatistik budaya, dan intelektual serta menerapkan nilai-nilai luhur untuk meningkatkan kematangan pribadi menuju masyarakat yang beradab.
8)      Berpikir logis, kritis, dan lateral dengan menghitung potensi dan peluang untuk menghadapi berbagai kemungkinan.
9)      Menunjukan motivasi dalam belajar, percaya diri, bekerja mandiri dan bekerja sama dengan orang lain.
Jadi, pembelajaran IPS semestinya dirancang dengan memberikan motivasi kepada peserta didik sesuai taraf kemampuan awal yang dimiliki, guru membimbing dan mengarahkan peserta didik untuk bersama (secara individu maupun kelompok) berusaha menemukan dan memecahkan masalah yang dihadapi sehingga kompetensi akan tercapai. Lebih dari itu nilai sosial yang dikembangkan, yaitu siswa dapat berinteraksi dengan teman dan guru tanpa kaku tetapi luwes dan fleksibel.

2.2     Hasil Belajar
2.2.1  Konsep Dasar Belajar
Para ahli dan pakar pendidikan memberikan banyak definisi tentang belajar berdasarkan pemikiran dan hasil penelitian. Namun berbagai pemikiran yang dikemukakan, memiliki kesamaan substansi yang walaupun penekanan-penekanan pada aspek berbeda. Pemikiran-pemikiran tersebut setidaknya telah memberikan jawaban tentang pengertian, hakikat, tujuan, ciri-ciri, prinsip-prinsip dan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.
Belajar merupakan perubahan yang terjadi pada diri  individu dalam kebiasaan, pengetahuan, dan sikapnya. Barometer seseorang mengalami proses belajar apabila terjadi perubahan dalam diri; dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari kurang baik menjadi baik.  Dengan demikian hal penting yang diperoleh dari sebuah proses belajar adalah sebuah perubahan positif bagi individu yang belajar. Suatu aktivitas yang mengharapkan perubahan tingkahlaku (behavioral change) pada diri individu yang belajar merupakan hakekat belajar (Kunandar, 2008: 319). Perubahan tingkahlaku terjadi sebagai hasil dari usaha individu yang belajar berinteraksi dengan lingkungan, yaitu guru, teman dan sumber belajar.
Dengan demikian seseorang belajar pada dasarnya untuk memperoleh informasi segala sesuatu dari lingkungan, sejumlah pristiwa dan pengalaman-pengalaman yang terjadi disekitarnya melalui interaksi dengan lingkungan pula. Peserta didik mengetahui sesuatu melalui kegiatan belajar. Pendidik (guru) pun belajar untuk dapat memahami peserta didiknya serta memperoleh sejumlah pengetahuan tentang ilmu pengetahaun maupun mendalami permasalahan anak didik. Akhir dari kegiatan belajar adalah suatu perubahan dalam diri seseorang yang ditunjukkan dengan bertambahnya pengetahuan serta perubahan prilaku.
Beberapa ahli yang mengemukan teori tentang belajar dan pembelajaran secara umum, diantaranya:
1)      Sudjana (Rusman, 2010 : 1), belajar merupakan proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu.
2)      Rusman (2010 : 1), belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu.
3)      Sanjaya (2008 : 88), belajar sama dengan menghafal, ada beberapa karakteristik yang melekat yaitu : (1) belajar berarti menambah sejumlah pengetahuan; (2) belajar berarti mengembangkan kemampuan intelektual; dan (3) belajar adalah hasil bukan proses.
4)      Fontana (Senena, 2006 : 4), belajar adalah suatu proses perubahan yang relatif tetap dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman. Belajar adalah suatu perubahan dalam kemampuan yang bertahan lama dan bukan berasal dari proses pertumbuhan.
5)      Abdurrahman, (2009 : 37 - 38), belajar merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan belajar yang terprogram dan terkontrol disebut kegiatan pembelajaran.
6)      Morgan (Thobroni dan Mustofa, 2011 : 20), belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
7)      Pringgawidagda (Thobroni dan Mustofa, 2011 : 18), pembelajaran adalah suatu perubahan perilaku yang relatif tetap dan merupakan hasil praktik yang diulang-ulang. Pembelajaran memiliki makna bahwa subjek belajar harus dibelajarkan bukan diajar. Subjek belajar yang dimaksud adalah siswa atau disebut juga pembelajar yang menjadi pusat kegiatan belajar.
8)      Rombepajung (Thobroni dan Mustofa, 2011 : 18), pembelajaran adalah pemerolehan suatu mata pelajaran atau pemerolehan suatu keterampilan melalui pelajaran, pengalaman atau pengajaran.
9)      Thobroni dan Mustofa (2011 : 19), pembelajaran membutuhkan sebuah proses yang disadari yang cenderung bersifat permanen dan mengubah perilaku.
Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa belajar  adalah suatu aktivitas mental dan fisik yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan/ intelektual, pemahaman keterampilan dan nilai-nilai yang tidak dimiliki sebelumya. Secara singkat dapat dikatakan belajar adalah suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari latihan dan pengalaman serta interaksi  individu dengan lingkungan. Kegiatan belajar yang diakomodir dan terstruktur dengan bimbingan guru untuk membelajarkan peserta didik merupakan kegiatan pembelajaran. Jadi kegiatan pembelajaran bukan sekedar mentransfer ilmu dari guru kepada siswa, melainkan suatu proses kegiatan interaksi antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa.
Lebih lanjut, beberapa ahli dan pakar pendidikan mengemukan teori dan pendapat belajar yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan Sosial, diantaranya:
1)      Edward L. Thorndike (Sennen, 2003 : 2 - 3) mengemukakan beberapa hukum belajar yang dikenal dengan sebutan law of effect. Menurut Thorndike belajar akan lebih berhasil bila respon murid terhadap suatu stimulus segera diikuti dengan rasa senang atau kepuasan. Rasa senang atau kepuasan ini bisa timbul sebagai akibat anak mendapatkan pujian atau ajaran langsung. Setelah anak berhasil melaksanakan tugasnya dengan tepat dan cepat, pada diri anak muncul kepuasan diri sebagai akibat sukses yang diraihnya. Anak memperoleh suatu kesuksesan yang pada gilirannya akan mengantarkan dirinya ke jenjang kesuksesan berikutnya.
2)      David Ausubel (Sennen, 2003 : 11), dengan teori belajar bermakna mengatakan bahwa proses belajar terjadi jika siswa mampu mengasimilasikan pengetahuan yang dia miliki dengan pengetahuan baru. Proses belajar terjadi melalui tahap-tahap sebagai berikut:
·      Memperhatikan stimulus yang diberikan
·      Memahami makna stimulus
·      Menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami
3)      Dahar (Trianto, 2007 : 25), faktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar ialah apa yang telah diketahui siswa. Yakinilah ini dan ajarlah ia demikian.
4)      Rober Gagne (Ndiung, 2006 : 17 - 18), belajar merupakan kegiatan yang kompleks, hasil belajar merupakan kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki pengetahuan, nilai dan sikap dan keterampilan. Timbulnya kapabilitas dari stimulasi lingkungan dan proses kognitif  dilakukan oleh pembelajar.

2.2.2  Tujuan, Ciri –Ciri, dan Prinsip Belajar
2.2.2.1  Tujuan Belajar
Motivasi seorang indidu untuk belajar adalah keinginan untuk memperoleh pengetahuan, keteramplian dan  kecakapan lainnya untuk menunjang kehidupan dalam interaksi dengan manusia lain. Hamalik (2008 : 73) menjelaskan tujuan belajar adalah:
1)      Sejumlah hasil belajar meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap-sikap yang baru yang diharapkan tercapainya oleh siswa;
2)      Suatu deskripsi mengenai tingkahlaku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsungnya proses belajar; dan
3)      Cara yang akurat untuk menentukan hasil pembelajaran
Jadi, tujuan seseorang belajar adalah memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap dan perubahan tingkahlaku.


 2.2.2.2 Ciri-ciri Belajar
Hal utama belajar adalah proses untuk mengalami sebuah perubahan tingkahlaku yang berlansung secara senggaja dan sadar. Hamalik (2008 : 49) memberikan pemikiran bahwa bahwa belajar berbeda dengan kematangan. Melalui proses pertumbuhan, individu dapat mengalami perubahan tingkahlaku. Apabila perubahan tingkahlaku terjadi tidak melalui latihan maka perubahan tersebut merupakan hasil dari kematangan seorang individu bukan karena belajar. Namun tetap diakui bahwa banyak perubahan tingkahlaku yang disebabkan oleh kematangan, tetapi juga tidak sedikit perubahan tingkahlaku yang disebabkan oleh interaksi antara kematangan dan belajar yang berlangsung melalui latihan. 
Selain belajar berbeda dengan kematangan, Hamalik  (2008 : 49) menambahkan bahwa belajar dibedakan dari perubahan fisik dan mental. Perubahan tingkahlaku juga dapat terjadi disebabkan oleh terjadinya perubahan fisik dan mental karena melakukan suatu perubahan berulangkali yang mengakibatkan badan menjadi letih atau lelah.
Jadi belajar memiliki ciri adanya unsur kesengajaan dan interaksi dengan lingkungan yang menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku. Hasil belajar  memberikan nilai tambahan terhadap perubahan yang diperoleh karena kematangan dan perkembangan fisik individu.



2.2.2.3  Prinsip-Prinsip Belajar
Kunandar  (2008 : 324) menjelaskan  beberapa prinsip-prinsip belajar, yaitu sebagai berikut:
1)      Belajar senantiasa bertujuan untuk mengembangkan prilaku siswa ke arah    hal yang baik berdasarkan atas kebutuhan dan motivasi tertentu yang dilaksanakan melalui  latihan,  membentuk hubungan asosiasi, dan melalui penguatan.
2)      Belajar bersifat keseluruhan yang menitikberatkan pada pemahaman, dan berpikir kritis.
3)      Belajar membutuhkan bimbingan, baik secara langsung oleh guru maupun secara tak langsung melalui bantuan pengalaman pengganti.
4)      Belajar dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri individu dan faktor dari luar diri individu.
5)      Belajar sering dihadapkan kepada masalah dan kesulitan yang perlu dipecahkan; hasil belajar pun dapat ditransferkan ke dalam situasi lain.
6)       Belajar pada hakikatnya berkaitan potensi manusia dan prilakunya; belajar pun memerlukan proses dan tahapan serta pematangan diri para siswa.
7)      Belajar melalui praktik atau pengalaman secara langsung akan lebih efektif  mampu membina sikap, keterampilan, berpikir kritis, bila di bandingkan dengan belajar hafalan saja.
8)      Bahan belajar yang bermakna/berarti, lebih mudah dan menarik untuk dipelajari.
2.2.3  Hakikat Hasil Belajar
2.2.3.1  Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar diperoleh setelah seseorang melalui suatu proses belajar baik yang dilakukan sendiri maupun atas bimbingan yang telah diterima dari orang lain. Secara sederhana, hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh seseorang (peserta didik) setelah melaksanakan kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap.
Beberapa ahli dan pakar pendidikan yang mengemukan teori dan pendapat tentang hasil belajar, diantaranya:
1)      Gagne (Thobroni dan Mustofa, 2011 : 22), hasil belajar berupa informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, keterampilan motorik, dan sikap.
2)      Keller (Abdurrahman, 2009 : 39), hasil belajar adalah perbuatan yang terarah pada penyelesaian tugas-tugas belajar.
3)      Suprijono (Thobroni dan Mustofa, 2011 : 22), hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan.
4)      Bloom (Abdurrahman, 2009 : 38), mengklasifikasi kemampuan hasil belajar ke dalam tiga kategori, yaitu:
a.    Ranah kognitif, meliputi kemampuan menyatakan kembali konsep atau prinsip yang telah dipelajari dan kemampuan intelektual.
b.   Ranah afektif, berkenaan dengan sikap dan nilai yang terdiri atas aspek penerimaan, tanggapan, penilaian, pengelolaan, dan penghayatan (karakterisasi).
c.    Ranah psikomotorik, mencakup kemampuan yang berupa keterampilan fisik (motorik) yang terdiri dari gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, dan kemampuan.
5) A. J. Romiszowski (Munadi, 2008 : 38), hasil belajar merupakan keluaran (output) dari suatu sistem pemrosesan masukan (input). Masukan dari sistem tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluaran adalah perbuatan atau kinerja (performance). Selanjutnya, Romiszowski berpendapat bahwa perbuatan merupakan petunjuk bahwa proses belajar telah terjadi dan hasil belajar berupa: Pertama; pengetahuan berupa pengetahaun tentang fakta, pengetahuan tentang prosedur, pengetahuan tentang konsep, dan pengetahuan tentang prinsip. Kedua; keterampilan  terdiri dari keterampilan untuk berpikir/kognitif, bertindak/motorik, bereaksi atau bersikap, dan berinteraksi.
6) Nashar (2004 : 77), hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri adalah sesuatu proses dalam diri dan tingkahlaku yang relatif menetap. Perubahan tingkahlaku dalam belajar sudah ditentukan terlebih dahulu, sedangkan hasil belajar ditentukan berdasarkan kemampuan siswa.
7) Sudjana (Nashar, 2004 : 80), menjelaskan bahwa ada tiga macam hasil belajar, yaitu: keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, sikap dan cita-cita.
8) Norman E. Gronlund (Nashar (2004 : 80), mengatakan hasil belajar sangat berguna baik bagi siswa maupun bagi guru pengelola pendidikan. Hasil belajar dapat disumbangkan untuk meningkatkan belajar siswa dengan cara: (1) menjelaskan hasil belajar yang dimaksud, (2) melengkapi tujuan pendek untuk waktu yang  akan datang, (3) memberikan umpan balik terhadap kemajuan belajar, dan (4) memberikan informasi tentang kesulitan belajar, sehingga dapat dipergunakan untuk memilih pengalaman belajar yang akan datang.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan  bahwa hasil belajar merupakan hasil dari perubahan tingkahlaku yang diperoleh siswa sebagai tujuan dari perbuatan belajar yang dilakukannya baik di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Hasil belajar itu dipengaruhi oleh aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan kata lain, hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran sebagai hasil dari pengalaman individu.  Keberhasilan belajar secara kuantitatif ditunjukkan dengan nilai atau angka yang diberikan oleh penilai (guru) berdasarkan hasil penilaian berupa tes maunpun non tes. Pemberian nilai atas hasil belajar ini dengan mempertimbangkan kemampuan siswa, kesulitan materi dan daya dukung keberlansungan proses pembelajaran di suatu satuan pendidikan.
2.2.3.2  Indikator Keberhasilan Belajar
Proses belajar memiliki indikator keberhasilan tertentu yang diukur melalui evalusi berupa tes dan non tes. Djamarah dan Aswan (2006 : 105), menjelaskan kegiatan pembelajaran dianggap berhasil apabila perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran atau Tujuan Intruksional Khusus (TIK) telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok. Selanjutnya, Djamarah dan Aswan (2006 : 107), mengemukakan bahwa setiap proses belajar mengajar selalu menghasilkan hasil belajar. Masalah yang dihadapi adalah sejauhmana tingkatan prestasi (hasil) belajar yang telah dicapai. Sehubungan dengan hal inilah keberhasilan proses mengajar itu dibagi atas beberapa tingkatan atau taraf. Tingkatan keberhasilan tersebut adalah sebagai berikut:
1)        Istimewa/maksimal; apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai oleh siswa.
2)        Baik sekali/optimal; apabila sebagai besar (76 % s.d. 99 %) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.
3)        Baik/minimal; apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 60 % s.d.75 % saja dikuasai oleh siswa.
4)        Kurang; apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60 % dikuasai oleh siswa.
Selain indikator di atas, daya serap tehadap materi pembelajaran yang diberikan oleh guru  mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok. Berdasarkan tingkatan yang diperoleh setelah melakukan tes dan non tes, dapatlah diketahui keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilakukan siswa dan guru.

2.2.3.3  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar
               Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar seseorang. Faktor tersebut bersumber dari dalam diri invidu maupun juga dari luar individu. Faktor dari dalam individu/internal mencakup keadaan fisik, kesehatan, serta faktor lain yang bersumber dari dalam diri. Faktor dari luar individu/eksternal mencakup situasi lingkungan baik lingkungan sosial maupun lingkungan fisik yang tidak memberikan kemungkinan untuk berlansungnya kegiatan belajar.
      Purwanto (Thobroni, 2011 : 31) mengemukan faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan perubahan belajar pada seorang anak, yaitu:
      Pertama; Faktor yang ada pada diri individu, meliputi kematangan dan pertumbuhan, kecerdasan atau inteligensi dan faktor pribadi (kemaun, ketekukan, rendah hati)  seseorang.
      Kedua; Faktor yang ada di luar diri individu atau faktor sosial, meliputi; faktor keluarga (situasi rumah tangga) dan motivasi sosial yang bersumber dari teman sejawat, orang tua, guru sanak keluarga, dan sebagainya.
Senada dengan Purwanto, Munadi (2008 : 24) menjelaksan faktor- faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar dikelompok menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi:
1)   Faktor fisiologis
     Secara umum kondisi fisiologis, seperti kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan lelah, tidak dalam keadaan cacat jasmani dan sebagainya, semuanya akan membantu  proses dan hasil belajar. Sedangkan siswa yang kekurangan gizi, memiliki kemampuan belajarnya berada dibawah mereka yang memiliki gizi, sebab mereka yang kekurangan gizi pada umumnya cenderung cepat lelah, cepat ngantuk dan akhirnya tidak mudah dalam menerima pelajaran.
2)   Faktor psikologis
Setiap manusia atau anak didik pada dasarnya memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda. Tentunya perbedaan-perbedaan ini akan berpengaruh pada proses dan hasil belajar siswa.
Faktor internal di atas bersumber dari dalam diri invidu yang belajar. Sedangkan faktor eksternal yang berasal dari luar diri individu yang belajar meliputi:
1)   Faktor lingkungan
Kondisi lingkungan juga berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar. Lingkungan ini dapat berupa lingkungan fisik dan dapat pula berupa lingkungan sosial. Lingkungan fisik misalnya keadaan suhu, kelembaban, kepengapan udara dan sebagainya.
2)   Faktor instrumental
     Faktor-faktor instrumental adalah faktor yang keberadaannya dan penggunaanya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Faktor-faktor ini diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana untuk tercapainya tujuan-tujuan belajar yang telah direncanakan.

2.3  Pembelajaran Kooperatif                                                                                      
2.3.1 Konsep  Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif dilandasi oleh teori  konstruktivisme, (Soejadi dalam Rusman, 2010 : 201). Teori  konstruktivisme dalam belajar  menuntut siswa harus secara individu menemukan dan mentranformasikan informasi yang kompleks, memeriksa informasi dengan aturan yang ada dan merevisinya bila perlu. Slavin (Rusman, 2010 : 201), mengemukakan bahwa pembelajaraan kooperatif memungkinkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Melalui interaksi dalam kelompok, siswa dapat saling bertukar ide/pendapat dan saling menanggapinya. Oleh karena itu, guru dituntut untuk mampu memberikan motivasi dan mengajak siswa untuk membuka diri dan menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya, menyumbangkan ide/pendapat untuk keberhasilan kelompok.
Pembelajaran kooperatif memberikan rasa gairah bagi peserta didik untuk belajar memecahkan masalah yang dihapai dalam materi pembelajaran secara bersama sehingga materi terkesan tidak dihafal. Tentunya pembelajaran ini sangat efektif untuk kegiatan pembelajaran IPS yang cakupan materi sangat luas serta selalu mengalami perubahan sesuai situasi dan kondisi lingkungan sekitar.  Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif ini memberikan kesempatan kepada siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4 sampai 6 orang siswa, dengan kemampuan yang heterogen. Kelompok heterogen terdiri dari campuran kemampuan siswa, jenis kelamin, dan suku. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya.
Melalui kegiatan belajar dalam kelompok, peserta didik diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan.

2.3.2 Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Menurut  Eggen dan Kauchak (Trianto, 2007 : 42) pembelajaran kooperatif merupakan sebuah model pembelajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaboratif untuk mencapai tujuan bersama. Selanjutnya Ibrahim, et al (Wahyu, 2010 : 56 - 57), menegaskan bahwa model pembelajaran  kooperatif dikembangkan  untuk mencapai setidak-tidaknya  tiga tujuan pembelajaran penting. yaitu :
1)      Hasil belajar akademik
      Dalam pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
2)      Penerimaan terhadap perbedaan individu
      Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya.
3)      Pengembangan keterampilan sosial
      Tujuan penting pembelajaran kooperatif adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi agar siswa memiliki keterampilan-keterampilan sosial dalam hidup bermasyarakat.

2.3.3 Unsur - Unsur Pembelajaran Kooperatif
Sanjaya (2010 : 241) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran kooperatif, terdapat empat unsur penting yaitu :
1)      Adanya peserta dalam kelompok. Peserta adalah siswa-siswa yang melakukan proses pembelajaran dalam setiap kelompok belajar.
2)      Adanya aturan kelompok. Aturan kelompok adalah segala sesuatu yang menjadi kesepakatan semua pihak yang terlibat.
3)      Adanya upaya belajar setiap anggota kelompok.
4)      Adanya tujuan yang harus dicapai. Aspek tujuan yang dimaksudkan untuk memberikan arah perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Melalui tujuan yang jelas setiap anggota kelompok dapat memahami sasaran setiap kegiatan belajar.



2.3.4 Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
Slavin, Abrani, dan Chambers (Sanjaya, 2010 : 244 - 246), menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif berbeda dengan model pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok. Karakteristik pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.   Pembelajaran secara tim.
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Hal ini dimaksudkan agar setiap anggota kelompok dapat saling memberikan pengalaman, saling memberi dan menerima serta diharapkan dapat berkontribusi terhadap keberhasilan kelompok.
2.   Kemauan bekerja sama.
Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh kebehasilan secara kelompok.
3.   Keterampilan bekerja sama.
Kemauan  bekerja sama itu kemudian dipraktikkan melalui aktivitas dan kegiatan yang tergambarkan dalam keterampilan bekerja sama.

2.3.5 Prinsip-Prinsip Pembelajaran Kooperatif
Sanjaya (2010 : 246 - 247), mengemukan empat prinsip pembelajaran kooperatif yaitu :
1)   Ketergantungan positif.
     Dalam pembelajaran kelompok keberhasilan suatu penyelesaian tugas sangat bergantung pada usaha yang dilakukan oleh setiap anggota kelompoknya.
2)   Tanggung jawab perseorangan.
     Prinsip ini merupakan kosekuensi dari prinsip ketergantungan positif. Oleh karena keberhasilan kelompok tergantung pada setiap anggotanya maka setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugas yang telah diberikan.
3)   Interaksi tatap muka.
     Pembelajaran kooperatif memberi ruang dan kesempatan  yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka, saling memberikan informasi dan saling membelajarkan.
4)   Partisipasi dan komunikasi.
     Pembelajaran kooperatif melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dalam berkomunikasi. Untuk dapat melakukan partisipasi dan komunikasi siswa perlu dibekali kemampuan-kemampuan berkomunikasi.

2.3.6 Tipe Student Teams Achievement Division (STAD)
2.3.6.1 Konsep Dasar
STAD merupakan akronim dari Student Team Achievement Division (Pembagian Pencapaian Tim Siswa), atau dengan kata lain, pencapaian hasil belajar siswa diperoleh melalui belajar kelompok (Robert E. Slavin dalam Isjoni, 2008 : 26). Model ini dikembangkan oleh Robert E. Slavin dan teman-temannya di Universitas Jhon Hopkin (Rusman, 2010 : 213). STAD sebagai salah satu dari enam tipe pembelajaran kooperatif, yaitu Student Teams Achievement Division (STAD), Jigsaw, Group Investigation (investigasi kelompok), Make a Macth (membuat pasangan), TGT (Teams Games Tournamens) dan Struktural. Keenam model ini merupakan variasi dari pembelajaran kooperatif tanpa mengubah prinsip dasar dari pembelajaran kooperatif. (Rusman, 2010 : 213),
Trianto, (2007 : 52), menjelaskan pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4 sampai 5 orang siswa secara heterogen. Dalam hal ini, jumlah anggota setiap kelompok adalah 4 atau 5 orang tergantung pada jumlah  siswa dalam satu kelas.
Slavin (Rusman, 2010 : 213) mengemukakan bahwa tipe STAD merupakan variasi pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti. Model ini juga sangat mudah diadaptasi, telah digunakan dalam mata pelajaran Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris dan banyak subjek lainnya pada tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
Berdasarkan uraian pemikiran para pakar ini, dapat dikatakan bahwa, hampir semua mata pelajaran dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini. Kontribusi yang diperoleh dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD  adalah membantu perkembangan peserta didik untuk saling membantu dan bekerja untuk keberhasilan kelompok. Peserta didik dapat menumbuhkan rasa saling menghargai, saling membantu serta bekerja keras untuk keberhasilan bersama satu tim. Slavin (Rusman, 2011 : 214), menjelaskan gagasan utama dalam STAD adalah memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan guru. Selanjutnya hal ini dipertegas oleh Isjoni, (2010 : 26 - 27) bahwa dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD, anak turut berpartisipasi dan bekerja sama dengan individu lain secara efektif, menimbulkan perubahan yang konstruktif pada kelakuan seseorang dan setiap anggota merasa aman di dalam kelas.
Berdasarkan pemikiran-pemikiran yang dikemukan para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan model pembelajaran berkelompok yang anggotanya terdiri dari 4 atau 5 orang yang bersifat heterogen, bekerja secara tim untuk mencapai tujuan yang sama. Heterogen yang dimaksud adalah karateristik individual baik kemampuan minat, ketekunan dan kerja keras serta karateristik lainya yang ada dalam satu kelas.

2.3.6.2 Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Model pembelajaran Kooperatif tipe STAD memiliki karateristik yang berbeda dengan model pembelajaran lainnya. Hal ini terlihat dari desain kelompok yang bentuk dan cara kerja/sistem pembahasan materi pembelajaran, serta tujuan yang ingin dicapai. Karateristik pembelajaran kooperatif tipe STAD, Rusman (2010 : 227), yaitu:
1.    Tujuan kognitif untuk mendapatkan informasi akademik sederhana, sedangkan tujuan sosial untuk memperoleh hubungan kerja kelompok dan kerja sama antar siswa.
2.   Struktur tim yang bersifat heterogen dengan anggota 4 atau 5 orang
3.   Pemilihan topik pembelajaran biasanya dilakukan oleh guru.
4.   Siswa melaksanakan tugas utama yaitu menggunakan lembar kegiatan dan saling membantu untuk menuntaskan materi belajarnya.
5.   Penilaian yang dilakukan secara tes mingguan.
6.   Pengakuan atas tingkat keberhasilan siswa yaitu penilaian lembar pengetahuan dan lembar publikasi lainya.
Berdasrakan karateristik yang dipaparkan, terdapat beberapa hal yang dapat menjadikan ciri model pembelajaran  kooperatif tipe STAD, yaitu:
1.      Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
2.      Kelompok yang dibentuk beranggotakan siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
3.      Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda.
4.      Penghargaan berorientasi kelompok ketimbang individu.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kerja sama dalam kelompok yang heterogen serta pencapaian tujuan pembelajaran secara tim merupakan ciri utama model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Dengan demikian bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD ini adalah proses pencapaian kompetensi dengan pembahasan materi secara berkelompok yang heterogen baik tingkat kemampuan maupun latar belakang siswa dengan anggota 4 atau 5 orang, kerja sama tim sebagai ciri penting serta penghargaan atas prestasi lebih berorientasi pada keberhasilan secara berkelompok.

2.3.6.3 Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Rusman (2010 : 215 - 215), secara rinci menjelaskan enam langkah/fase pembelajaran kooperatif tipe STAD, yaitu:
1.   Penyampaian tujuan dan motivasi
     Pada tahap ini, guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar. Hal ini bertujuan agar siswa memiliki rasa pentingnya materi serta adanya semangat mengikuti kegiatan pembelajaran. Guru juga menginformasikan kepada siswa desain pembelajaran yang akan dijalankan untuk mencapai kompetensi/indikator.
2.   Pembagian kelompok
     Guru membagi siswa di dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4 atau 5 siswa yang memperioritaskan heterogenitas (keragaman) kelas dalam prestasi akademik, gender/jenis kelamin, ras atau etnik. Jumlah anggota setiap kelompok bervariasi sangat  tergantung pada jumlah siswa dalam kelas tersebut.
3.   Presentasi dari guru
     Guru menyampaikan materi pembelajaran dengan terlebih dahulu menjelaskan materi pengantar untuk pencapaian tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari. Guru memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif dalam kelompok yang telah dibagi. Dalam presentasi ini guru dibantu oleh media, demonstrasi, pertanyaan atau masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dijelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa, tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan serta cara-cara mengerjakannya.
4.   Kegiatan belajar dalam tim (kerja tim)
     Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk. Guru menyiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS) sebagai pedoman bagi kerja kelompok, sehingga semua anggota menguasai dan masing-masing memberikan kontribusi. Selama tim bekerja, guru melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan dan bantuan bila diperlukan. Kerja tim ini merupakan ciri terpenting dari STAD.   
5.   Kuis (evaluasi)
     Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Siswa diberikan kuis secara individual dan tidak dibenarkan bekerja sama, ini dilakukan untuk menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dan terhadap prestasi kelompok dalam memahami bahan ajar tersebut.

6.   Penghargaan tim
Pada tahap ini, guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok. Penghargaan prestasi tim setelah pelaksanaan kuis, guru memeriksa hasil kerja siswa dan diberikan angka dengan rentang 0 - 100. Penghargaan ditunjukan pada tim/kelompok bukan pribadi siswa.
Selanjutnya pemberian penghargaan atas keberhasilan kelompok dapat dilakukan oleh guru dengan melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut:
1)    Menghitung skor individu
Menurut Slavin (Trianto, 2007 : 55), untuk menghitung perkembangan skor individu dihitung sebagaimana dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut
               Tabel 2.1 Perhitungan skor perkembangan individu
No
Nilai tes
Skor perkembagan
1.      
Lebih dari 10 poin di bawah skor dasar
0 poin
2.      
10 sampai 1 poin di bawah skor dasar
10 poin
3.      
Skor sampai 10 poin di atas skor dasar
20 poin
4.      
Lebih dari 10 poin di atas skor dasar
30 poin
5.      
Pekerjaan sempurna (tanpa memerhatikan skor dasar)
30 poin
      
2)      Menghitung skor kelompok
Skor kelompok dihitung dengan membuat rata-rata skor perkembangan anggota kelompok, yaitu dengan menjumlahkan semua skor perkembangan individu anggota kelompok kemudian membagi sejumlah anggota kelompok tersebut. Sesuai dengan rata-rata skor perkembangan kelompok, diperoleh skor kelompok sebagaimana dalam tabel 2.2 berikut.
                    Tabel 2.2 Penghitungan perkembangan skor kelompok
No
Rata-rata skor
Kualifikasi
1.
0 ≤ N ≤ 5
-
2.
6 ≤ N ≤ 15
Tim yang baik (good team)
3.
16 ≤ N ≤ 20
Tim yang baik sekali (great team)
4.
21 ≤ N ≤ 30
Tim yang istimewa (super team)

3)      Pemberian hadiah dan pengakuan skor kelompok. Setelah masing-masing kelompok atau tim memperoleh predikat, guru memberikan hadiah atau penghargaan kepada masing-masing kelompok sesuai dengan prestasinya (kriteria tertentu yang ditetapkan guru).
Berdasarkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran di atas, maka peran guru dalam proses pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu:
a.    Merumuskan tujuan pembelajaran yang meliputi tujuan akademik dan tujuan keterampilan bekerja sama.
b.   Menentukan jumlah anggota dalam kelompok belajar. Jumlah anggota dalam tiap kelompok adalah 4 atau 5 orang siswa secara heterogen.
c.    Menentukan tempat duduk siswa. Tempat duduk siswa disusun agar tiap kelompok dapat saling bertatap muka.
d.   Merancang bahan untuk meningkatkan saling ketergantungan positif.
2.4  Penelitian yang Relevan
Slavin (Sanjaya, 2008 : 240) mengemukakan bahwa rasional penggunaan pembelajaran tipe STAD, yaitu:
Pertama, beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, serta dapat meningkatkan harga diri. Kedua, pembelajaran kooperatif dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berpikir, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan.
Mendukung pemikiran di atas, penelitian yang relevan dengan penelitian ini telah dilakukan oleh Dandang dengan judul skripsi "Upaya Meningkatkan Minat Belajar IPS Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions Bagi Siswa Kelas V SDN 02 Sumberejo Wonosobo" (dadankpgsd.blogspot.com/2012/01/skripsi.html; diakses Senin 22 April 2013) memaparkan bahwa, minat belajar siswa selama pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievment Divisions) mengalami peningkatan dari pra siklus ke siklus I dan siklus I ke siklus II, hal tersebut ditunjukkan dengan kenaikan perolehan persentase minat pada pra siklus sebesar 33,33% dengan kriteria ‘Kurang’, siklus I sebesar 50% dengan kriteria ‘Sedang’ dan pada siklus II sebesar 83,3% dengan kriteria ‘Baik sekali/tinggi’. Selain minat, hasil  belajar siswa mengalami peningkatan dari pra siklus ke sklus I dan siklus I ke siklus II, hal tersebut ditunjukkan dengan  perolehan persentase pada pra siklus sebesar 25% dengan kriteria ‘Kurang’, siklus I sebesar 50% dengan kriteria Sedang, dan siklus II diperoleh 83,33% dengan kriteria Baik Sekali.
Selain itu, penelitian oleh Sri Utami, dengan judul skripsi, “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achievement Devision (STAD) dalam Meningkatkan Prestasi Belajar IPS pada Siswa Kelas V SD Negeri Tunggulsari Kecamatan Laweyan Surakarta Tahun Pelajaran 2008/2009 (http://dglib.uns.ac.id/pengguna.php?mn=showview&id=4717;  diakses Rabu, 24 April 2013), memaparkan pembelajaran kooperatif dengan tipe Student Teams Achievement Devision (STAD) terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar IPS. Sebelum tindakan persentase pencapaian SKBM rata-rata nilai ulangan harian 42,83; sedangkan rata-ratanya setelah tindakan siklus I dalah 70,22; dan siklus II mencapai 77,61. SKBM berdasarkan kemampuan pemahaman mata pelajaran IPS setelah tindakan pada siklus I adalah 60,56 % meningkat menjadi  90,30 % setelah dilakukan tindakan siklus II.
Kedua hasil penelitian di atas memberikan sumbangan berarti untuk mendukung penelitian ini. Oleh karena itu, berdasarkan hasil penelitian terdahulu di atas disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD cocok digunakan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV terhadap mata pelajaran IPS sekolah dasar.


2.5  Kerangka Berpikir
Minat siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS sangat tergantung pada strategi guru dalam mendesain dan mengelola pembelajaran. Pembelajaran IPS yang mengarahkan siswa pada tindakan nyata sangat cocok menerapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD karena siswa dibimbing dan dilatih untuk menempatkan diri dalam suatu kelompok sehingga mampu menerima kelebihan dan kekurangan dari segala perbedaan yang dimiliki teman kelompok, serta bersama-sama berusaha menemukan dan memecahkan permasalahan yang dihadapi untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai bersama. Penggunaan model pembelajaran koopertaif tipe STAD yang dijabarkan melalui metode-metode menekankan adanya kerja sama antar anggota kelompok yang mempertimbangkan karateristik peserta didik, materi yang akan dipelajari dan kondisi kelas.
Siswa kelas IV SDK Tentang II memiliki karateristik baik tingkat kemampuan maupun bakat terhadap mata pelajaran sangat relevan bila pembelajaran IPS didesain menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Dengan demikian, diduga penggunaan model pembelajaran tipe STAD ini akan meningkatkan hasil  belajar siswa kelas IV di SDK Tentang II Kecamatan Ndoso Tahun Pelajaran 2012/2013 pada materi perkembangan teknologi. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini yaitu: ketuntasan secara klasikal untuk nilai akhir tes yaitu minimal 70 % siswa kelas IV mencapai KKM mata pelajaran IPS (65) yang ditetapkan oleh SDK Tentang II tahun pelajaran 2012/2013. Selain itu kinerja siswa dalam kegiatan pembelajaran berada pada kategori “Baik”.

2.6 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan yaitu bahwa, “Penerapan Model  Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dapat Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV SDK Tentang II Tahun Pelajaran 2012/2013 pada Materi Perkembangan Teknologi.”















BAB III
METODE PENELITIAN

3.1   Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas merupakan proses sistematika yang memerlukan kemampuan dan keterampilan intelektual (Sukajati, 2008 : 12). Dalam pelaksanaan penelitian, peneliti dituntut berpikir kritis dalam menentukan masalah, perencanaan tindakan baik yang bersifat teoritik maupun praktis, kemudian dijabarkan dalam tindakan-tindakan. Dari segi terminologi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah suatu kegiatan sistematis untuk mencermati obyek atau fenomena terkait dengan pembelajaran di kelas dengan melakukan aktivitas tertentu yang dirancang secara sengaja oleh guru dengan tujuan tertentu, yakni untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu pembelajaran, (Payong, 2010 : 1).
Dari kedua pemikiran yang dikemukan di atas, disimpulkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengatasi masalah yang timbul dalam kawasan kelas yang ditandai adanya perlakuan atau tindakan-tindakan tertentu  yang dilatarbelakangi karena adanya masalah yang timbul dalam suatu kawasan kelas berkaitan efektivitas pembelajaran, prestasi, minat, motivasi dan hasil belajar yang belum maksimal dicapai.

3.2  Desain Penelitian
Metode yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah observasi dan refleksi yang dikolaborasi dengan tes tertulis. Peneliti menggunakan desain/model penelitian Kemmis dan Mc. Taggart yang penekanannya pada untaian kegiatan yang terdiri dari empat tahap yakni perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi (Payong, 2010 : 5). Keempat komponen yang menyerupai untaian dilihat sebagai suatu siklus. Jadi, siklus adalah suatu putaran/tahapan kegiatan yang terdiri dari perencanaan (Planning), tindakan (Acting dan Observe), dan refleksi (Reflect). Alur kegiatan siklus akan digambarkan sebagai berikut:       
Siklus I
Reflect
Planing
Act & Observe



Revised plan

      






Siklus II
Siklus Selanjutnya

Planing
Act & Observe
Reflect
Revised plan

ACT & OBSERVE
REFLECT









Gambar 3.  Penelitian Tindakan model Kemmis & Mc. Taggart
(Sumber: Payong, 2010 : 5)


3.3  Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini mencakup proses dari awal sampai berakhirnya kegiatan penelitian, yaitu:
1.      Perencanaan Tindakan
Pada tahap ini peneliti merencanakan segala hal berkaitan dengan kelancaran kegiatan penelitian, yaitu meminta izin kepada kepala sekolah tempat penulis mengajar untuk mendapat persetujuan; kemudian mengunjungi sekolah sebagai tempat penelitian untuk meminta izinan  dari pihak sekolah serta berdiskusi dengan guru mata pelajaran tentang masalah yang dihadapi berkaitan dengan pembelajaran dan hasil belajar IPS. Setelah menemukan masalah dan menawarkan solusi kepada guru mata pelajaran, maka selanjutnya peneliti menyiapkan instrumen penelitian untuk pelaksanaan kegiatan selama beberapa siklus sampai menunjukkan indikator keberhasilan. Hal-hal yang disiapkan mencakup penyusunan silabus, RPP, LKS, soal tes,  format pengamatan/observasi penelitian, persiapan alat dan bahan,  dan biaya untuk kelancaran penelitian.
2.      Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan adalah realisasi dari segala hal yang telah direncanakan sebelumnya. Inti dari pelaksanaan tindakan adalah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk mengatasi permasalahan yang telah diidentifikasi. Pada tahap pelaksanaan tindakan, peneliti melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan tahapan (langkah-langkah/fase) model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
3.      Pengamatan
Pengamatan dilakukan tidak terpisah dengan pelaksanaan kegiatan; atau dengan kata lain bahwa pengamatan berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Pada tahap ini, peneliti akan melakukan pengamatan terhadap aktivitas siswa dalam diskusi kelompok dalam hal ini keterlibatan siswa dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dirancang oleh peneliti. Selain itu, aktivitas peneliti akan diamati oleh seorang guru sebagai observer untuk mengamati keterlaksanaan RPP model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Adapun indikator atau kriteria untuk menentukan perubahan pada hasil tindakan adalah sebagai berikut.
1)      Setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran IPS nilai siswa kelas IV SDK Tentang II minimal 70 % secara klasikal mencapai KKM mata pelajaran IPS (65) yang telah ditetapkan oleh sekolah.
2)      Siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran, dengan kinerja siswa secara individu maupun kelompok berada pada kategori ‘Baik


4. Refleksi
Pada tahap ini, peneliti melakukan refleksi mengenai perubahan yang terjadi setelah pelaksanaan tindakan berdasarkan perolehan nilai hasil belajar dan kinerja siswa secara klasikal. Refleksi dilakukan oleh peneliti bersama observer setiap selesai satu siklus. Hasil refleksi ini menjadi dasar pertimbangan untuk pelaksanaan tindakan pada siklus berikutnya. Berbagai kelebihan dalam pelaksanaan pembelajaran siklus I tetap dipertahankan pada pelaksanaan pembelajaran siklus selanjutnya. Sedangkan berbagai kekeliruan dan kelemahan pada pelaksanaan pembelajaran siklus I diperbaiki pada pelaksanaan siklus selanjutnya. Siklus berakhir apabila sudah mencapai indikator dan kriteria keberhasilan belajar yang sudah direncanakan oleh peneliti.

3.4  Latar Penelitian
1.   Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di SDK Tentang II, desa Tentang  kecamatan Ndoso kabupaten Manggarai Barat. Penelitian ini secara khusus dilakukan pada kelas tinggi, yaitu kelas IV. Adapun alasan pemilihan SDK Tentang II  sebagai tempat dilakukannya penelitian, yaitu memudahkan untuk pendekatan dengan pihak sekolah karena letak  SDK Tentang II tidak jauh dari sekolah tempat peneliti mengajar sehingga tidak terkesan meninggalkan tugas utama sebagai pengajar di sekolah tempat peneliti mengabdi.
2.   Waktu
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2013 sampai dengan Mei 2013.

3.5  Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa siswa kelas IV SDK Tentang II  Tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 39 orang yang terdiri dari 18 laki-laki dan 21 perempuan. Siswa kelas IV memiliki latar belakang sosial ekonomi dan kemampuan yang berbeda-beda; (berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah). Secara umum siswa kelas IV SDK Tentang II juga memiliki kemampuan untuk bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, khususnya tugas-tugas IPS.

3.6  Data dan Sumber Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan  data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif  berkenaan dengan hasil observasi, pengamatan aktivitas siswa, keterlaksanaan silabus dan RPP. Sedangkan data kuantitatif  berkenaan dengan nilai-nilai yang diperoleh melalui tes setelah pelaksanaan satu siklus.
Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh langsung dari siswa, yang diperoleh melalui pengamatan kinerja siswa dan penilaian hasil tes yang diberikan. Selain itu data sekunder dapat berupa data tentang nilai semester dan daya serap mata pelajaran IPS semester I tahun pelajaran 2012/2013 dan nilai tes pada materi perkembangan teknologi dari guru mata pelajaran.

3.7  Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan tes.
a.    Observasi
Observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran. Aktivitas yang diamati adalah berkenaan dengan kinerja siswa secara individu maupun kelompok dalam menyelesaikan LKS yang disiapkan guru. Observasi ini dilakukan sebagai upaya untuk mengetahui sejauhmana tindakan yang diberikan dapat menghasilkan perubahan yang dikehendaki oleh peneliti. Observasi dilakukan oleh peneliti dan seorang pengamat dengan posisi duduk berada dibelakang meja tempat duduk siswa selama kegiatan pembelajaran berlansung. Peneliti juga terlibat dalam melakukan observasi terhadap kinerja siswa selama proses pembelajaran. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi. Skala penilaian  yang digunakan dengan rentangan 1 4, dengan kriteria penilaian sebagai berikut:
1 = tidak baik
2 = kurang baik
3 = cukup baik
4 = baik
Skala penilaian  yang digunakan untuk memperoleh data pembobotan hasil kinerja siswa. Untuk kinerja siswa secara individu, aspek yang diamati terdiri dari menjawab pertanyan, keberanian bertanya, rajin mengerjakan soal, keseriusan dan ketuntasan menyelesaikan LKS. Sedangkan kinerja siswa secara berkelompok terdiri dari aspek kerja sama dalam kelompok, keaktifan individu, saling bertanya antar kelompok, menghormati pendapat kelompok lain dan keberanian memberikan tanggapan. Setiap aspeknya rentangan skor 1 - 4, maka skor maksimal yang akan diperoleh kelompok yaitu 5 x 4 = 20. Dengan demikian berdasarkan perolehan bobot dapat ditentukan katergori kinerja siswa sebagai berikut.
   17 - 20 = Baik (B)
13 - 16 = Cukup Baik (CB)
9 - 12   = Kurang Baik (KB)
5 - 8     = Tidak Baik (TB)
Berdasarkan perolehan bobot di atas, dapat ditentukan nilai siswa pada rentangan 0 – 100, yaitu:
Sehingga kriteria berdasarkan perolehan nilai siswa dapat ditentukan kategorinya sebagai berikut:
85 -100   =  Baik (B)
65 – 80   =  Cukup Baik (CB)
45 – 60   =  Kurang Baik (KB)
25 – 40   =  Tidak Baik (TB)
b.    Tes
Tes yang diberikan berupa tes tertulis pada setiap akhir tindakan, dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari setelah diberikan tindakan. Tes yang diberikan dalam bentuk tes tertulis, yaitu pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban pada setiap nomor soal, jawaban singkat dan uraian terbatas.

3.8  Instrumen Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian ini, instrumen yang digunakan peneliti, adalah:
1)      Silabus,
2)      RPP,
3)      Lembar Kerja Siswa (LKS)
4)      Soal tes pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban pada setiap nomor soal, jawaban singkat dan uraian terbatas.
5)      Lembar observasi kinerja  siswa dan lembar observasi kinerja guru dalam proses pembelajaran melalui penilaian keterlaksanaan RPP.

3.9 Teknik Analisis Data
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran dilaksanakan dengan melibatkan guru mata pelajaran IPS kelas IV SDK Tentang II sebagai pengamat. Proses analisis data pada penelitian ini mencakup proses menyeleksi, menyederhanakan, memfokuskan, mengabstraksikan, dan mengorganisasikan data secara sistematis dan rasional untuk menyajikan bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai jawaban dari tujuan penelitian.
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan sajian visual, karena data yang akan dikumpulkan berupa angka. Data hasil observasi dan tes dipilih sebagai data yang lebih relevan untuk teknik analisis data sesuai dengan kebutuhan penelitian.
1. Analisis  observasi
Peneliti melakukan analisis hasil menggunakan lembar pengamatan yang sesuai, yaitu lembar pengamatan untuk memperoleh data hasil kinerja siswa, yaitu:
a)      Nilai hasil observasi kinerja individu dihitung dengan menggunakan rumus :
Keterangan : NKI = Nilai Kinerja Individu
b)      Nilai hasil observasi kinerja kelompok dihitung dengan menggunakan rumus:
Keterangan : NKK = Nilai Kinerja Kelompok
Selain observasi terhadap kinerja siswa, kinerja guru diobservasi melalui penilaian keterlaksanaan RPP, yaitu:
Keterangan : KR = Keterlaksanaan RPP
2. Analisis tes
Hasil tes yang diberikan kepada siswa dianalisis oleh peneliti untuk mengetahui hasil belajar siswa sebelum dan setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Hasil tes dianalisis dengan menggunakan tingkat ketuntasan individual dan klasikal yang mengacu pada ketentuan yang ditetapkan dengan indikator kerberhasilannya, yaitu apabila minimal ketuntasan secara klasikal 70 % mencapai nilai KKM mata pelajaran IPS (65) sesuai yang  ditentukan oleh SDK Tentang II tahun Pelajaran 2012/2013. Selain itu rata-rata kinerja siswa baik secara individu maupun kelompok berada pada kategori “Baik
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan ketuntasaan secara klasikal untuk materi perkembangan teknologi yaitu ketuntatasan secara klasikal 70 % mencapai KKM 65. Ketuntasan 70 % ini juga berdasarkan hasil diskusi peneliti dengan guru mata pelajaran IPS SDK Tentang II dengan mempertimbangkan tuntutan persentase ketuntasan klasikal untuk mata pelajaran IPS SDK Tentang II tahun pelajaran 2012/2013. Perhitungan hasil belajar dilakukan dengan menghitung ketuntasan hasil belajar siswa, yaitu:
Nilai = Jumlah Bobot x Skor
a). Nilai ketuntasan individu dihitung dengan rumus:


b). Nilai ketuntasan klasikal dihitung dengan rumus:

                                         
Keterangan : Tk: Tuntas klasikal
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil Penelitian
4.1.1 Data Pratindakan
Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti berdiskusi dengan guru pengasuh mata pelajaran IPS kelas IV SDK Tentang II untuk memperoleh data tentang kemampuan awal siswa sebelum diberikan tindakan. Dalam  diskusi tersebut, peneliti memperoleh data rendahnya hasil belajar IPS kelas IV  SDK Tentang II berdasarkan nilai hasil ujian semester I. Dari nilai hasil ujian semester I  diperoleh nilai rata-rata adalah 67,54 dan ketuntatasan secara klasikal yaitu 56,41 %. Persentase ini diperoleh berdasarkan jumlah siswa yang ‘tuntas’ dan ‘tidak tuntas’. Siswa dikatakan ‘tuntas’ apabila nilai mencapai KKM 65. Jumlah siswa yang tuntas yaitu 22 orang sedangkan yang belum tuntas 17 orang. Data ini merupakan nilai ujian siswa kelas IV semester I tahun pelajaran 2012/2013 yang dijadikan sebagai data pratindakan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil ujian ini maka peneliti bersama guru bidang studi menyimpulkan bahwa siswa kelas IV  belum mencapai target ketuntasan yang dituntut oleh kurikulum IPS SDK Tentang II tahun pelajaran 2012/2013. Hal ini disebabkan berbagai faktor antara lain kurangnya keterlibatan aktif peserta didik dalam mengikuti pembelajaran, penggunaan model dan metode pembelajaran yang kurang relevan yang digambarkan dengan kecenderungan guru menggunakan mendesain pembelajaran yang didominasi oleh penyampaian materi dalam sajian baku sehingga siswa cenderung menghafal konsep-konsep tanpa terlibat aktif dalam menemukan maupun memecahkan masalah yang disoroti dalam pembelajaran IPS. Dengan kata lain, guru kurang mendesain model dan metode pembelajaran yang bervaiasi untuk membangkitkan motivasi dan semangat belajar peserta didik sehingga kegiatan pembelajaran kurang efektif yang pada akhirnya berdampak pada pencapaian hasil belajar.
Kenyataan dan situasi pembelajaran di atas turut mempengaruhi pencapaian hasil belajar IPS kelas IV  SDK Tentang II. Analisis data hasil ujian semester I dapat dilihat pada lampiran 19.
Berdasarkan data pratindakan (nilai ujian semester I) pada lampiran 9; dari 39 siswa kelas IV SDK Tentang II diperoleh informasi sebagai berikut:
Ø  Dari jumlah siswa 39 orang, terdapat 22 siswa yang memperoleh nilai mencapai KKM 65, sedangkan 17 siswa nilai yang diperoleh belum mencapai KKM 65. Dengan demikian jumlah siswa yang tuntas adalah 22 orang dan yang tidak tuntas adalah 17 orang.
Ø  Persentase siswa yang tuntas, yaitu  x 100 % = 56,41 %, sedangkan  yang tidak tuntas yaitu  x 100 % = 43,59 %.
Ø  Ketuntasan secara klasikal yaitu 56,41 %; belum mencapai standar yang telah ditetapkan yaitu 70 %.
Ø  Nilai rata-rata yang diperoleh siswa yaitu 67,54.


4.1.2     Pelaksanaan Siklus I
a. Perencanaan
Mengacu pada hasil wawancara pratindakan, diperoleh gagasan umum bahwa hasil belajar IPS siswa kelas IV masih rendah. Dari hal tersebut, muncul kepedulian akan pentingnya peningkatkan hasil belajar IPS kelas IV  SDK Tentang II. Oleh sebab itu salah satu cara yang ditempuh untuk mengatasi masalah tersebut adalah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Selanjutnya peneliti mempersiapkan silabus dan perangkat pembelajaran yang terdiri dari RPP dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, LKS, lembar observasi siswa secara individual maupun kelompok, lembar keterlaksanaan RPP dan soal tes akhir. Disamping itu peneliti meminta guru mata pelajaran IPS kelas IV untuk bertindak sebagai observer selama proses pembelajaran berlangsung.
b.   Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan pembelajaran siklus I dilaksanakan berdasarkan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Dalam pelaksanaan tindakan, guru mata pelajaran IPS berperan sebagai observer sedangkan peneliti melaksanakan proses pembelajaran dengan mengacu pada rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disiapkan dengan indikator pada materi perkembangan teknologi produksi dan transportasi. Peneliti sebagai guru model melaksanakan penelitian berdasarkan langkah-langkah penelitian guna memperoleh data dari hasil penelitian.
Siswa kelas IV selain berperan sebagai siswa yang menerima pelajaran sekaligus sebagai subjek penelitian. Sebagai siswa, melaksanakan kewajiban untuk mengikuti seluruh rangkaian proses pembelajaran yang telah direncanakan guru. Sedangkan sebagai subjek penelitian, siswa secara mandiri maupun kelompok mengikuti tahapan yang telah direncanakan tanpa tekanan dari peneliti. Proses pembelajaran dilaksanakan dalam waktu 2 x 35 menit. Materi ajar yang diberikan pada pertemuan  ini adalah perkembangan teknologi produksi dan transportasi yang dialokasikan dalam dua pertemuan.
Setiap pertemuan, sebelum mulai proses pembelajaran peneliti mengecek kehadiran siswa. Pada pertemuan pertama dan kedua siklus I semua siswa hadir mengikuti kegiatan pembelajaran. Setelah mengecek kehadiran siswa, guru meminta salah seorang siswa untuk memimpin doa sebelum pembelajaran. Kemudian, guru melanjutkan proses pembelajaran dengan menyampaikan topik atau judul materi yang akan dipelajari dan menuliskannya di papan tulis. Proses pembelajaran selanjutnya dilaksanakan dengan mengikuti fase-fase pada pembelajaran kooperatif tipe STAD. Kegiatan siswa dalam kelompok meliputi diskusi, mempresentasi hasil diskusi  dan kuis (saling memberi pertanyaan). Pelaksanaan kegiatan tersebut diarahkan guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran.
c.  Observasi
Pada saat berlangsungnya proses pembelajaran dilakukan observasi. Pada tahap ini guru mata pelajaran IPS bertindak sebagai observer  dengan posisi duduk berada di belakang tempat duduk siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Observer juga melakukan observasi terhadap kinerja siswa dengan menggunakan format observasi terhadap kinerja siswa secara individu maupun kelompok. Kinerja siswa baik secara individu maupun kelompok dikatakan ‘berhasil’ apabila rata-rata nilai kinerja individu maupun kelompok mencapai nilai minimal 85 atau berada pada kategori ‘Baik’. Selain itu, pengamat dengan menggunakan format yang telah disediakan melakukan observasi terhadap kinerja peneliti (guru model) yaitu keterlaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. Hasil kinerja siswa secara individu maupun kelompok dan kinerja guru pada siklus I dapat dilihat pada tabel 4.2, tabel 4.3 dan  tabel 4.4.
1.   Kinerja Siswa Secara Individu
Pengamatan aktivitas siswa secara individu dilakukan untuk memperoleh informasi keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran dan menyelesaikan LKS tentang materi pembelajaran yang dibahas. Hasil kinerja siswa secara individu dapat dilihat pada lampiran 13. Berdasarkan data tersebut diperoleh informasi bahwa dari 39 siswa yang dibagi dalam 8 kelompok, terdapat 10 siswa yang memperoleh nilai pada kategori Kurang Baik, 23 siswa memperoleh nilai pada kategori Cukup Baik dan 6 siswa berada pada kategori Baik. Total bobot yang diperoleh siswa adalah 540 sehingga rata-rata bobot yang diperoleh siswa yaitu  = 13,85 dan total Nilai Kinerja Individu (NKI) siswa adalah 2695 sehingga rata-rata nilai yang diperoleh siswa dalah   = 69,10. Bobot 13,85 dan nilai 69,10 ini berada pada kategori Cukup Baik. Jadi berdasarkan hasil analisis di atas, rata-rata kinerja siswa secara mandiri dalam kelompok berada pada kategori Cukup Baik’. Hasil ini belum mencapai standar yang ditargetkan, yaitu secara klasikal kinerja siswa berada pada kategori ‘Baik’.
2. Kinerja Siswa Secara Kelompok
Pengamatan aktivitas siswa secara kelompok dilakukan untuk memperoleh informasi kinerja siswa secara tim dalam aspek kerja sama untuk pencapaian prestasi, keaktifan, saling menghargai antar kelompok dan keberanian memberikan tanggapan dalam menyelesaikan LKS. Hasil kinerja siswa siswa secara kelompok dapat dilihat pada lampiran 16. Berdasarkan data tersebut diperoleh informasi, yaitu dari 8 kelompok terdapat 2 kelompok yang memperoleh nilai pada kategori ‘Kurang Baik’; 5 kelompok yang mendapat nilai pada kategori ‘Cukup Baik’, dan 1 kelompok yang mendapat nilai pada kategori ‘Baik. Kelompok yang mendapat bobot tertinggi  adalah kelompok Merpati yaitu 17 dengan nilai 85. Berdasarkan kriteria keberhasilan kinerja siswa maka dari jumlah 8 kelompok tersebut terdapat 6 kelompok yang belum berhasil dan 1 kelompok yang berhasil. Kelompok yang belum berhasil ini disebabkan karena anggota kurang aktif dalam berdiskusi serta kurang teliti dalam menyelesaikan LKS. Namun secara umum siswa terlibat aktif dalam diskusi kelompok, saling bekerja sama dalam mengerjakan LKS dan anggota kelompok menyumbangkan ide atau pendapat untuk keberhasilan kelompok masing-masing. Rata-rata perolehan skor setiap kelompok adalah  x = 14,13   dan nilai rata-rata kinerja kelompok adalah  = 70,00. Bobot 14,13 dan nilai 70 berada pada kategori Cukup Baik. Berdasarkan kriteria ini, maka secara umum kinerja siswa secara berkelompok berada pada kategori Cukup Baik. Hasil ini belum mencapai standar yang ditargetkan, yaitu secara klasikal kinerja siswa berada pada kategori ‘Baik’.
3.   Kinerja Guru
Pengamat melakukan observasi terhadap kinerja guru pada saat proses pembelajaran dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sesuasi dengan langkah-langkah yang telah direncanakan dalam RPP. Hasil kinerja guru dapat dilihat pada lampiran 18. Berdasarkan data tersebut diperoleh informasi bahwa terdapat 32 aspek penilaian dengan rentangan skor 1 - 4 sehingga skor maskimal yaitu 32 x 4 = 128. Skor yang diperoleh guru dalam pelaksanaan pembelajaran adalah 114. Dari perolehan skor ini dapat diperoleh persentase yaitu  x 100 % = 89,06 %. Berdasarkan perolehan skor dan persentase ini maka secara umum guru telah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang telah direncanakan dalam RPP.
Diakhir pertemuan siklus I, siswa diberikan tes akhir untuk memperoleh hasil belajar siswa sehingga peneliti memperoleh data tentang tingkat pemahaman dan penguasaan konsep terkait dengan materi yang diberikan. Hasil tes akhir dapat dilihat pada lampiran 20. Berdasarkan data yang tersebut diperoleh informasi, sebagai berikut:
Ø  Dari jumlah siswa 39 orang yang mengikuti tes, terdapat 25 siswa yang memperoleh nilai mencapai KKM 65, sedangkan 14 siswa nilai yang diperoleh belum mencapai KKM 65. Dengan demikian jumlah siswa yang tuntas adalah 25 orang dan yang tidak tuntas adalah 14 orang.
Ø  Persentase siswa yang tuntas, yaitu  x 100 % = 64,10 % sedangkan  yang tidak tuntas yaitu  x 100 % = 39,40  %.
Ø  Ketuntasan secara klasikal yaitu 64,10 %; belum mencapai standar yang telah ditetapkan yaitu 70 %.
Ø  Nilai rata-rata yang diperoleh siswa yaitu 70,00.
Berdasarkan hasil nilai tes siklus I dibandingkan dengan data awal (nilai ujian semester I), diperoleh skor perkembangan individu dan kelompok siswa seperti yang disajikan dalam lampiran 21 dan lampiran 22, yaitu:
Ø  Dari jumlah 39 siswa terdapat 2 siswa yang mendapat 0 poin, 15 siswa yang mendapat 10 poin, 16 siswa yang mendapat 20 poin dan 6 siswa mendapat 30 poin.
Ø  Dari jumlah 8 kelompok tidak ada kelompok yang mendapat 0 poin, terdapat 5 kelompok yang mendapat 10 poin, 2 kelompok yang mendapat 20 poin dan 1 kelompok mendapat 30 poin.
Ø  Kelompok yang mendapat kualifikasi tim hebat (super team) yaitu kelompok Tekukur.
d.   Refleksi
Pada tahap refleksi, peneliti dan guru mata pelajaran IPS mendiskusikan dan merefleksikan tingkat ketercapaian hasil belajar IPS, baik kinerja siswa selama pembelajaran maupun hasil tes setelah diberikan tindakan sehingga diperoleh data tingkat keberhasilan penelitian. Dari hasil refleksi ini peneliti menemukan kekurangan bahwa persentase ketuntasan belajar klasikal hanya 64,10 % sementara standar yang ditetapkan adalah 70 %. Selain itu data hasil observasi menunjukan bahwa kinerja siswa masih berada dalam kategori “Cukup Baik”. Kenyataan ini mendorong peneliti untuk melakukan pembenahan dalam proses pembelajaran khususnya untuk memberi perhatian yang intensif terhadap kinerja setiap kelompok. Dengan demikian cukup alasan bagi peneliti untuk melanjutkan tindakan pada siklus II.

4.1.3     Pelaksanaan Siklus II
a. Perencanaan
Mengacu pada nilai hasil tes dan refleksi pada akhir siklus I, bahwa ditemukan beberapa kelemahan dalam proses pembelajaran, maka dibuat perencanaan siklus II. Materi pada siklus II, yaitu perkembangan teknologi komunikasi dan pemanfaatan teknologi dalam kehidupan  sehari-hari yang dialokasikan dalam dua pertemuan sehingga perlu dibuat dua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan desain model pembelajaran kooperatif tipe STAD, Lembar Kerja Siswa (LKS), lembar observasi siswa secara individu maupun kelompok, lembar keterlaksanaan RPP dan soal tes akhir. Disamping itu peneliti tetap meminta guru mata pelajaran IPS kelas IV untuk bertindak sebagai observer selama proses pembelajaran berlangsung.
b.   Pelaksanaan
Selama pelaksanaan kegiatan pada siklus II semua siswa kelas IV hadir mengikuti pembelajaran. Selama berlansungnya kegiatan pembelajaran, guru mata pelajaran berperan sebagai observer sedangkan peneliti melaksanakan proses pembelajaran dengan mengacu pada rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disiapkan dengan indikator pada materi perkembangan teknologi komunikasi .dan pemanfaatan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Peneliti melaksanakan penelitian berdasarkan langkah-langkah penelitian guna memperoleh data dari hasil penelitian.
Setiap pertemuan, sebelum memulai proses pembelajaran, peneliti mengecek kehadiran siswa, kemudian meminta salah seorang siswa untuk memimpin doa sebelum pembelajaran. Selanjutnya guru/peneliti melaksanakan proses pembelajaran dengan menyampaikan topik atau judul materi yang akan dipelajari dan menuliskannya di papan tulis. Proses pembelajaran selanjutnya dilaksanakan dengan mengikuti fase-fase pada pembelajaran kooperatif tipe STAD. Kegiatan siswa dalam kelompok meliputi diskusi, menyelesaikan LKS, dan kuis (saling memberi pertanyaan). Pelaksanaan kegiatan tersebut diarahkan guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran.

c.    Observasi
Pada saat berlangsungnya proses pembelajaran dilakukan observasi. Pada tahap ini guru mata pelajaran bertindak sebagai observer  dengan posisi duduk berada dibelakang tempat duduk siswa dan sewaktu-waktu berjalan dari kelompok ke kelompok untuk melakukan observasi kinerja siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Pengamat menggunakan format observasi terhadap kinerja siswa secara individu maupun kelompok dan kinerja guru yaitu pelaksanaan pembelajaran disesuaikan dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat. Kinerja siswa sebagai subjek penelitian dan kinerja peneliti (guru model) disajikan dalam tabel hasil kinerja siswa secara individu dan kelompok serta kinerja guru/peneliti dalam kegiatan pembelajaran melalui keterlaksanaan RPP.
1.   Kinerja Siswa Secara Individu
Pengamatan aktivitas siswa secara individu dilakukan untuk memperoleh informasi keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran dan menyelesaikan LKS tentang materi pembelajaran yang dibahas. Hasil kinerja siswa secara individu disajikan dalam lampiran 28. Berdasarkan data tersebut diperoleh informasi bahwa dari 39 siswa yang dibagi dalam 8 kelompok, terdapat 10 siswa yang mendapat bobot dan nilai pada kategori Cukup Baik dan 29 siswa mendapat bobot dan nilai kategori Baik. Total bobot yang diperoleh siswa secara klasikal adalah 671 sehingga rata-rata bobot yang diperoleh siswa yaitu  = 17,21; dan total nilai siswa secara klasikal adalah 3355  sehingga rata-rata Nilai Kinerja Individu (NKI) yang diperoleh siswa dalah  = 86,03. Bobot 17,21 dan nilai 86,03 ini berada pada kategori Baik. Jadi berdasarkan hasil analisis di atas, rata-rata kinerja siswa secara mandiri dalam kelompok berada pada kategori Baik. Berdasarkan hasil kinerja siswa ini, kriteria keberhasilan pembelajaran secara klasikal sudah mencapai target yaitu kinerja siswa berada pada kategori ‘Baik
2. Kinerja Siswa Secara Kelompok
Pengamatan aktivitas siswa secara kelompok dilakukan untuk memperoleh informasi kinerja siswa secara tim dalam aspek kerja sama untuk pencapaian prestasi, keaktifan, saling menghargai antar kelompok dan keberanian memberikan tanggapan dalam menyelesaikan LKS. Hasil kinerja siswa siswa secara kelompok disajikan pada lampiran 29. Berdasarkan data tersebut diperoleh informasi, yaitu dari 8 kelompok terdapat 1 kelompok yang memperoleh nilai pada kategori ‘Cukup Baik; dan 7 kelompok yang mendapat nilai pada kategori ’Baik. Kelompok yang mendapat skor tertinggi  adalah kelompok Rafflesia yaitu 19 dengan nilai 95. Keberhasilan kelompok meraih prestasi karena keaktifan anggota kelompok dalam diskusi, teliti dalam mengerjakan LKS, menyumbangkan pikiran dan bekerja sama untuk keberhasilan kelompok, serta memiliki ambisi untuk menjadi kelompok terbaik. Rata-rata perolehan skor setiap kelompok adalah  = 17,25   dan nilai rata-ratanya adalah  = 86,25. Bobot 17,25 dan nilai 86,25 berada pada kategori Baik’. Berdasarkan kriteria keberhasilan kinerja siswa, maka kinerja siswa secara berkelompok pada siklus II ini telah memenuhi standar berhasilan pembelajaran yang efektif.
 3.  Kinerja Guru
Pengamat melakukan observasi terhadap kinerja guru pada saat proses pembelajaran  disesuaikan dengan  langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang telah direncanakan dalam RPP. Hasil kinerja guru disajikan pada lampiran 31. Berdasarkan data tersebut diperoleh informasi bahwa terdapat 32 aspek penilaian dengan rentangan skor 1 - 4 sehingga skor maskimal yaitu 32 x 4 = 128. Skor yang diperoleh guru dalam pelaksanaan pembelajaran yaitu 126, sehingga persentase keterlaksanaan RPP adalah    x 100 % = 98,44 %. Berdasarkan perolehan skor dan persentase ini maka penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD telah maksimal dalam pelaksanaannya oleh guru sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang telah direncanakan dalam RPP sehingga hasil belajar dan kinerja siswa kelas IV SDK Tentang II dalam pembelajaran IPS meningkat secara signifikan.
Diakhir pertemuan siklus II, siswa diberikan tes akhir untuk memperoleh informasi tentang tingkat pemahaman dan penguasaan konsep terkait dengan materi yang diberikan. Hasil tes akhir siklus II disajikan pada lampiran 33. Berdasarkan data tersebut diperoleh informasi, sebagai berikut:
Ø  Dari jumlah siswa 39 orang yang mengikuti tes, terdapat 36 siswa yang memperoleh nilai mencapai KKM 65, sedangkan 3 siswa nilai yang diperoleh belum mencapai KKM 65. Dengan demikian jumlah siswa yang tuntas adalah 36 orang dan yang tidak tuntas adalah 3 orang.
Ø  Persentase siswa yang tuntas, yaitu  x 100 % = 92,31  %, sedangkan  yang tidak tuntas yaitu  x 100 % = 7,69 %.
Ø  Ketuntasan secara klasikal yaitu 92,31 %; sudah mencapai standar yang telah ditetapkan yaitu 70 %.
Ø  Nilai rata-rata yang diperoleh siswa yaitu 78,59.
Berdasarkan hasil nilai tes siklus II dibandingkan dengan data awal (nilai tes siklus I), diperoleh skor perkembangan individu dan kelompok siswa seperti yang disajikan dalam lampiran 36 dan lampiran 37, yaitu:
Ø  Dari jumlah 39 siswa tidak ada siswa yang mendapat 0 poin, terdapat 2 siswa yang mendapat 10 poin, 26 siswa yang mendapat 20 poin dan 11 siswa mendapat 30 poin.
Ø  Dari jumlah 8 kelompok terdapat tidak ada kelompok yang mendapat 0 poin, terdapat 1  kelompok yang mendapat 10 poin, 4 kelompok yang mendapat 20 poin dan 3 kelompok mendapat 30 poin.
Ø  Kelompok yang mendapat kualifikasi tim hebat (super team) yaitu kelompok Merpati, Cendrawasih dan Kakatua.
a.   Refleksi
Pada tahap refleksi, peneliti dan guru mata pelajaran IPS mendiskusikan dan merefleksikan tingkat ketercapaian hasil belajar IPS, baik yang terkait dengan proses maupun hasil dalam rangka menentukan tingkat keberhasilan penelitian. Dari hasil refleksi ini peneliti menemukan hasil dengan persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus II adalah 92,31%. Persentase ini dan sudah mencapai standar minimal yang diharapkan bahkan telah melebihi 70 %. Sedangkan kinerja siswa pada siklus II padaberada  kategori ‘Baik’. Kedua hal ini mengindikasikan bahwa pelaksanaan proses pembelajaran sudah berjalan dengan baik. Dengan demikian yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada. Berdasarkan data-data di atas maka peneliti memutuskan untuk tidak melanjutkan penelitian pada siklus berikutnya.

4.2  Pembahasan
Data awal menunjukkan bahwa secara klasikal hasil belajara IPS siswa kelas IV SDK Tentang II belum maksimal mencapai target yang diharapkan. Hal ini diketahui berdasarkan hasil wawancara guru mata pelajaran IPS SDK Tentang II tentang kegiatan pembelajaran IPS, mengungkapkan bahwa, “Selama ini pelaksanaan pembelajaran IPS belum secara memadai dan belum mencapai hasil yang maksimal sesuai tuntutan kurikulum maupun kompetensi yang hendak dicapai siswa. Hal ini terlihat dari nilai ketuntasan pada ujian semester I mata pelajaran IPS yang secra klasikal hanya mencapai 56,41 %, yaitu 22 dari 39 siswa kelas IV mencapai KKM 65 yang telah ditetapkan oleh SDK Tentang II. Sementara target yang ingin dicapai oleh mata pelajaran IPS SDK Tentang II adalah ketuntatasan secara klasikal minimal mencapai 70 %. Ini berarti bahwa minimal 28 dari 39 siswa kelas IV mencapai nilai KKM 65. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar IPS siswa kelas IV SDK tentang II masih rendah   (data terlampir).”
Bertolak dari teori-teori tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang menekankan pada aspek kerja sama secara tim untuk mencapai prestasi belajar; sangatlah efektif apabila  diterapkan pada pembelajaran IPS. Oleh karena itu peneliti berpikir bahwa salah satu alternatif untuk memecahkan masalah rendahnya hasil belajar IPS siswa kelas IV SDK Tentang II   dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai pembelajaran berkelompok yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 5 orang yang bersifat heterogen. bekerja secara tim untuk mencapai tujuan yang sama. Dalam pembelajaran siswa diarahkan untuk melakukan kegiatan pembelajaran secara tim untuk mencapai prestasi belajar. Pemikiran ini didukung oleh penelitian terdahulu tentang efektifnya penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran IPS.
Model kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran IPS  dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini diketahui berdasarkan hasil tes dan observasi aktivitas siswa baik secara individu maupun kelompok dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran IPS dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD, secara klasikal hasil belajar IPS siswa sudah meningkat, hal ini ditunjukkan dengan tes hasil belajar pada siklus I ketuntasan secara klasikal yaitu 64,10 %, setelah diberikan tindakan pada siklus II ketuntasan secara klasikal meningkat yaitu 92,31 %. Hasil observasi aktivitas individu maupun kelompok pada siklus I berada pada katogori ‘Cukup Baik’ (data hasil observasi terlampir); setelah diberikan tindakan pada siklus II terjadi peningkatan, yakni berada pada kategori ‘Baik’ (data hasil observasi terlampir). Hasil observasi nilai kinerja guru dalam dalam pelaksanaan pembelajaran pada siklus I yaitu 89,06 sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 98,44. Dari hasil data pratindakan dan tes siklus I telah terjadi peningkatan nilai rata-rata dan persentase ketuntasan belajar klasikal. Pada hasil data pratindakan nilai rata-rata siswa adalah 67,54 dan persentase ketuntasan belajar klasikal adalah 56,41 % (data nilai siswa terlampir). Setelah diberikan tindakan pada siklus I, nilai rata-rata hasil tes dan persentase ketuntasan belajar klasikal terjadi peningkatan yakni nilai rata-rata menjadi 71,23 dan ketuntasan belajar klasikal menjadi 64,10 %. Selanjutnya  nilai rata-rata hasil tes dan ketuntatasan belajar klasikal pada siklus II terjadi peningkatan dengan nilai rata-rata adalah 78,59 dan persentase ketuntasan belajar klasikal yaitu 92,31 %. Selanjutnya, skor perkembangan belajar siswa secara individu maupun kelompok mengalami peningkatan pada siklus I dan siklus II (data pada lampiran 21,  lampiran 22, lampiran 36 dan lampiran 37).
Hasil belajar IPS kelas IV pada pratindakan, siklus I dan siklus II disajikan dalam tabel 4.1; sedangkan data nilai kinerja siswa secara individu dan kelompok serta kinerja peneliti melalui keterlaksanaan RPP disajikan dalam tabel 4.2.

Tabel 4.1 Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV Pratindakan, Siklus I, dan Siklus II.
Tindakan

Nilai
Rata-rata
Siswa Tuntas
Siswa Belum Tuntas
Persentase Ketuntasan Klasikal
Keterangan
Pratindakan
67,54
22
17
56,41 %
Belum Tuntas
Siklus I
70,00
25
14
64,10 %
Belum Tuntas
Siklus II
78,59
36
3
92,31%
Tuntas

Tabel 4.2 Nilai Kinerja Siswa dan Kinerja Guru dalam Pembelajaran
JENIS DATA
SIKLUS I
SIKLUS II
Nilai Kinerja Individu
69,10
86,03
Nilai Kinerja Kelompok
70,00
86,25
Nilai Kinerja Guru
89,06
98,44

Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada pratindakan, siklus I dan siklus II disajikan dalam diagram berikut:





NR-ST II
NR-ST II
NR-ST II
TINDAKAN
100
95
90
85
80
75
70
65
60
55
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
67,54
70,00

NILAI
78,59
 
















Keterangan:
                :  Nilai Rata-rata Pratindakan
            :  Nilai Rata-rata Setelah Tindakan Siklus I
            :  Nilai Rata-rata Setelah  Tindakan Siklus II


Diagram 4.1 Nilai Rata-rata Hasil Belajar Siswa Pratindakan, Siklus I dan Siklus II






Persentase ketuntasan klasikal pratindakan, siklus I dan siklus II disajikan dalam diagram berikut:
100
95
90
85
80
75
70
65
60
55
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
56,41 %
64,10 %
PRESENTASE
HASIL
BELAJAR
92,31 %
 















                                                         
Diagram 4.2 Ketuntasan Klasikal Pratindakan, Siklus I dan Siklus II
Keterangan:
                : Persentase Ketuntasan Belajar Klasikal Praindakan
            : Persentase Ketuntasan Belajar Klasikal setelah  Tindakan Siklus I
            : Persentase Ketuntasan Belajar Klasikal setelah Tindakan Siklus II

 







Nilai kinerja siswa dan kinerja guru pada tabel di atas dapat disajikan dalam diagram 4.3 di bawah ini.
100
95
90
85
80
75
70
65
60
55
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
69,10
70,00
NILAI
KINERJA SISWA
NILAI
86,03
86,25
 
















Diagram 4.3 Nilai Kinerja Individu dan Kelompok pada Siklus I dan II
Keterangan:
                        :  Nilai Kinerja Individu Siklus I
                        :  Nilai Kinerja Kelompok Siklus I
                        :  Nilai Kinerja Individu Siklus II
                        :  Nilai Kinerja Kelompok Siklus II


 







Nilai kinerja guru dalam pembelajaran pada siklus I dan II dapat disajikan dalam diagram 4.4. berikut.
NILAI
                                                                                                           
SIKLUS I
SIKLUS II
89,63
98,44

TINDAKAN
100
95
90
85
80
75
70
65
60
55
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
 














Digram 4.4 Nilai Kinerja Guru pada Siklus I dan II
                       
Keterangan:
            : Nilai Kinerja Guru pada Siklus I
            : Nilai Kinerja Guru pada Siklus II

 





BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan pada bagian terdahulu maka penulis menyimpulkan beberapa hal berkaitan dengan hasil belajar dan kinerja siswa kelas IV  SDK Tentang II pada pembelajaran IPS dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, yaitu:
1.      Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberikan dampak positif terhadap hasil belajar IPS siswa kelas IV  SDK Tentang II. Dampak positif ini yaitu peningkatan hasil belajar secara signifikan yang secara rinci terlihat pada indikator perkembangan pemahaman siswa dalam menerima materi pembelajaran melalui perolehan nilai setelah diberikan tindakan pada setiap siklus. Peningkatan hasil belajar ini secara jelas dapat dilihat dari meningkatnya persentase hasil belajar dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 70,00 sedangkan pada siklus II yaitu 78,59. Apabila dilihat dari persentase, pada siklus I persentase hasil belajar siswa adalah 64,10  %, dan pada silkus II adalah 92,31  %. Jadi, peningkatan nilai rata-rata hasil belajar IPS kelas IV  SDK Tentang II dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu 8,59 dengan peningkatan persentase belajar sebesar  28,21 %.
2.      Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan kinerja siswa kelas IV  SDK Tentang II dalam pembelajaran IPS. Peningkatan kinerja siswa ini, dapat dilihat dari perolehan skor dan persentase kinerja siswa dalam berdiskusi kelompok baik secara individu maupun berkelompok pada setiap siklus. Pada siklus I rata-rata bobot kinerja siswa secara individu dalam kelompok adalah 13,85 dengan nilai rata-rata 69,10 dengan kategori ‘Cukup Baik. Pada siklus II rata-rata perolehan bobot siswa secara individu dalam kelompok adalah 17,21 dengan nilai rata-rata 86,03 dengan kategori ‘Baik. Selain peningkatan kinerja siswa secara individu dalam kelompok, kinerja siswa secara kelompok/tim dalam berdiskusi juga mengalami peningkatan dar i siklus I ke siklus II. Pada siklus I rata-rata perolehan bobot setiap kelompok adalah 14,13 dengan nilai rata-rata setiap kelompok yaitu 70,00 dengan kategori ‘Cukup Baik’; sedangkan pada siklkus II perolehan rata-rata bobot setiap kelompok adalah 17,25 dengan nilai rata-rata 86,25 dengan kategori ‘Baik. Dengan demikian peningkatan kinerja siswa dari siklus I ke siklus II, yaitu dari kategori ‘Cukup Baik’ menjadi kategori ‘Baik’. Skor perkembangan belajar juga mengalami peningkatan pada siklus I dan siklus I.
3.      Perkembangan hasil belajar dan kinerja siswa meningkat seiring dengan perkembangan peningkatan kinerja guru dalam mendesain model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus I dan Siklus II. Pada siklus I persentase keterlaksanaan RPP adalah 90,63 % dan pada siklus II adalah 98,44 %.  Jadi, peningkatan persentase kinerja guru adalah 7,81 %.

5.2 Saran
Kiranya dengan diselesaikannya tulisan ini, memberikan secuil harapan bagi:
1.      Guru di SDK Tentang II agar memilih model pembelajaran yang sesuai dengan karateristik mata pelajaran; lebih dari itu ditawarkan untuk mencoba mendesain model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar siswa baik pada mata pelajaran IPS  maupun mata pelajaran lain yang relevan.
2.      Para calon guru yang sedang  mempersiapkan diri di lembaga pendidikan tinggi untuk membekali diri dengan desain model pembelajaran kooperatif  tipe STAD sebagai salah satu model pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan hasil belajar.
3.      Para guru SD untuk melakukan penelitian dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaraan lainnya.









DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abdurrahman, M., 2009. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta:  PT Rineka Cipta.

BSNP., 2007., Standar Isi 2006. Jakarta: Diktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dandang., 2012. "Upaya Meningkatkan Minat Belajar IPS Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions Bagi Siswa Kelas V SDN 02 Sumberejo Wonosobo" (dadankpgsd.blogspot.com/2012/01/skripsi.html; diakses Senin 22 April 2013)

Djamarah, S.B. dan Aswan, Zaiwan., 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

Fajar,  A.,  2004. Portofolio Dalam Pembelajaran IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya Officet.

Hamalik, O., 2008. Kurikulun dan Pembelajaran. Jakarta: Sinar Grafika

Isjoni., 2007., Cooperative Learning; Efektifitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta.

Kunandar.,  2008. Guru Profesional (implementasi kurikulun tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan sukses dalam sertifikasi guru). Jakarta: Raja Gravindo Persada.

Munadi, Y., 2008. Media Pembelajaran (Sebuah Pendekatan Baru). Jakarta: Gaung Persada Press.

Nashar., 2004. Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal dalam Kegiatan Pembelajaran. Jakarta. Delia Peres.

Makhrus, M, et al., 2008. Metode Pembelajaran IPA; Panduan untuk Guru dan Orang Tua. Jakarta: Azka Press.

Ndiung, S., 2006. Teori-teori Belajar (tidak untuk dipublikasikan). Ruteng: STKIP St. Paulus.

Payong, M. R., 2009, (1), Efek Terselubung Bias Kultural Terhadap Kemampuan Siswa di Sekolah, “Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan MISSIO, Vol. 1, No. 1, Hal. 7-17

____________________., 2010, Penelitian Tindakan Kelas (tidak untuk dipublikasikan). Ruteng: STKIP St. Paulus

Rusman., 2011. Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT Raja Grafindi Persada.

____________., 2008. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Prenada Media Group.
____________., 2010. Strategi Berorentasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Senena, E., 2006. Mengatasi Kesulitan Belajar Anak SD Kelas Tinggi dalam Pembelajaran Sains (tidak untuk dipublikasikan). Ruteng: STKIP St. Paulus.

Sennen, E., 2003. Teori Belajar dan Pembelajaran (tidak untuk dipublikasikan). Ruteng: STKIP St. Paulus.

Solihatin, E dan Raharjo., 2005. Cooperative Learning; Analisis Model Pembelajaran IPS. Jakarta: Bumi Aksara.

Sapriya.,  2009. Pendidikan IPS. Bandung:  Remaja Rosdakarya Officet.

Sukajati., 2008. Penelitian Tindaklan kelas di SD. Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Pendidikan Matematika.


 Suranti dan Eko Setiawan Saptiarso., 2008. Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SD dan MI kelas IV. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

Taneo,  dkk.,  2008. Pengembangan Pembelajaran IPS di SD. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional

Tapung, M. M., 2012. Dialektika Filsafat dan Pendidikan; Penguatan Filosofis atas Konsep dan Praksis Pendidikan. Jakarta : Parrhesia Institute.

Thachir, A. M., 2011. lmu Pengetahaun Sosial untuk SD/MI Kelas IV. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.

Trianto., 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, Konsep, Landasan Teoritis-Paraktis dan Implementasinya. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Thobroni dan Arif Mustofa., 2011. Belajar & Pembelajaran; Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional. Jogyakarta:
Ar-Ruzz Media.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Utami, S., 2009.,Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achievement Devision (STAD) dalam Meningkatkan Prestasi Belajar IPS pada Siswa Kelas V SD Negeri Tunggulsari Kecamatan Laweyan Surakarta Tahun Pelajaran 2008/2009 (http://dglib.uns.ac.id/pengguna.php?mn=showview&id=4717;  diakses Rabu, 24 April 2013)

Wahyu, Y., 2010. Pembelajaran Sains (tidak untuk dipublikasikan). Ruteng: STKIP St. Paulus.





             

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar