Powered By Blogger

Minggu, 16 Oktober 2022

Filosofi ‘Toing, Titong, Toming’ dalam budaya Manggarai Sebagai Refleski Pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam Proses Pendidikan di Sekolah

Kekayaan budaya masyarakat Manggarai (Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur) tercermin dalam tata ruang, upacara adat, tarian dan berbagai ungkapan yang mengandung makna mendalam mengungkapan nasihat, perjuangan, harapan, doa, motivasi dan sebagainya. Salah satu ungkapan yang syarat makna akan nasihat besar terkandung dalam sederet kata yang memiliki keselarasan bunyi yaitu ‘Toing, Titong, Toming’. Ketiga ungkapan ini memiliki keterkaitan, memberikan kekuatan dan energi positif saat diwujudnyatakan dalam tindakan harian masyarakat Manggarai. Dalam tulisan ini penulis tidak menelusuri secara etimologis asal-usul serta unsur-unsur pembentuk kata ‘Toing, Titong, Toming’. Tetapi saya hanya mengambil arti dan makna untuk dijadikan bahan merefleksi sekaligus menjadikan suatu kearifan lokal (budaya) Manggarai dalam proses pembelajaran di sekolah sebagai salah satu pedoman bagi guru dalam proses pendidikan yang dikaitkan dengan pemikiran folisofis Ki Hajar Dewantara sang tokoh pendidikan nasional yang telah meletakkan dasar dan hakekat pendidikan itu sebenaranya. Secara harafiah ketiga kata ini; Toing = menasihati, mengajarkan; Titong = menjaga, melindungi, mengarahkan, mendampingi, menuntun; Toming = meniru, mengikuti, mencontohkan/memberi contoh, meneladani). Mendalami arti, maksud dan tujuan serta wujudnyata tindakan dari ketiga kata ini sudah sangat dipahami oleh masyarakat Manggarai, juga oleh para guru. Perwujudan ketiga kata ini seyogianya tidak saling lepas dalam konsep mendidik.   Oleh karenannya dalam konteks proses mendidik menekankan bahwa mengajar (toing) dan menuntun (titong) dengan cara memberi contoh/teladan (toming). Maka konsep ini dalam budaya Manggarai mengarisbawahi bahwa pemikiran filosofis dasar pendidikan yaitu Toing agu Titong le Toming (mengajar dan menuntun dengan cara meneladani). Ulasan saya dalam tulisan ini menawarkan suatu inovasi agar meletakkan filosofi budaya lokal Manggarai ‘Toing agu Titong le Toming’ sebagai salah satu hakaket pendidikan di sekolah. Penulis menawarkan inovasi ini ungkapan ‘Toing, Titong, Toming’ selaras dengan filosofi pemikiran Ki Hajar Dewanatara yang meletakkan dasar proses pendidikan dengan ungkapan ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Sehingga Toing agu Titong le Toming dapat dimaknai dalam ungkapa lain ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Jadi filosofi budaya Manggarai dan pemikiran Ki Hajar Dewantara dapat dijadikan pedoman maupun reflesi kristis, pedoman atau rambu-rambu bagi guru dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di sekolah. Penulis beralasan bahwa folisosfi Toing, Titong, Toming sebagai kerarifan lokal dapat dijadikan pedoman pendidikan di sekolah tempat saya mengabdi. Hal yang dapat dijadikan alasan yaitu : Pertama; Filosofi ungkapan toing, titong dan toming selaras folisofsi pemikiran Ki Hajar Dewanatara ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Kedua; Filosifis toing, titong dan toming selaras dengan program pemerintah khsusus (Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi) berkaiatan dengan program Merdeka Belajar. Kedua alasan ini memperkuat pemikiran saya bahwa terwujudnya program   Mederka Belajar yang juga dalamnya dijabarkan dalam program merdeka mengajar, guru penggerak, sekolah penggerak yang telah dicanangkan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi sangatlah tepat. Guru penggerak sebagai salah satu program pemerintah untuk melahirkan dan menciptakan pemimpin-peminpin pembelajaran yang menggerakkan komunitas belajar di sekolah adalah ide yang sangat cemerlang dan tepat sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh peserta didik zaman sekarang. Sebab sesuai pemikiran filosofis Ki Hajar Dewanatar selain memiliki kodrat alam, anak juga memiliki kodrat zaman. Dengan demikian penulis memberikan rekomendasi bahwa salah satu perwujudan lanjutan program guru penggerak dapat menciptakan suatu transformasi dan inovasi yaitu inkulturasi keraifan budaya lokal dalam pelaksanaan proses pendidika di sataun pendidikan. Lebih lanjut bahwa ungkapan ini bermakna sangat luar biasa sebagai refleksi kritis bagi para guru. Apakah dalam proses pembelajaran selama ini mewujudkan filosofi Toing, Titong dan Toming ? Apakah hanya berhenti pada Toing (mengajar, menasihati) ? Sudahkan Titong (mengarahakan pada jalan dan arah) yang benar? Sudahkah Guru Toming (memberi contoh/teladan) dengan menunjukkan identitas dan integritas sebagai seorang guru? Inilah pertanyan refleksi untuk kita mengevaluasi diri dan berkomitmen mengubah diri. Tentu pertanyaan ini tidak bisa dijawab begitu saja tetapi lebih penting dijadikan pedoman dalam mengevaluasi diri. Lebih dari itu sebagai motivasi untuk berkomitmen menguabah diri untuk agar dalam setiap tahapan proses pendidiakan yang dimplementasikan tugas pengabdian sebagai guru pada masa mendatang. Oleh : Fransiskus Jamento, S.Pd Guru SD Inpres Lareng - NTT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar