Media Berbagi Informasi Seputar Dunia Pendidikan dan IPTEK; FRENGKY JAMENTO, S.Pd; (SDN Torong Raja Ndoso-Manggarai Barat-NTT); Sejak 20 Oktober 2016 Dimutasikan ke SDI Lareng-Ndoso-MABAR) "Motto : MENJADI ORANG BIASA YANG LUAR BIASA"
Minggu, 16 Oktober 2022
Ungkapan “Porong Uwa Haeng Wulang Langkas Haeng Ntala” dalam Budaya Manggarai Flores Sebagai Perwujudan Tujuan Pendidikan Menurut Pemikiran Filosofis Ki Hajar Dewantara
Kata memiliki kekuatan. Setidaknya ini menjadi spirit dan motivasi bagi kita dalam menjalani berbagai dimensi kehidupan. Kata-kata yang disusun dan membentuk sederetan kalimat bermakna yang sering disebut sebagai ungkapan atau peribahasa. Lazimnya u ngkapan atau peribahasa memiliki keselarasan bunyi yang sangat menarik sehinga sangat mudah untuk diingat. Setiap daerah yang kaya akan budaya tentu setidaknya memiliki ungkapan-ungkapan yang syarat makna. Demikianlah juga dalam kebudayaan daerah masyarakat Manggarai (Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur) dapat dijumpai berbagai ungkapan (go'et) mengandung makna mendalam tentang perjuangan, harapan, doa, motivasi dan sebagainya. Salah satu ungkapan yang syarat makna akan harapan besar terkandung dalam ungkapan “Porong Uwa Haeng Wulang Langkas Haeng Ntala”. Secara harafiah ungkapan tersebut berarti “tumbuh kembang sampai di bulan, tinggi sampai di bintang”. Ungkapan ini bermakna sangat luar biasa yaitu hendaknya harapan dan cita-cita mencapai setinggi-tingginya. Filosofi adat orang Manggarai harapan dan cita-cita dan segala aspek kehidupan serta perjuangan hidup orang Manggarai tidak berhenti pada tahap tertentu, melainkan mencapai puncak setinggi-tingginya. Inilah salah satu motivasi untuk tetap dan harus memilki semangat menggantungkan harapan hingga setinggi langit.
Dalam tutur lisan orang Manggarai ungkapan ini secara umum dierdengarkan kepada anak sekolah yang sedang belajar di bangku pendidikan maupun kepada mereka (siswa) yang hendak melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.
Ungkapan ini sebagai wujud harapan masyarakat Manggarai, maka relevansi bagi orang tua (guru pertama) dan guru (orang tua kedua) akan proses pendidikan. Oleh karenya tugas dan tanggung jawab guru menjanjikan dan mengharapkan cita-cita para peserta didik kelak tercapai sesuai yang diharapkan melalui ungkapan.
Pemikiran masyarakat Manggarai yang diwariskan secara turun temurun dan selalu hidup di tengah masyarakat sejalan dengan pemikiran tentang tujuan pendidikan
yang telah diungkapakan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Indonesia yang menggaraisbabawai akan tujuan pendidikan yang sebenarnya yaitu menuntun anak kepada pencapaian keselamatan dan kebahagian yang setinggi-tingginya. Keselamaatan dan kebahagian tentu bisa diwujudkan apabila harapan dan cita-cita yang tercapai. Melalui ungkapan “Porong Uwa Haeng Wulang Langkas Haeng Ntala” memberikan refrensi sejarah bahwa jauh sebelum adanya pendidikan formal, masyarakat Manggarai sudah meletakkan dasar tujuan pendidikan melalui ungkapan yang digaungkan pada rangkain upacara atau hajatan yang ada dalam kebudayaan Manggarai. Ungkapan “Porong Uwa Haeng Wulang Langkas Haeng Ntala” orang Manggarai dan dasar pendidikan yang digarsibawahi oleh KHD memiliki makna yang sangat mendalam dan menjadi pemikiran kritis untuk direfleksikan oleh guru maupun peserta didik di sekolah. Harapan akan karakter yang baik dari seorang anak tercermin ungkapan “Porong Uwa Haeng Wulang Langkas Haeng Ntala” sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa untuk menjadi manusia yang berkarakater baik seutuhnya, pendidikan adalah jalan utama untuk mencapainya. Ungkapan “Porong Uwa Haeng Wulang Langkas Haeng Ntala”, sebagai wujud harapan yang akan dihasilkan dari sebuah proses panjang dalam pendidikan . Harapan ini tentu tidak hanya kepada peserta didik tetapi kepada Bapak/Ibu Guru sebagai orang tua kedua bagi anak agar semampu menuntun anak untuk mengapai cita-cita setinggi langit. Harapan akan mencapai cita cita setinggi langit sesuai budaya tutur lisan masyarakat Manggarai, harus seiring dengan kerja keras (belajar) dan dispilin (karater).
Tujuan pendidikan menurut pandangan budaya Manggarai yang tercermin dalam ungkapan, “Porong Uwa Haeng Wulang Langkas Haeng Ntala” bermakna filosofis bahwa seluruh proses pendidikan (mengajar) tercapai apabila harapan peserta didik terwujud. Proses pendidikan menuntun kepada pencapaian cita cita-
cita demi keselamatan dan kebahagian hidup anak sebagai indinvidu mapun masyarakat kelak. Makna filosofis ugkapan “Porong Uwa Haeng Wulang Langkas Haeng Ntala” sejalan dengan tujuan pendidikan yang diletakkan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu mencapai keselamatan dan kebahiaagian yang setingi-tingginya. Harapan dan cita cita masyarakat Manggarai kepada generasi penerus (anak) terpancar dalam ungkapan “Porong Uwa Haeng Wulang Langkas Haeng Ntala”.
Oleh karena itu, penulis merekomendasikan kepada para guru di sekolah agar mengintegrasikan pemikiran filosofis budaya lokal (tutur lisan orang Manggarai) “Porong Uwa Haeng Wulang Langkas Haeng Ntala” dalam proses pendidikan pada setiap sataun pendidikan. Berusaha mempelajari, memahami, menghayati serta mewujudnyatakannya. Ungkapaan “Porong Uwa Haeng Wulang Langkas Haeng Ntala” menjadi salah satau rekomendasi kepada para guru lokal kabupaten Manggarai untuk menuntun anak (peserta didi) pada pencapai harapan dan cita-citanya.
Oleh; Fransikus Jamento, S.Pd
Guru di SD INpres Lareng kecamatan Ndoso - NTT
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar