Powered By Blogger

Kamis, 25 Agustus 2022

1.4.a.8: Koneksi Antar Materi Modul 1.4 PENERAPAN BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH UNTUK MENDALAMAI NILAI, PERAN DAN VISI GURU PENGGERAK SEBAGAI PERWUJUDAN FILOSOFI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA (Oleh : Fransiskus Jamento, S.Pd; CGP Angkatan V Manggarai Barat) Setelah saya mempelajari modul 1.4 tentang Budaya Positif, saya menyadari bahwa budaya positif di sekolah sangatlah penting untuk mengembangkan anak-anak yang memiliki karakter yang kuat, sesuai profil pelajar Pancasila. Sebelumnya saya telah mendalami hakekat pendidikan dan guru penggerak melalui filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara, nilai-nilai peran guru penggerak dan visi guru penggerak melalui alur MERDEKA. Budaya positif yang sudah saya pelajari memberikan pengetahuan dan pemahaman akan pentingnya membangun budaya positif di sekolah sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu pendidikan yang berpihak pada murid sehingga membantu saya dalam mencapai visi guru penggerak. Saya juga memahami akan peran seorang pemimpin pada sebuah satuan pendidikan dalam menggerakkan dan memotivasi warga sekolah agar memiliki, meyakini, dan menerapkan visi atau nilai-nilai kebajikan yang disepakati, sehingga tercipta budaya positif yang berpihak pada murid. Melalui materi membangun budaya positif dengan memahami tentang lima posisi kontrol guru, lima kebutuhan dasar manusia dan penyelesaian masalah berbasis segitiga restitusi, maka saya semakin mendalami strategi menumbuhkan lingkungan yang positif. Selain itu dengan mempelajari materi tentang budaya positif di sekolah baik secara mandiri maupun melalui diskusi kelompok pada ruang kolaborasi memberikan suatu refleksi atas penerapan disiplin yang dilakukan selama ini di lingkungan sekolah saya lebih khusus berkaitan strategi yang saya lakukan dalam praktik disiplin di sekolah. Melalui modul 1.4 Budaya Positif, saya dapat mereflesikan tentang kebutuhan-kebutuhan dasar yang sedang dibutuhkan seorang murid pada saat mereka berperilaku tidak pantas, serta strategi apa yang perlu diterapkan yang berpihak pada murid. Selanjutnya saya akan mengeksplorasi suatu posisi dalam penerapan disiplin, yang dinamakan ‘manajer’ serta dengan menjalankan pendekatan disiplin yang dinamakan ‘restitusi’. Saya memahami bahwa pendekatan segitiga restitusi fokus untuk mengembangkan motivasi intrinsik pada murid yang selanjutnya dapat menumbuhkan murid-murid yang bertanggung jawab, mandiri, dan merdeka. Sebagai guru calon guru penggerak saya berperan menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep disiplin positif, motivasi perilaku manusia, posisi kontrol, pendekatan restitusi, keyakinan kelas, dan keterkaitannya dengan Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, dan visi guru penggerak. Beberapa poin penting yang saya dapat simpulkan sebagai keterkaitan antar materi yang telah saya pelajari, yaitu : 1) Budaya positif merupakan nilai - nilai positif yang diterapkan di sekolah untuk menumbuhkan motivasi intrinsik pada diri siswa yang bertanggung jawab dan berbudi pekerti yang luhur sehingga terwujud profil pelajar pancasila. Mutu dari sekolah dapat dilihat dari budaya positif yang hidup dan dikembangkan warga sekolah. Saya dan komunitas sekolah dapat menciptakan budaya positif, penerapan disiplin positif dipraktikkan untuk menghasilkan murid-murid yang berkarakter, disiplin, santun, jujur, peduli, dan bertanggung jawab sesuai dengan hakekat dan tujuan pendidikan sesuai pemikiran filosofi Ki Hajar Dewantara. 2) Budaya positif yang ada di sekolah akan membantu pencapaian visi sekolah. Untuk mewujudkan visi sekolah, peran guru yang merupakan ujung tombak kualitas pendidikan di sekolah memegang peranan penting. Saya memperoleh pengetahuan dan praktik budaya positif yang harus diwujudkan di sekolah, juga melalui budaya positif yang menjadi suatu pembelajaran bagi saya, untuk merefleksi serta memulai untuk menumbuhkan semangat menggali dan mengembangkan potensi peserta didik yang berkarakter kuat, mandiri, dan merdeka. 3) Guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang siswa secara holistik, aktif berpusat pada murid, serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil pelajar pancasila, oleh karena itu guru penggerak merupakan ujung tombak untuk menciptakan budaya positif di sekolah dengan melakukan pembiasaan - pembiasaan yang positif, disiplin positif dengan ilmu yang didapatkan dalam pendidikan guru penggerak yaitu kebutuhan dasar dari manusia, motivasi perilaku manusia, keyakinan kelas, posisi kontrol restitusi dan tahapan pada segitiga restitusi. 4) Konsep filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang berpihak pada murid dan akan diwujudkan dengan peran dan nilai guru penggerak dan guru penggerak akan menciptakan visi yang perwujudannya melalui tahapan bagja dalam pelaksanaannya harus dibarengi dengan budaya positif. Dalam menjalankan tugas sebagai seorang, saya juga adalah pemimpin pembelajaran yang dituntut untuk berjiwa kepemimpinan serta dapat mengembangkan komunitas belajar (kelas) dengan baik dengan menciptakan lingkungan yang positif sehingga terwujud suatu budaya positif. 5) Jika kita sebagai pendidik memahami dengan benar pemikiran dari Ki Hadjar Dewantara maka budaya positif di sekolah dapat tercipta dalam menuntun murid yang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Visi yang sekolah yang kita susun yang perwujudannya melalui beberapa tahapan dalam bagja dapat terwujud jika budaya positif sudah terbentuk di sekolah tersebut. Saya diberikan tugas dan tanggung jawab untuk menjadi teladan dan penggerak bagi peserta didik maupun bagi rekan guru lain di sekolah untuk secara terus menerus memajukan dan mewujudkan hakekat dan tujuan pendidikan secara nasional di tingkat satuan pendidikan. 6) Nilai dan peran guru penggerak dalam menularkan kebiasaan baik dengan guru lain dan membangun budaya positif disekolah adalah dengan membangun komunikasi yang dibarengi dengan keteladanan diri sehingga rekan guru akan mengikuti kebiasaan positif yang dilakukan oleh guru penggerak. Saya adalah agen perubahan bagi warga sekolah mendorong rekan-rekan guru untuk memiliki kesamaan visi serta nilai-nilai kebajikan yang dituju, serta berupaya mewujudkannya dalam pembelajaran yang aplikatif yang mengupayakan pemberdayaan murid agar dapat menjadi manusia yang senantiasa belajar sepanjang hayat. 7) Hal perlu digarisbawahi agar saya dapat menerapkan budaya positif di sekolah melalui tindakan memilih posisi kontrol yang tepat, yakni sebagai teman dan manajer dalam menyelesaikan masalah yang ditemukan di sekolah. Membiasakan diri menerapkan segitiga restitusi, dalam tiap penyelesaian masalah serta mengarahkan motivasi siswa dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Jadi, pendidikan yang berpihak pada murid sebagai hakekat pendidikan beradasarkan filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dapat diwujudakn dalam salah satu tindakan mernerapkan budaya positif di lingkungan positif sebagai praktik agar menciptakan murid dengan profil pelajar Pancasila. Guru penggerak sebagai agen sentral dalam melakukan terobosan melaui penerapan nilai dan peran sebagai guru membangun budaya positif dengan menerapkan konsep disiplin positif dalam berinteraksi dengan murid sehinggan visi guru penggerak melalu alur BAGJA di sekolah dapat direalisaikan sebagai perwujudan konkrit filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang berpihak pada murid dan pengembangan potensi murid sesuai kodrat agar memproleh kebahagiaan yang setinggi tingginya. Memahami konsep pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara dihubungkan dengan konsep budaya dan lingkungan positif di sekolah yang berpihak pada murid. Melakukan evaluasi dan refleksi tentang praktik disiplin dalam pendidikan Indonesia secara umum untuk mendapatkan pemahaman baru mengenai konsep disiplin positif untuk menciptakan murid dengan profil pelajar pancasila. Memahami peran sebagai guru untuk membangun budaya positif dengan menerapkan konsep disiplin positif dalam berinteraksi dengan murid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar